A. Pendahuluan
Sebagai sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an,
hadits memiliki fungsi strategis dalam kajian-kajian keislaman. Namun karena
pembukuan hadits baru dilakukan dalam rentan waktu yang cukup lama sejak
meninggalnya Nabi saw, ditambah kenyataan sejarah bahwa hadits pernah
dipalsukan, maka orisinalitas hadits yang beredar di kalangan umat Islam patut
diteliti. Di sisi lain, kenyataan sejarah tersebut juga sering dijadikan celah
oleh musuh-musuh Islam untuk merongrong akidah umat agar berpaling dari hadits.
Terlebih diketahui bahwa lingkungan hidup Nabi saw saat itu kurang akrab dengan
budaya tulis-menulis. Untuk itu, keabsahan dan orisinalitas hadits yang ada
memang harus diteliti.
Para ulama salaf, sejak masa-masa awal Islam
telah menunjukkan dedikasi untuk melakukan penelitian dan seleksi ketat
terhadap hadits Nabi. Hal itu dimaksudkan untuk melestarikan hadits Nabi
sebagai sumber orisinal ajaran agama. Untuk tujuan itu, mereka menciptakan
seperangkat kaidah, norma dan metode yang kemudian dibakukan oleh ulama khalaf.
Tanpa pemahaman ‘paripurna’ terhadap kaidah, norma dan metode tersebut, sulit
bagi seseorang untuk mengetahui orisinalitas dan keabsahan hadits Nabi.
Dalam makalah ini, penulis akan membahas tokoh-tokoh
yang berperan penting dalam pengembangan hadits dan ilmu hadits dari masa
sahabat kecil sampai atba’u tabi’in. Kajian tersebut meliputi biografi
tokoh, rihlah keilmuan, karya-karya yang dihasilkan, serta aspek
lainnya. Meskipun begitu, kajian terhadap tokoh-tokoh hadits beserta
karya-karyanya tidak mungkin dibahas semuanya secara mendetail dalam makalah
ini, karena keterbatasan waktu. []
B. Tokoh - Tokoh Hadits dan Ilmu Hadits
1.
Abu Hurairah (19 SH -
59 H)
Beliau bernama
Abdullah bin Shakhr al-Dawsi al-Yamani. Namanya di masa jahiliyah adalah ‘Abd
Syams, lalu Rasulullah saw menamainya ‘Abd al-Rahman yang lebih dikenal dengan nama
panggilan (kunyah) Abu Hurairah. Ketika ditanya mengapa ia
digelari Abu Hurairah, ia menjawab: “saya diberi gelar tersebut karena suatu
ketika saya menemukan seekor kucing (hirrah), lalu saya membawanya di dalam
pakaian saya, dan dari sanalah kemudian saya dipanggil Abu Hurairah”.
Semasa kecil, Abu Hurairah menggembalakan kambing milik keluarganya dan bermain
bersama kucingnya. Dikatakan bahwa sebenarnya ia tidak suka dipanggil dengan
nama Abu Hurairah, karena Nabi sendiri memberinya gelar Abu Hirrin.[1]
Abu Hurairah hijrah
dari Yaman ke Madinah pada malam penaklukkan Khaibar, yaitu tahun 7 H. Ia telah
masuk Islam di Yaman di bawah bimbingan Thufail bin ‘Amru. Sesampainya di
Madinah, ia shalat shubuh di belakang Siba’ bin ‘Arqathah yang oleh Rasulullah
saw dijadikan sebagai gubernur Madinah selama Perang Khaibar.[2] Beliau adalah
seorang yang paling kuat hafalannya dalam meriwayatkan suatu hadits, meskipun
intensitas kebersamaan beliau dengan Nabi saw amat sedikit, ini dikatakan Imam
Syafi’i dan yang lainnya. Hal demikian terjadi karena beberapa faktor, yaitu:[3]
(1)
Ketekunan Abu Hurairah sendiri dalam menghadiri setiap
majelis Nabi saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dan yang lainnya,
Abu Hurairah berkata: “Kalian beranggapan bahwa Abu Hurairah (maksudnya
dirinya sendiri) banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah
Shallallahu'alaihiwasallam dan Allah sajalah yang memberi janji, aku adalah
seorang miskin yang selalu menyertai Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam
dengan perut cukup berisi makanan pokok saja, kaum muhajirin selalu disibukkan
oleh perdagangan di pasar-pasar sedang orang anshar disibukan oleh pengelolaan
hartanya, maka suatu hari kusaksikan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam
bersabda: 'Siapa yang mau membentangkan kainnya hingga aku menuntaskan ucapanku
kemudian ia menggenggamnya dan tidak akan pernah lupa terhadap sesuatu yang ia
dengarkan dariku? Spontan aku hamparkan kain yang ada padaku, Demi Dzat yang
mengutusnya dengan kebenaran, aku tak pernah lagi melupakan suatupun yang aku
dengar darinya.”[4]
(2)
Hasrat yang amat besar yang dimiliki Abu Hurairah
dalam mencari ilmu sehingga memperoleh do’a dari Nabi saw agar ia (Abu
Hurairah) tidak pernah lupa akan ilmunya. Ia pun melampaui teman-teman semasanya
dalam memperoleh hadits Nabi saw, padahal ia hanya menemani Nabi selama 3 tahun
(pendapat lain mengatakan 4 tahun).[5]
(3)
Abu Hurairah mendekati para sahabat senior (kibar
al-shahabah) dan menimba dari mereka berbagai hal tentang hadits, sehingga
sempurnalah ilmunya dan wawasannya dalam hadits pun makin meluas.
(4)
Sepanjang hidupnya ia gunakan untuk menyebarkan hadits
Nabi kepada seluruh umat, tanpa mengaharapkan kedudukan dan penghormatan.
Berkaca pada beberapa
faktor di atas, disimpulkan bahwa Abu Hurairah merupakan sahabat yang paling
banyak menghafal hadits hingga menggungguli mereka dalam hal menerima (al-tahammul)
dan meriwayatkan (al-ada`) hadits secara bersamaan. Bahkan dikatakan
bahwas setiap hadits yang ia riwayatkan memberikan pengaruh tersendiri pada semua sahabat. Oleh karena itu, mereka selalu
merujuk sebuah hadits kepada Abu Hurairah, serta menyandarkan pada
periwayatannya, sehingga Ibnu ‘Umar berdo’a di hadapan jenazahnya setelah ia
wafat: “Dia (Abu Hurairah) selalu menjaga hadits Nabi saw kepada kaum
muslimin”. Imam Bukhari mengaatakan bahwa lebih dari 800 orang periwayat
yang meriwayatkan hadits darinya, termasuk di dalamnya para sahabat, tabi’in
dan lainnya.[6] Dari
sinilah terlihat peran penting beliau dalam memelihara dan mengembangkan
hadits.
Pada saat Rasulullah
saw masih hidup, beliau mengutus Abu Hurairah ke Bahrain untuk menyebarkan
Islam, memberi pemehaman kepada umat muslim, dan mengajarkan mereka tentang
urusan-urusan keagamaan, menyampaikan hadits Rasulullah saw, serta menetapkan
fatwa. Pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khattab, ia dijadikan sebagai gubernur
Bahrain. Lalu, ‘Umar menyerahkan 10 ribu dinar sambil mengatakan: “apakah
kamu berkuasa penuh terhadap harta ini, wahai musuh Allah dan kitab-Nya?”
Abu Hurairah pun menjawab: “saya bukanlah musuh Allah dan kitab-Nya, tetapi
saya musuh bagi orang yang berpaling dari keduanya.” ‘Umar bertanya lagi: “lalu
dari mana engkau mendapatkannya?” Ia menjawab: “ini hasil dari kuda
peliharaan dan budakku, serta hadiah yang diberikan orang.”[7]
Meskipun Abu Hurairah
merupakan sahabat yang paling banyak meriwa-yatkan hadits, namun ia juga
menerima riwayat dari para sahabat yang menjadi gurunya, di samping Rasulullah
saw. Di antara guru-gurunya dari kalangan sahabat adalah: Abu Bakar, ‘Umar bin
Khattab, Fadl bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, Ubayy bin Ka’ab, Usamah bin
Zaid, A’isyah Ummul Mukminin, Bashrah bin Abi Bashrah, serta dari seorang
tabi’in, Ka’ab al-Hibr.[8]
Di samping itu, Abu
Hurairah memiliki murid dari kalangan sahabat, yaitu: Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Anas
bin Malik, Watsilah bin al-Asqa’, Jabir bin Abdullah al-Anshari dan Abu Ayyub
al-Anshari. Adapun dari kalangan tabi'in, antara lain: Basyir bin Nahyak,
al-Hasan al-Bashri, Zaid bin Aslam, Zaid bin Abi ‘Itab, Sa’id bin Yasar, Sa’id
bin al-Musayyab, ‘Abdul Aziz bin Marwan, ‘Atha` bin Yassar, Muhammad bin Muslim
al-Zuhri, Marwan bin al-Hakam, Hammam bin Munabbih (ia menulis shahifah
masyhurah, sejenis buku autobiografi tentang Abu Hurairah), dan lain
sebagainya.[9]
Para ulama berbeda
pendapat mengenai waktu wafatnya Abu Hurairah. Hisyam bin ‘Urwah mengatakan
bahwa Abu Hurairah beserta istri Nabi saw, A’isyah meninggal pada tahun 57 H.
Pendapat ini dianut juga oleh al-Mada’ini dan Ibn al-Madini. Berbeda dengan Abu
Ma’syar, ia mengatakan bahwa Abu Hurairah wafat pada tahun 58 H. Sedangkan
menurut al-Waqidi, ia wafat pada tahun 59 H, pada usia 78 tahun.[10]
2.
Anas bin Malik (10 SH
– 93 H)
Nama lengkapnya adalah
Anas bin Malik bin Nadhr bin Dhamdham al-Anshari al-Khazraji al-Najjari,
pembantu Rasulullah dan penduduk Bashrah.[11] Ibunya
bernama Ummu Sulaim binti Mulhan, ia menghadap kepada Rasulullah saw di Madinah
dengan membawa anaknya, dan berkata: “wahai Rasulullah, anak ini akan
melayanimu.” Rasulullah saw pun menerima anak tersebut yang tak lain Anas bin
Malik, dan beliau saw sangat menyukainya.[12]
Anas bin Malik banyak
meriwayatkan hadits selain dari Rasulullah saw, juga dari para sahabat seperti
Abu bakar, Umar, Utsman, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Rawahah, Fathimah Zahra`,
Abdurrahman bin ‘Auf dan sahabat lainnya. Adapun yang mengambil riwayat darinya
yakni: al-Hasan, Sulaiman al-Taimi, Abu Qilabah, Abu Majlaz, Abdul Aziz bin
Shuhaib, Ishaq bin Abi Thalhah, Abu Bakar bin Abdullah, Qatadah, Tsabit
al-Banani, Muhammad bin Sirin, Anas bin Sirin, Ibnu Syihab al-Zuhri, Rabi’ah
bin Abdurrahman, Yahya bin Sa’id al-Anshari, dan lain sebagainya.[13]
Beliau adalah seorang
ahli ibadah dan sedikit bicara. Abu Hurairah pun berpendapat tentang beliau: “aku
tidak pernah melihat seorang yang shalatnya menyerupai shalat Nabi saw, selain
Ibnu Ummi Sulaim (Anas bin malik)”. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, ia
diutus ke Bahrain untuk mengurus zakat dari masyarakat di sana. Kemudian ia
menetap di Bashrah setelah terlebih dulu melawat ke Madinah. Hadits yang
diriwayatkan darinya sejumlah 2286 hadits, 318 hadits diriwayatkan oleh Syaikhani,
namun yang disepakati oleh keduanya hanya 168 hadits. Adapun yang hanya
disepakati oleh al-Bukhari sebanyak 80 hadits, dan oleh Muslim sebanyak 70
hadits.[14]
Anas bin Malik adalah sahabat
ketiga yang banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah dan Abdullan bin
‘Umar.[15] Beliau menghembuskan
nafas terakhirnya di Bashrah, tahun 93 H, lalu dimakamkan di sebuah tempat yang
dikenal dengan nama Qashr Anas.[16] Anas
bin Malik adalah sahabat terakhir yang meninggal di kota ini.[17]
3.
Ibnu Syihab al-Zuhri
(50 H - 124 H)
a)
Biografi Singkat
Beliau bernama Abu
Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah
bin Harits bin Zuhrah al-Qurasy al-Zuhri al-Madani. Beliau tinggal di Syam.
Orang-orang kadang memanggilnya dengan nama al-Zuhri atau Ibnu Syihab yang
dinisbahkan kepada kakek buyutnya. Ia termasuk kepada golongan tabi’in kecil (shighar
al-tabi’in).[18]
Al-Zuhri dilahirkan
pada tahun 50 H pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Diriwayatkan
bahwa ia diutus Mu’awiyah kepada Marwan bin Hakam, tahun 64 H. Beliau adalah
seorang pemuda yang penuh dengan mimpi. Sepanjang hidup, ayahnya mendukung
Abdullah bin Zubair dalam melakukan pemberontakan terhadap Abdul Malik bin
Marwan. Kemudian al-Zuhri diutus kepada Abdul Malik setelah kematian ayahnya.
Ini terjadi pada tahun 82 H.[19]
b)
Rihlah Keilmuan
Al-Zuhri menyelesaikan
hafalan al-Qur’a dalam 80 hari. Ia mulai belajar hadits pada akhir-akhir masa
sahabat dengan menghabiskan waktu lebih dari 20 tahun. Al-Zuhri banyak
meriwayatkan hadits dari para sahabat, misalnya dari Anas bin Malik, Abdullah
bin Umar, Jabir bin Abdullah, Sahal bin Sa’d, Abu Thufail, Miswar bin
Mukhramah, dan lainnya. Adapun dari kalangan tabi’in senior, ia meriwayatkan
dari Abu Idris al-Khaulani, Abdullah bin Harits bin Naufal, Hasan dan Abdullah
(anak dari Muhammad bin Hanafiyah), Harmalah budak Usamah bin Zaid, Ubaidullah
– Abdullah dan Salim (anak dari Ibnu Umar), Abdul Aziz bin Marwan, Kharijah bin
Zaid bin Tsabit, Sa’id bin Musayyab, dan lainnya.[20]
Al-Zuhri adalah
seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam belajar, ia menanyakan tentang
apa-apa yang ingin ia ketahui. Bahkan khalifah Abdul Malik pernah menyuruhnya
untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Abdul Malik berkata: “Carilah ilmu dan jangan menyibukkan suatu apapun
selain darinya. Sungguh saya melihat kamu memiliki dua mata yang selalu terjaga
dan hati yang cerdas. Maka datangilah kaum Anshar di rumah-rumah mereka.”
Diceritakan bahwa al-Zuhri selalu mencatat sebuah hadits saat hendak
menghafalnya. Setelah hafal betul, lalu ia menghapusnya. Ia termasuk pemuda
yang rajin dalam mendalam hadits dan sering mengikuti berbagai halaqah
para ulama hadits. Dalam hal ini Abu Zinad mengatakan: “kami mencatat yang
halal dan yang haram, namun al-Zuhri mencatat setiap apa yang ia dengar, dan
saat saya meminta hujjah padanya, saya baru tahu bahwa ia sepintar-pintarnya
manusia.”[21]
c)
Al-Zuhri dan Peranannya dalam Hadits[22]
·
Al-Zuhri adalah orang pertama yang menerima perintah
dari khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk membukukan hadits.[23] Ia
mengumpulkan hadits-hadits dalam berbagai buku
catatan. Khalifah lalu membagikan masing-masing satu catatan ke setiap wilayah
di bawah kekuasaannya. Para ulama sepakat bahwa orang
pertama yang mengumpulkan hadits secara resmi adalah al-Zuhri.
·
Dedikasi al-Zuhri dalam mengumpulkan hadits, bisa
dikatakan bahwa tanpa beliau hadits-hadits akan hilang. Al-Laits bin Sa’id
berkata: Sa’id bin Abdurrahman telah meriwayatkan padaku: “wahai bapaknya
Harits, kalau bukan karena Ibnu Syihab, sunah-sunah Nabi saw akan musnah.”
·
Al-Zuhri adalah orang yang sangat serius dan teliti
dalam menyebutkan sebuah isnad, bahkan ia menganjurkan pada para ulama
dan pencari ilmu untuk bisa membiasakannya.
·
Al-Zuhri menganjurkan para pencari ilmu untuk
mempelajari hadits lalu mengajarkannya kepada sesama.
Al-Zuhri wafat pada
malam Selasa (yakni malam ke-19 setelah berakhir-nya bulan Ramadhan) tahun 124
H, di Desa Adamiy. Ia mewasiatkan agar jenazahnya dimakamkan di pinggir
jalan agar setiap ada orang yang lewat bisa mendo’akannya.[24]
4.
Imam Bukhari (194 H - 256
H)
Nama lengkapnya
Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah
al-Ja’fi al-Bukhari. Ia dilahirkan pada hari Jum’at 13 Syawwal 194 H, di
Bukhara. Ayahnya seorang ulama besar yang banyak meriwayatkan hadits, namun ia meninggal
saat al-Bukhari masih kanak-kanak. Pada tahun 210 H, ia bersama ibu dan
saudaranya pergi ke Hijaz (Makkah) untuk menunaikan ibadah haji. Ia menetap di
Madinah untuk menulis kitab sejarah di samping kuburan Nabi saw yang dinamai al-Tarikh
al-Kabir.[25]
Al-Bukhari termasuk
orang yang cerdas dan memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia menghafal 100.000
hadits shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih. Dia pergi
mencari hadits kepada imam-imam hadits di berbagai negeri, seperti Baghdad,
Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Syam, Hims, ‘Asqalan dan Mesir. Berkat
kesabaran, kecerdasan dan kecintaannya terhadap ilmu, ia mencapai derajat
tertinggi dalam hadits dengan gelar Imam al-Mu’minin fi al-Hadits atau Amir
al-Mu’minin fi al-Hadits.[26]
Di antara
guru-guru al-Bukhari yaitu: Abū 'Aṣim al-Nabīl, Makkī
bin Ibrahīm, Muḥammād bin 'Īsā, ‘Ubaidullāh bin Mūsā, Muḥammād
bin Salām, Aḥmād bin Ḥanbāl, Isḥāq bin Manṣūr, ‘Ali bin
al-Madini, Yahya bin Ma’in, Ibnu Rahawaih, dan lainnya.[27]
Guru-guru yang diriwayatkan dalam kitabnya sebanyak 289 orang.[28]
Adapun murid-murid al-Bukhari diperkirakan tidak kurang dari 90.000 orang. Di
antara mereka yang terkenal adalah Muslim bin al-Hajjaj, al-Tirmidzi,
al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Abu Dawud, Ibrahim bin Ma’qal, Hammad bin Syakir, Manshur
bin Muhammad, dan lainya.[29]
Al-Bukhari
termasuk ulama yang sangat produktif. Di antara kitab yang ditulisnya adalah: Ṣaḥīh Bukhāri, al-Adāb
al-Mufrād, al-Tarīkh al-Ṣagīr,
al-Tarīkh al-Awsaṭ, al-Tarīkh al-Kabīr, al-Tafsīr
al-Kabīr, al-Musnād al-Kabīr, Kitāb al-'Ilāl, Raf'ūl
Yadain fī al-Ṣalāḥ, Birru al-Wālidain, Kitāb al-Asyribah, al-Qirā`ah Khalfa
al-Imām, Kitāb al-Ḍu'āfa, Usami al-Ṣaḥābah, Kitāb al-Kuna, al-Ḥibbah, al-Wiḥdān,
al-Fawa`id, Qaḍāya al-Ṣaḥābah wa
al-Tabī'in dan Masyīkhah.[30] Ia wafat di
desa Khartank, dekat Samarkand, pada tanggal 30 Ramadhan 256 H (31 Agustus 870 M).[31]
5.
Imam Muslim
(204 H – 261 H)
Nama lengkapnya Abu
al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi. Al-Qusyairi adalah nisbat
kepada sebuah kabilah arab yang cukup di kenal, yakni Bani Qusyair.[32]
Sedangkan al-Naisaburi dinisbahkan pada tempat kelahirannya, yaitu kota
Naisabur, bagian dari Persia yang sekarang manjadi bagian dari Rusia.[33]
Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat mengenai waktu lahir
dan wafat Imam Muslim. Ibnu Hajar dalam Taqrib al-Tahdzib dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah mengatakan
bahwa Imam Muslim dilahirkan tahun 204 H dan wafat tahun 261 H.[34] Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa ia dilahirkan
tahun 206 H dan wafat tahun 261 H, di Naisabur. Hal ini dikatakan oleh Abu
Abdillah al-Hakim al-Naisaburi dalam kitab ‘Ulama’ al-Amshar, yang juga disetujui al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Imam Muslim mulai belajar hadits sejak usia 12 tahun. Sejak
saat itu banyak sekali perjalanan yang telah beliau lakukan. Beliau belajar
hadits ke Khurasan dan mendengar hadits dari Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawih
dan lain-lain. Belaiu juga pernah di Ray dan mendengar hadits dari Muhammad bin
Mahran, Abu Ghassan dan lainnya. Di Hijaz beliau mendengar hadits dari Sa’id
bin Manshur, Abu Mash’ab dan lainnya. Di Iraq mendengar hadits dari Ahmad bin
Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Di Mesir beliau mendengar hadits dari Amr bin
Sawad, Hamalah bin Yahya dan beberapa orang lainnya.[35] Sedangkan periwayat yang
menerima riwayatnya yaitu: al-Tirmidzi, Abu
Hatim al-Razi, Ahmad bin Salamah, Musa bin Harun, Yahya bin Sa’id, Abu ‘Awanah
Ya’kub bin Ishaq, Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra’, Ali bin al-Husain bin
Sufyan, dan lainnya.[36]
Imam Muslim
dikenal memiliki tingkat hafalan yang tinggi. Ia juga menulis banyak karya yang
dijadikan pegangan para ulama sesudahnya. Di antara karya-karyanya yang
terkenal adalah al-Jami’ al-Shahih, Musnad al-Kabir, al-Jami’
al-Kabir, Kitab al-‘Ilal wa Kitab Auham al-Muhadditsin, Kitab al-Tamyiz dan
Kitab al-Muhadlramin. Dari karya-karyanya ini, yang paling terkenal adalah
kitab al-Jami’ al-Shahih atau dikenal dengan Shahih Muslim.[37]
C. Penutup
Hadits,
bagaimanapun, telah mengalami proses kesejarahan yang cukup panjang, dimulai
sejak era Kenabian yang masih berada di bawah bimbingan dan pengawasan Nabi saw
sendiri, kemudian dilanjutkan oleh generasi sahabat, tabi’in sehingga bisa
sampai kepada kita saat ini. Demi menjaga orisinalitas hadits tersebut, para
ulama, bahkan sudah dipelopori oleh para sahabat sendiri, mereka di samping
menghafal hadits-hadits, juga mencatatnya walau hanya untuk diri sendiri.
Pada
perkembangan selanjutnya, hadits Nabi saw baru pertama kali dibukukan pada masa
tabi’in, yakni oleh Ibnu Syihab al-Zuhri atas perintah khalifah Umar bin Abdul
Aziz. Bukan bermaksud menafi’kan peran tokoh-tokoh ulama hadits lainnya, namun
di sini saya lebih mengapresiasi peran dari keduanya (al-Zuhri-Abdul Aziz) atas
jasa mereka dalam membukukan hadits sehingga dapat menginspirasi para ulama
hadits berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Khathib, Muhammad ‘Ajjaj al-. al-Sunnah
Qabla al-Tadwin. Kairo: Maktabah Wahbah, 1988.
Khathib, Muhammad ‘Ajjaj al-. ‘Ushul
al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu. Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
Zahw, Muhammad Muhammad Abu. al-Hadits
wa al-Muhadditsun. Riyadh: al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Su’udiyah, 1984.
Shalih, Subhi As-. Membahas Ilmu-Ilmu
Hadits. Jakarta: Pustaka
Firdaus, 2002.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin
Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Bad`i al-Wahy, Hadits Nomor
6807, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Hajjaj, Muslim bin al-. Shahih
Muslim, Bab Min Fadha`il Abi Hurairah al-Dawsi ra, Hadits
Nomor 4549, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Marzuki. “Kritik Terhadap Kitab Shahih al-Bukhari
dan Shahih Muslim” dalam Jurnal HUMANIKA Vol. 6 No. 1, Maret 2006.
Solahuddin, M. & Agus
Suyadi. Ulumul Hadits. Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Syahbah, Muhammad Abu. Fi Rihab al-Sunnah
al-Kutub al-Shahhah al-Sittah. Kairo: al-Buhuts al-Islamiyyah, 1969.
Khon, Abdul Majid. Ulumul Hadits. Jakarta: Amzah, 2010.
Azami, M. Studies in Hadith Methodology and Literature. terj. Meth Kieraha. Jakarta: Lentera, 2003.
Asse, Ambo. Ilmu Hadits: Pengantar Memahami
Hadits Nabi saw. Makassar: Alauddin Press, 2010.
Nurhaedi, Dadi. “Shahih Muslim”,
dalam M. Alfatih Suryadilaga (ed.). Studi Kitab Hadits. Yogyakarta: Teras, 2009.
[1]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin (Kairo: Maktabah
Wahbah, 1988), hlm. 411.
[2]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 412.
[3]
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun (Riyadh:
al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Su’udiyah, 1984), hlm. 132-134.
[4] Muhammad
bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Bad`i
al-Wahy, Hadits Nomor 6807, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam
Hadist. Lihat juga, Muslim bin al Hajjaj, Shahih Muslim, Bab Min
Fadha`il Abi Hurairah al-Dawsi ra, Hadits Nomor 4549, dalam Lidwa
Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[5]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 412.
[6]
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 134.
[7]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 414.
[8]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 429.
[9]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 429-430.
[10]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 418-419.
Abu Zahw berpendapat bahwa Abu Hurairah wafat di Madinah pada tahun 57 H, pada usia 78 tahun. Lihat,
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm.
134.
[11]
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 137.
[12]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 472.
[13]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 472.
[14]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 473. Data
ini berbeda dengan Abu Zahw, ia mengatakan bahwa Anas bin Malik meriwayatkan
hadits sebanyak 1286, disepakati oleh Syaikhani sebanyak 186 hadits,
hadits yang hanya disepakati al-Bukhari sebanyak 83 hadits, dan hadits yang
hanya disepakati Muslim sejumlah 71 hadits. Lihat, Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits
wa al-Muhadditsun..., hlm. 137.
[15]
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 149.
[16]
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 137.
[17]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 473.
[18]
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 174.
[19]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 489.
[20]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 490.
[21]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 491.
[22]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 494-496.
[23]
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 175.
[24]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 500. Abu
Zahw berpendapat bahwa al-Zuhri dimakamkan di Syaghabda, salah satu nama
desa di Syam. Lihat, Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun...,
hlm. 175.
[25]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu
(Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 310. Lihat juga, Marzuki, “Kritik Terhadap Kitab Shahih
al-Bukhari dan Shahih Muslim” dalam Jurnal HUMANIKA Vol. 6
No. 1, Maret 2006, hal. 26-38.
[26]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 310.
[27] M. Solahuddin & Agus Suyadi, Ulumul Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 231.
[28]
Muhammad Abu Syahbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shahhah al-Sittah
(Kairo: al-Buhuts al-Islamiyyah, 1969), hlm. 49.
[29]
Muhammad Abu Syahbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub ..., hlm. 50. Lihat
juga, Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 259.
[30] M. Azami, Studies
in Hadith Methodology and Literature, terj.
Meth Kieraha (Jakarta: Lentera, 2003), hlm. 155.
[31] Ambo Asse,
Ilmu Hadits: Pengantar Memahami Hadits Nabi saw (Makassar: Alauddin
Press, 2010), hlm. 223-225.
[32] Subhi As-Shalih, Membahas
Ilmu-Ilmu Hadits (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 2002), hlm. 366.
[33] Dadi Nurhaedi, “Shahih
Muslim”,
dalam M. Alfatih Suryadilaga (ed.), Studi Kitab Hadits (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 56.
[34]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 314. Lihat juga,
Marzuki, “Kritik Terhadap Kitab ..., hal. 26-38.
[35] Subhi As-Shalih, Membahas
Ilmu-Ilmu Hadits..., hlm. 367.
[36] Subhi As-Shalih, Membahas
Ilmu-Ilmu Hadits..., hlm. 367.
[37]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 315.
blognya menarik
ReplyDelete