Monday, December 29, 2014

Hadits Maudhu'

BAB I
PENDAHULUAN

Di dalam Islam, hadits merupakan sumber syariat kedua setelah al-Qur'an. Sebagai seorang muslim, tidak ada keharusan bagi kita untuk meyakini bahwa semua hadits adalah shahih. Namun, tidak dibenarkan pula menganggap bahwa semua hadits adalah palsu atau bukan bersumber dari Nabi Muhammad saw sebagaimana tuduhan para orientalis. Hal demikian karena pada kenyataannya, terdapat hadits yang berstatus shahih, hasan, dha'if dan bahkan maudhu' (palsu), tergantung pada kualitas dan kuantitas para periwayatnya.

Sejarah mencatat bahwa kemunculan hadits maudhu’ ini disebabkan oleh  pertentangan politik yang terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib yang berujung pada pembuatan hadits-hadits palsu oleh berbagai kelompok. Tujuannya tak lain adalah untuk mengalahkan lawan dan memengaruhi orang-orang tertentu. Akibat perpecahan politik itu, hampir setiap golongan yang saling bersebrangan membuat hadits maudhu’ untuk memperkuat golongan mereka masing-masing. Oleh karenanya, penelitian perihal hadits maudhu’ ini harus selalu dilakukan demi menjaga sabda-sabda Nabi saw dari kecacatan atau berbagai kemungkinan negatif lainnya.

Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan satu pembahasan tentang hadits maudhu', yang mana meliputi: definisi hadits maudhu', sejarah dan faktor-faktor kemunculannya, karakteristik dan yang lainnya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Hadits Maudhu’

Secara etimologi, kata maudhu’ merupakan isim maf’ul dari kata kerja "وضع - يضع - وضعا - موضوعا", yang mana memiliki beberapa makna, yaitu: 1) menggugurkan (al-isqath), seperti kalimat "وضع الجناية عنه" (hakim menggugurkan hukuman dari seseorang); 2) meninggalkan (al-tarku), misalnya yang terdapat pada ungkapan "إبل موضوعة" (unta yang ditinggalkan di padang rumput); 3) mengada-ada dan membuat-buat (al-iftira’ wa al-ikhtilaq), seperti kalimat "وضع فلان هذه القصة" (si fulan membuat-buat dan mengada-ada kisah ini).[1] Disebut demikian karena kerendahan derajatnya yang tidak bisa disamakan dengan aslinya.[2]
Adapun kata maudhu’ dalam terminologi ulama hadits, yaitu:
مَا نُسِبَ إِلَى رَسُوْلِ اللّه صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إخْتِلاَقًا وَ كِذْبًا مِمَّا لَمْ يَقُلْهُ  أَوْ يَفْعَلْهُ أَوْ يُقَرَّهُ. [3]وقال بعضهم: الْمُخْتَلَعُ الْمَصْنُوْعُ.[4]
Sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah saw secara dibuat-buat dan dusta, tentang apa yang tidak beliau katakan, kerjakan dan tetapkan.” Sebagian ulama mengatakan: “Hadits yang diciptakan dan dibuat-buat”.
هو الحديث المكذوب المختلق على رسول الله صلى الله عليه وسلم...[5]
“hadits yang didustakan dan dibuat-buat (disandarkan) atas Rasulullah saw…”
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits maudhu’ adalah hadits palsu yang dibuat oleh seseorang dan disandarkan kepada Rasulullah saw secara dusta, padahal pada kenyataannya hadits tersebut bukan berasal dari perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah saw, serta tidak bersandar kepada Allah swt.

B.  Faktor-faktor Ke-Maudhu’-an

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan munculnya hadits maudhu’, antara lain sebagai berikut.

1.    Polemik Perpolitikan (al-ahzab al-siyasah)

Gejolak perpolitikan ini muncul pasca terjadinya fitnah terhadap khalifah Utsman bin Affan hingga beliau mati dibunuh oleh para pengikut Imam Ali (Syi’ah). Muawiyah menuntut diusutnya kematian khalifah Utsman sampai terjadilah Perang Shiffin, perang antara Muawiyah dengan pengikut Ali yang kemudian memunculkan kelompok baru, yakni Khawarij.[6] Nur al-Din ‘Ithr menambahkan bahwa kemunculan hadits maudhu’ disebabkan oleh perselisihan tentang siapa yang lebih berhak menjadi khalifah setelah khalifah Utsman, antara Ali dan Muawiyah. Masing-masing kelompok mengklaim pemimpin dari kabilah merekalah yang paling berhak.[7]
Untuk itu, demi mendukung kekuasaan Ali, kelompok Syi’ah membuat banyak membuat hadits maudhu’, di antaranya:
وصيي، وموضع سري، وخليفتي فى أهلي، وخير من أخلف بعدي علي.
“Wakilku, gudang rahasiaku, penggantiku di keluargaku, dan sebaik-baik orang yang menggantikanku, adalah Ali.”[8]
Adapun dari pihak Muawiyah juga membuat hadits maudhu’, misalnya:
الأمناء ثلاثة: أنا وجبريل ومعاوية.
“Orang yang paling terpercaya ada tiga: Aku, Jibril dan Muawiyah.”[9]

2.    Merusak Ajaran Islam (al-‘ada` lil islam)

Golongan yang termasuk kepada kelompok ini yaitu: Zindiq, Yahudi, Majusi dan Nasrani yang senantiasa menyimpan dendam terhadap Islam. Akibat dari ketidak-mampuan mereka melawan kekuatan Islam secara terbuka, mereka mengambil jalan pintas untuk merusak ajarannya. Untuk itu, mereka menciptakan sejumlah besar hadits maudhu’ dengan tujuan untuk merusak ajaran Islam.[10] Adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Agama Islam, dan dia berani menciptakan hadits maudhu’ pada saat banyak sahabat utama masih hidup.
يَنْزِلُ رَبُّنَا عَشِيَّةً عَلَى جَمَلٍ اَوْرَقٍ يُصَافِحُ الرُّكْبَانَ وَ يُعَانِقُ الْمُشَاةَ
Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah dengan bekendaraan Unta kelabu, sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang sedang berjalan”.[11]
Tokoh-tokoh yang berperan dalam membuat hadits maudhu’ dari kalangan Zindiq, yaitu: Abdul Karim bin Abi al-Auja yang membuat sekitar 4.000 hadits maudhu’ tentang hukum halal-haram, kemudian Muhammad bin Sa’id al-Mashubi yang akhirnya dibunuh oleh Abu Ja’far al-Manshur, serta Bayan bin Sam’an al-Mahdi yang akhirnya dihukum mati oleh Khalid bin Abdillah.[12]

3.    Fanatisme Kesukuan, Negara dan Imam

Sebagian besar petinggi-petinggi dari Bani Umayyah mempercayakan urusan administrasi kenegaraan kepada bangsa Arab secara khusus. Hal ini yang menyebabkan mereka sangat fanatik kepada bangsa tersebut, sehingga bangsa-bangsa di luar Arab—seperti kaum Mawali yang berasal dari Persia—merasa terpinggirkan. Untuk itu, kaum Mawali pun melakukan gerakan pemberontakan demi menuntut persamaan antara mereka dengan bangsa Arab. Di antara hadits maudhu’ yang dikarang oleh kaum Mawali adalah tentang keutamaan bahasa Persia:
إن كلام الذين حول العرش بالفارسية...
“Sesungguhnya bahasa yang digunakan di ‘arsy adalah bahasa Persia…”[13]

4.    Mengharapkan kebaikan tanpa dasar Agama

Orang shalih dan zuhud melihat bahwa manusia telah banyak menyibukkan diri dengan hal keduniawian, karena itu mereka memalsukan hadits-hadits tentang amalan-amalan untuk menarik minat mereka dalam mendekatkan diri pada Allah swt. Di antara hadits yang mereka buat adalah tentang keutamaan surat-surat, baik satu surat lengkap maupun hanya beberapa lembaran saja. Ketika salah seorang dari mereka (shalih dan zuhud) ditanya: “min aina ji’ta bi hadzihil ahadits: man qara`a kadza falahu kadza? (dari mana kamu dapatkan hadits-hadits ini: barang siapa membaca ini maka ia akan mendapatkan ini?) Ia menjawab: wadha’tuha uraghibun nas fiha (saya membuatnya untuk mengajak mereka mengamalkannya).[14]

5.    Perbedaan Mazhab dan Teologi

Sebagaimana terjadi pada pergolakan politik di kalangan berbagai golongan (Syi’ah, Khawarij dll), para pengikut mazhab dan kalam pun melakukan pemalsuan atas hadits-hadits Nabi saw. Hal demikian dilakukan untuk menguatkan mazhab-mazhab yang mereka ikuti. Sebagaimana hadits berikut:
من رفع يديه فى الركوع فلا صلاة له.
“Barang siapa yang mengangkat kedua tangannya dalam ruku’, maka tiada shalat baginya.”[15]

6.    Pengarang Cerita (al-Qashshashun)

7.    Mencari Kedudukan dan Hadiah

Seperti kisah Ghiyats bin Ibrahim al-Nakha’i yang datang kepada Amirul Mukminin al-Mahdi yang sedang bermain merpati. Kemudian al-Nakha’i menyebutkan hadits dengan sanadnya secara berturut-turut kepada Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda:
لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِيْ نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ أَوْ جَنَاحٍ
Tidak ada perlombaan kecuali dalam anak panah, ketangkasan, menunggang kuda, atau burung yang bersayap.
Al-Nakha’i menambahkan kalimat ‘atau burung yang bersayap’ demi untuk menyenangkan al-Mahdi, al-Mahdi lalu memberinya uang sepuluh dinar. Setelah al-Nakha’i berpaling, al-Mahdi berkata: Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah saw. Kemudian al-Mahdi memerintahkan pengawalnya untuk menyembelih burung itu.[16]

C.  Indikator Ke-Maudhu’-an Hadits

Sebuah hadits dikatakan maudhu’, dapat diketahui dari dua aspek yakni sanad dan matan. Berikut ini adalah penjelasannya:
1.    Ciri-ciri yang terdapat pada Sanad[17]

a.    Periwayatnya terkenal sebagai seorang pendusta dan tidak ada seorang periwayat pun yang yang meriwayatkan hadits darinya.
b.    Pengakuan dari si pembuat hadits sendiri, seperti pengakuan seorang guru tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat al-Qur’an, ia menjawab: “tidak seorang pun yang meriwayatkan hadits ini kepadaku. Akan tetapi, kami melihat manusia membenci al-Qur’an, kami ciptakan untuk mereka hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat al-Qur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai al-Qur’an.”
c.    Secara historis, antara periwayat dengan orang yang diaku sebagai gurunya tidak mungkin bertemu.[18]

2.    Ciri-ciri yang terdapat pada Matan[19]

a.    Keburukan susunan lafaz hadits. Hal ini dapat diketahui oleh seorang yang ahli dalam ilmu bahasa Arab, karena tidak sesuai dengan fashahahnya.
b.    Kerusakan yang terdapat pada maknanya.
c.    Bertentangan dengan al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’ ulama. Seperti hadits berikut yang bertentangan dengan al-Qur’an:
وَلَدُ الزِّنَا لاَيَدْ خُلُ الجَنَّةَ إِلَى سبْعَةِ أبْنَاءٍ
Anak zina itu tidak dpat masuk syurga sampai tujuh turunan.
Makna hadits di atas bertentangan dengan kandungan QS. al-An’am: 164:
وَلاَتَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَأُخْرَى
d.    Hadits tersebut menjelaskan persekongkolan para sahabat Nabi saw dalam menyembunyikan sesuatu.
e.    Menyalahi fakta sejarah yang terjadi pada masa Nabi saw.
f.      Cenderung memihak kepada mazhab si periwayat, dan lain-lain.

D.  Hukum Periwayatan Hadits Maudhu’

Umat Muslimin menyepakati akan keharaman pemalsuan hadits secara mutlak. Sebaliknya, aliran Kiramiyah membolehkannya dalam wilayah targhib wa tarhib tanpa mengaitkannya dengan hukum pahala (tsawab) dan siksa (adzab). Namun, sekali lagi, bahwa umat Islam seluruhnya sepakat bahwa hadits maudhu’ tertolak apapun alasannya karena tidak ada dasar naqlinya. Bahkan Nabi saw pun mengancam dalam sabdanya:[20]
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار
Barangsiapa berdusta terhadapku, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya dalam neraka.
Mereka juga sepakat bahwa berdusta termasuk kepada dosa besar (al-kaba’ir), dan bahkan semua ulama hadits pun menolak riwayat dari seorang pendusta terhadap Nabi saw, serta mengkafirkannya. Sebagaimana para ulama mengharamkan pembuatan hadits palsu (maudhu’), periwayatannya juga diharamkan jika tanpa menjelaskan letak maudhu’ dan dustanya. Mereka tidak membolehkan riwayat apapun darinya, baik itu dalam cerita-cerita maupun dalam targhib wa tarhib. Nabi saw bersabda:[21]
مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
"Barangsiapa menceritakan hadits dariku, yang mana riwayat itu diduga adalah kebohongan, maka dia (perawi) adalah salah satu dari para pembohong tersebut.”
Adapun periwayatan hadits maudhu’ dengan menjelaskan keadaannya diperbolehkan.

E.   Kitab-kitab yang Memuat Hadits-Hadits Maudhu’

Sebenarnya, hadits-hadits maudhu’ tidak hanya terdapat pada kitab-kitab yang notabene kitab hadits, namun kadang terdapat pula pada kitab-kitab lain, seperti: kitab tarikh, asma’ al-shahabah, tawarikh al-rijal wa ahwalihim, thabaqat al-ruwat, al-jarh wa al-ta’dil, dan lainnya. Di antara kitab-kitab tersebut yaitu:
1.    Tadzkirat al-Maudhu’at karangan Fadl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi (448-507 H)
2.    Al-Maudhu’ath al-Kubra karangan al-Farj Abd al-Rahman bin al-Jauzi (508-597 H)
3.    Al-Ba’its ‘ala al-Khallash min Hawadits al-Qishash karangan al-Hafidz Zain al-Din Abd al-Rahman al-Iraqi (725-806 H)
4.    Al-Lali` al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah karangan al-Hafidz Jalal al-Din al-Suyuthi (849-911 H)
5.    Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Ahbar al-Syani’ah al-Maudhu’ah karangan Abu al-Hasan Ali bin Muhammad (w. 963)
6.    Al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah karangan al-Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ali al-Syaukani (1173-1255 H)
7.    Al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan katsir min al-Ahadits al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah karangan Muhammad bin Abd al-Rahman al-Sakhawi (831-902 H)[22]
8.    Al-Maudhu’at fi al-Ahadits al-Marfu’at karangan al-Jauzuqi (543 H)
9.    Al-Mughni ‘an al-Hifdzi wa al-Kitab karangan Dhiya’ al-Din al-Muwashali (623 H)
10.          Al-Ahadits al-Maudhu’ah allati yarwiha al-‘Ammah wa al-Qashshash karangan Abd al-Salam bin Taimiyahal-Harrani (950 H)[23]
11.          Dan lainnya.



BAB III
PENUTUP

Hadits maudhu’ adalah segala sesuatu yang tidak pernah keluar dari diri Nabi saw, baik perkataan, perbuatan maupun ketetapan, tetapi disandarkan kepada beliau secara sengaja atau pun tidak sengaja. Sebagian ulama mendefinisikan hadits maudhu’ dengan “hadits yang dibuat dan diciptakan oleh seorang pendusta yang ciptaannya itu dikatakan sebagai kata-kata atau perilaku Rasulullah saw, baik hal tersebut disengaja maupun tidak”.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya hadits maudhu’, yaitu: (1) polemik politik, (2) keinginan untuk merusak ajaran Islam seperti yang dilakukan kaum Zindiq yang sangat membenci Islam, baik sebagai agama ataupun sebagai dasar pemerintahan, (3) fanatisme mazhab, kesukuan dan pemimpin, (4) menjilat kepada penguasa agar mendapat kedudukan atau hadiah, serta (5) targhib wa tarhib.



DAFTAR PUSTAKA

Bakkar, Muhammad Mahmud. Asbab Radd al-Hadits wa ma yantiju ‘anha min anwa’in. Riyadh: Dar Thayyibah lin Nasyri wa al-Tauzi’, 1997.
‘Ithr, Nur al-Din. Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits. Damaskus: Dar al-Fikr, 1981.
Khathib, Muhammad ‘Ajjaj al-. ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu. Damaskus: Dar al-Fikr: 1971.
Khumaisi, Abd al-Rahman bin Ibrahin al-. Mu’jam ‘Ulum al-Hadits al-Nabawi. Jeddah: Dar al-Andalus al-Khadhra’, 1419 H.
Qaththan, Manna al-. Mubahits fi Ulum al-Hadits, terj. Mifdhol Abdurrahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005.
Rahman, Fathur. Ikhtisar Musthalah al-Hadits. Bandung: al-Ma’arif, 1974.
Rayah, Mahmud Abu. Adhwa’ ‘ala Sunnah al-Muhammadiyyah. Mekah: Dar al-Ma’arif, 1997.
Syahrzawari, Abu Amru Utsman bin Abd al-Rahman al-. ‘Ulum al-Hadits li Ibn Shalah. Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1986.
Thahhan, Mahmud al-. Taisir Musthalah al-Hadits. Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1979.









[1] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu (Damaskus: Dar al-Fikr: 1971), hlm. 415.
[2] Abd al-Rahman bin Ibrahin al-Khumaisi, Mu’jam ‘Ulum al-Hadits al-Nabawi (Jeddah: Dar al-Andalus al-Khadhra’, 1419 H), hlm. 238. Bandingkan dengan, Muhammad Mahmud Bakkar, Asbab Radd al-Hadits wa ma yantiju ‘anha min anwa’in (Riyadh: Dar Thayyibah lin Nasyri wa al-Tauzi’, 1997), hlm. 118.
[3] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 415. Lihat juga, Mahmud Abu Rayah, Adhwa’ ‘ala Sunnah al-Muhammadiyyah (Mekah: Dar al-Ma’arif, 1997), hlm. 199.
[4] Abu Amru Utsman bin Abd al-Rahman al-Syahrzawari, ‘Ulum al-Hadits li Ibn Shalah (Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1986), hlm. 98.
[5] Abd al-Rahman bin Ibrahin al-Khumaisi, Mu’jam ‘Ulum al-Hadits al-Nabawi, hlm. 238.
[6] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 417.
[7] Nur al-Din ‘Ithr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits (Damaskus: Dar al-Fikr, 1981), hlm. 302.
[8] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 417.
[9] Nur al-Din ‘Ithr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits…, hlm. 302.
[10] Mahmud al-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1979), hlm. 91. Lihat juga, Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 421.
[11] Fathur Rahman, Ikhtisar Musthalah al-Hadits (Bandung: al-Ma’arif, 1974), hlm 177.
[12] Fathur Rahman, Ikhtisar Musthalah al-Hadits, hlm 179.
[13] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 422-423.
[14] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 425-426.
[15] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 426.
[16] Manna al-Qaththan, Mubahits fi Ulum al-Hadits, terj. Mifdhol Abdurrahman (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), hlm.147. lihat juga, Muhammad Mahmud Bakkar, Asbab Radd al-Hadits..., hlm. 130-131.
[17] Lihat selengkapnya, Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 432-433.
[18] M. Hasbi Ash-Shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, hlm. 238.
[19] Lihat selengkapnya, Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 433-437.
[20]  Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 427.
[21] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 428.
[22] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 437-438.
[23] Muhammad Mahmud Bakkar, Asbab Radd al-Hadits..., hlm. 140-141.

Wednesday, December 24, 2014

3 Pilar Keteladanan Keluarga Ibrahim AS

Oleh: Eed Hudaibillah, S.Th.I

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر x٩... الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا، لاإله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وحزم الأحزاب وحده، لاإله إلاالله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون، لاإله إلا الله الله اكبر، الله اكبر ولله الحمد...
الحمد لله الذي أمر رسوله بالنحر يوم عيد الأضحى، لترقية الإيمان والتقوى إلى الله عز وجل، وهو مالك الدنيا الفناء. اصلى صلاة واسلم سلاما على خير خلق الله المصطفى، محمد صلى الله عليه وآله وسلم وهو المبعوث الى آفاق الدنيا، ليعلم الناس بأيات الله الحسنى. اما بعد:
فيا عباد الله السابقين الى الهدى! أوصيني وإياكم بالتقوى الى معطى الهدى فقد فاز من اهتدى. أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى... (البقرة: 197)
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحوها وخالق الناس بخلق حسن (الحديث)
صدق الله العظيم وصدق رسوله النبي الكريم ونحن على ذلك من الشاهدين والحمد لله رب العالمين.

Alhamdulillah... Untaian puja dan kalimat cinta nan mulia, marilah kita sanjungkan ke hadirat Allah ta’ala, atas karunia dan keluasan kasih sayang-Nya kita dapat berkumpul di masjid ini untuk menunaikan shalat sunah Hari Raya ‘Iedul Adha berjamaah. Rahmat dan keselamatan semoga tetap dilimpahkan kepada Pendiri Panji Agama Islam, Sang Cahaya di atas Cahaya, dialah Nabi Muhammad saw, Sang manusia pilihan yang sangat kita nanti-nanti syafa’atnya di akhirat kelak.
Khatib berwasiat khusus kepada diri khatib sendiri dan umumnya seluruh jama’ah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kepada Allah ta’ala, takwa yang menurut Sang Hujjatul Islam, Imam Ghazali: imtitsaal awaamirillaah wa ijtinaab nawaahih, yaitu sebuah ketundukkan dan ketaatan terhadap perintah Allah swt dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Takwa inilah yang mampu membuka kenikmatan surganya Allah swt.
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied rahimakumullah!
Tidak terasa, lantunan takbir, tahmid, tasbih dan tahlil dapat kita dengar dan kumandangkan kembali di tahun yang penuh dengan nuansa kesenangan, kemenangan dan Kemahaagungan Allah swt. Oleh karena itu, kalimat syukur alhamdulillah, selayaknya selalu kita dawamkan di setiap helaan nafas kita. Jangan sampai ada satu tarikan nafas pun yang luput dari memuji dan berdzikir kepada Allah swt. Akan tetapi, ungkapan pujian dan dzikir seakan tak berarti jika substansi yang terkandung di dalamnya tidak bisa terrefleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Na’udzubillah…
Sebagaimana kita maklumi bersama, bahwa ajaran Islam nan mulia ini memiliki dua perayaan keagamaan yang disyari’atkan oleh Rasulullah saw, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua perayaan tersebut merupakan dua puncak kemenangan dan kebahagiaan setelah ditunaikannya dua bentuk kewajiban kepada Allah swt. Hari Raya Idul Fitri adalah puncak dari serangkaian ibadah puasa dan ibadah sunah lainnya satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Adapun Hari Raya Idul Adha merupakan puncak dari serangkaian ibadah haji dan ibadah sunah lainnya yang kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban bagi mereka yang mampu secara finansial. Dalil pensyari’atan berkurban ini termaktub dalam Surat Al-Kautsar, yaitu:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS. Al-Kautsar: 1-3)
Berkaca pada ayat di atas, ibadah kurban sebenarnya diwajibkan kepada Nabi Muhammad saw dan umatnya, sebagaimana terlihat pada ayat kedua yang menggunakan kata kerja amar (yaitu: wanhar) sebagai petanda dari kewajiban dilaksanakannya ibadah tersebut. Hal demikian didasarkan pada kaidah ushul fikih, al-ashlu fil-amri lil wujub, artinya: asal dari perintah adalah wajib sampai ada dalil yang menghukumi akan ketidakwajibannya. Lalu, munculah hadis Nabi saw yang menghukumi menjadi ibadah sunah bagi umat Islam dan wajib hanya pada diri Nabi saw saja, sebagaimana sabda beliau saw:
أمرت بالنحر وهو سنة لكم. (رواه الترمذي)
Aku diperintahkan untuk menyembelih kurban, sedang kurban bagi kamu adalah sunah. (HR. tirmidzi)
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied rahimakumullah!
Teramat besar hikmah keteladanan yang terkandung dan dapat dipelajari dalam pensyari’atan ibadah kurban ini. Sejarah Islam mencatat, bahwa ibadah kurban merupakan tapak tilas dari ketaatan seorang hamba yang mulia, Nabi Ibrahim AS, kepada Rabb-nya. Tidak semata dari Nabi Ibrahim AS kita dapat menimba keteladanan yang berharga, namun dari Nabi Ismail AS beserta Siti Hajar pun kita dapat pelajaran yang harus diteladani sebagai seorang anak dan istri. Maka tak heran jika Allah swt memberi penghargaan pada keluarga Ibrahim AS sebagai keluarga teladan menurut versi al-Qur’an, sebagaimana terabadikan dalam firman-Nya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ...
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia… (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Pertama: Keteguhan Iman Nabi Ibrahim AS dari Pra-Pasca diangkat menjadi  Rasulullah
Kita tahu bahwasanya Ibrahim muda dilahirkan dan tumbuh di lingkungan masyarakat yang sangat mencintai dan menghargai seni pahat atau seni membuat patung. Bahkan sang ayah Ibrahim sendiri, yakni Azar, adalah salah satu pembuat patung terkemuka di masanya. Alhasil, karena kecintaan mereka terhadap seni tersebut, sehingga Tuhan pun dipersonifikasikan dengan benda yang mereka ciptakan sendiri, yakni berhala sebagai sesembahan mereka.
Di tengah budaya seperti itu, Ibrahim muda dengan fitrah insaniyahnya yang masih lurus dan akal yang sehat pun bangkit menggugat dan melakukan peninjauan ulang. Dengan mengamati fenomena alam, Ibrahim melakukan dialog untuk mencari kebenaran sejati. Dari pengamatan terhadap fenomena alam yang terjadi, Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan bukanlah seperti apa yang dipersonifikasikan dalam bentuk benda-benda, semisal berhala yang dibuat oleh umatnya, ataupun bulan, bintang dan matahari sekalipun, ia yakini bukan Tuhan yang sebenarnya.
Allah swt berfirman:
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76) فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang2 yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-An’am: 75-79)
Begitupun, saat Nabi Ibrahim AS diangkat menjadi nabi dan rasul untuk menyeru kepada umatnya, ia tak hentinya diuji oleh Allah swt, yang pada saat itu ia diperintah melalui mimpi untuk menyembelih putera sematawayangnya, yakni Ismail AS. Ayah mana yang tega dan berani menyembelih anaknya sendiri dalam keadaan hidup?! Namun, di sinilah letak keteguhan iman sang Ibrahim AS sehingga kemudian ia diberi gelari Khalilullah, Kekasih Allah. Setelah mimpi itu disampaikan pada sang anak, tanpa keraguan sedikit pun mereka berdua hendak menjalankan titah Allah tersebut.
Pertanyaan yang muncul, mampukah kita mengorbankan harta yang kita miliki atau bahkan keluarga yang kita cintai demi ketaatan kepada Allah swt? Ironisnya, jangankan untuk mengorbankan anak dan keluarga, terkadang untuk mengisi kotak infaq pun kita enggan. Na’udzubillah!
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied rahimakumullah!
Kedua: Ketaatan Seorang Siti Hajar dalam Menaati Perintah Suami
Banyak riwayat dan kitab-kitab sejarah yang mengabadikan sosok mulia dari seorang Siti Hajar sebagai istri Ibrahim sang Khalilullah, bahkan al-Qur’an pun merekam suatu masa tatkala ia ditinggalkan  oleh sang suami, Nabi Ibrahim AS, di sebuah lembah berbatu dan tidak mempunyai tanam-tanaman. Tak hanya itu, lembah tersebut tak ubahnya bagaikan padang pasir tanpa pasokan air sedikit pun. Namun, atas ijin Allah swt dan dengan kegigihan iman Siti Hajar, ia bolak-balik di antara bukit shafa dan marwah untuk mencari sumber air, sehingga akhirnya proses itu dijadikan sebagai rukun dari ibadah haji.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)
Dengan penuh kepercayaan, Siti Hajar mengiringi kepergian suaminya itu seraya berkata: Ya Ibrahim, aina tadzhab? (Wahai Ibrahim, kemana engkau pergi?) Namun Nabi Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Kemudian, Siti Hajar berkata lagi: allahulladzi amaraka bi hadza? (Apakah Allah yang memerintahkan ini?) Nabi Ibrahim menjawab: na’am (Iya). Maka, dengan senyuman merekah Siti Hajar berucap: Jika demikian, Allah swt pasti tidak akan menyia-nyiakan kami. Inilah bukti keshalehahan seorang istri Nabi yang taat kepada Tuhannya.
Pertanyaan yang muncul, sudahkah kita mendidik dan membekali istri-istri kita dengan keimanan dan ketakwaan yang kokoh pada Allah swt? atau bahkan, kita sendiri tidak memiliki dua point itu? Jadikanlah petanyaan ini sebagai motivator kita untuk berupaya lebih keras dalam mendidik akhlak istri kita agar patuh dan menerima terhadap ketentuan yang telah Allah swt berikan.
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied rahimakumullah!
Ketiga: Keshalehan Seorang Ismail AS dengan Kebaktiannya kepada Orang Tua dan Tuhannya
Pendidikan tauhid yang Nabi Ibrahim AS ajarkan pada anaknya, Ismail AS, tidak sia-sia. Terbukti saat Ismail AS diberitahukan perihal mimpi sang ayah untuk menyembelih dirinya, ia tidak menampik sedikit pun. Ismail AS pun berkata pada ayahnya, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat: 102)

Subhanallah! Betapa taatnya Nabi Ismail AS kepada perintah Allah swt sebagai Rabb-nya, sehingga ia rela disembelih hidup-hidup tanpa kekhawatiran sedikit pun. Oleh karena itu, atas keikhlasannya dalam menaati perintah-Nya, Allah swt pun mengganti Ismail AS dengan seekor hewan kurban. Nabi Ismail AS pun selamat dan lulus dari ujian itu. Semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita keturunan yang shaleh. Amin Ya Rabb!
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Ash-Shaffat: 100)

Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied rahimakumullah!
Marilah kita bermunajat kepada Allah swt agar kita selalu dibimbing untuk meneladani keluarga Ibrahim AS. Mari kita angkat tangan kita, tundukkan kepala kita, pejamkan mata kita dan khusyu’kan hati kita. Yakinilah bahwa Allah swt semata yang mampu memberikan kemaslahatan pada kita, dan hanya Allah jualah yang mampu memberikan madharat dalam hidup dan mati kita. Hilangkan rasa iri, dengki, hasud, sombong dan penyakit hati lainnya. Kita hanyalah makhluk tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak-Nya.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضي الحاجات. اللهم اغفر لنا ذنوبنا وذنوب والدينا وارحمهم كما ربونا صغارا. اللهم اجعل جمعنا هذا جمعا مرحوما، واجعل تفرقنا من بعده تفرقا معصوما، ولا تدع فينا ولا معنا شقيا ولا محروما. اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى، ونعوذبك من جهل البلاء ودرك الشقاء وسوء القضاء وشماتة الأعداء. اللهم انصر الإسلام والمسلمين واهلك الكفرة والمشركين ودمر أعداءك أعداء الدين. ربنا تقبل منا انك انت السميع العليم. وتب علينا انك انت التواب الرحيم. وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وبارك وسلم. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين. الفاتحة........