Wednesday, December 24, 2014

Isra'iliyyat dalam Hadits Nabi SAW


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama yang datang setelah dua agama samawi sebelumnya, Yahudi dan Nasrani, amat sulit untuk melepaskan diri dari pengaruh riwayat yang bersumber dari kedua agama tersebut. Pada dasarnya, memang tak mungkin untuk membuang seluruh riwayat atau informasi yang berasal dari keduanya, karena sekalipun ada penyelewengan dan penyimpangan dalam kitab-kitab suci kedua agama tersebut, masih didapati hal-hal yang sejalan dengan ajaran Islam dan mendukung sebagian kandungan al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri memerintahkan umatnya untuk menghormati dan mengimani seluruh nabi-nabi Allah yang diakui keberadaannya dalam Islam, serta tidak membedakan antara mereka. Namun, keimanan kepada kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul-Nya adalah keimanan kepada kitab-kitab yang masih diyakini keotentikannya. Maka dari itu, al-Qur’an diturunkan sebagai mushaddiq, untuk membenarkan sekaligus mengoreksi penyimpangan dari kitab-kitab sebelumnya, seperti Taurat dan Injil yang telah berevolusi menjadi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.[1]
Al-Qur’an banyak bercerita tentang nabi-nabi yang juga diakui Yahudi dan Nasrani. Selain itu, al-Qur’an juga menggambarkan bagaimana proses penciptaan alam raya dan masalah-masalah gaib di masa lalu dan akhirat, yang juga didapati dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Inilah yang kemudian membuat para sahabat Nabi dan tabiin untuk mencari tambahan penjelasan bagi cerita-cerita al-Qur’an yang bersifat ringkas dan global, dari kisah-kisah yang dibawa oleh Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Setelah penyusunan kitab-kitab tafsir di masa tabiin dan generasi sesudahnya, informasi yang berasal dari Ahli Kitab, khususnya dari orang Yahudi keturunan Bani Israil, banyak dikutip oleh para mufasir untuk menafsirkan sejumlah ayat-ayat al-Qur’an. Informasi inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan nama Isra`iliyyat .[2]
Menurut Malik Madani, masuknya kisah-kisah Isra`iliyyat  dalam penafsiran al-Qur’an dengan berbagai bentuk manifestasinya, sudah sejak abad-abad pertama Islam menjadi bahan perbincangan di kalangan para ulama Islam sendiri, di mana banyak di antara mereka mensinyalir di dalamnya terdapat unsur-unsur yang dapat membahayakan kemurnian ajaran Islam.[3] Ketika sinyalemen tersebut benar adanya, maka sikap kita sebagai akademisi tidak boleh serta-merta untuk menolak keberadaan Isra`iliyyat . Sebab, di antara kisah-kisah Isra`iliyyat  terdapat riwayat yang secara kualitas keshahihannya dapat dipertanggungjawabkan.
Sebenarnya, sebelum kisah-kisah Isra`iliyyat masuk ke dalam penafsiran al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam, ia terlebih dulu memasuki riwayat-riwayat dalam bentuk periwayatan hadits, sebagai sumber kedua. Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan membahas kisah-kisah Isra`iliyyat dalam hadits.

B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, dapat disimpulkan bahwa makalah ini akan membahas permasalahan terkait kisah-kisah Isra`iliyyat dalam hadits, meliputi:
1.    Apa definisi Isra`iliyyat ?
2.    Bagaimana sejarah dan faktor yang munculnya Isra`iliyyat ?
3.    Apa sumber-sumber dan macam-macam Isra`iliyyat ?
4.    Bagaimana hukum periwayatan dan pengamalan riwayat Isra`iliyyat ?








BAB II
PEMBAHASAN
A.  Definisi Isra`iliyyat
Secara etimologi, Isra`iliyyat adalah bentuk jamak dari kata Isra`iliyyah, yaitu isim yang dinisbahkan kepada kata Israil yang berasal dari bahasa Ibrani, artinya hamba Tuhan.[4] Dalam hubungannya dengan kisah-kisah Isra`iliyyat, yang dimaksud dengan Israil adalah Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Hal ini didasarkan kepada riwayat Abu Dawud al-Thayalisiy dari Abdullah bin Abbas yang menyatakan: “Sekelompok orang-orang Yahudi telah mendatangi Nabi saw, lalu beliau bertanya pada mereka: Tahukah anda sekalian bahwa sesungguhnya Israil itu adalah Nabi Ya’qub? Mereka menjawab: Betul. Nabi saw lalu berdo’a: wahai Tuhanku, saksikanlah pengakuan mereka ini!” [5]
Begitupun dalam al-Qur’an, Israil digunakan sebagai nama dari Nabi Ya’qub:
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ.
Semua makanan adalah halal bagi Bani Israel melainkan makanan yang diharamkan oleh Israel (Yakub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar". (QS. Ali Imran: 93)

Adapun secara terminologis, Isra`iliyyat adalah kisah-kisah dan berita-berita yang berasal dari orang-orang Yahudi, baik yang berhubungan dengan agama mereka ataupun tidak. Sumber beritanya, ada kalanya dari Taurat yang diberikan kepada Nabi Musa dan dipandang sudah menyimpang dari aslinya, serta dari penjelasan-penjelasan yang ditulis pemuka-pemuka Yahudi yang terdapat dalam kitab Talmud.[6]
Pengertian ini sesuai dengan penggunaan kata yang dinisbahkan kepada Bani Israil yang juga disebut orang-orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi pada zaman permulaan Islam tinggal bertetangga dengan umat Islam di Madinah. Dari orang-orang Yahudi Madinah inilah asal mula penyebaran kisah-kisah dan berita-berita yang disebut Isra`iliyyat. Namun dalam perkembangan selanjutnya, Isra`iliyyat bermakna lebih luas dari lafaznya, tidak hanya pada kisah dan berita yang berasal dari Bani Israil atau orang-orang Yahudi, tapi juga dari riwayat-riwayat, cerita-cerita yang berkaitan dengan umat Nashrani dan Ahli Kitab secara umum.[7]
Adapun Muhammad Husain al-Dzahabi mendefinisikan Isra`iliyyat kepada dua pengertian, yaitu:[8]
1)   Kisah dan dongeng kuno yang menyusup ke dalam tafsir dan hadits, yang asal periwayatannya dinisbahkan kepada Yahudi, Nashrani atau yang lain.
2)   Sebagian ahli tafsir dan hadits lebih memperluas pengertian Isra`iliyyat, yang mana mencakup juga segala sesuatu yang diselundupkan oleh musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits, yang tidak dijumpai dasarnya pada sumber-sumber lama (Taurat - Injil).
Dari beberapa definisi yang disuguhkan oleh para ulama di atas, penulis lebih setuju dengan pendapat Ahmad Khalil, bahwa Isra`iliyyat adalah riwayat-riwayat atau kisah-kisah yang berasal dari Ahli Kitab, baik itu berkaitan dengan ajaran mereka maupun tidak, yang penting kisah-kisah itu diriwayatkan dari mereka (Ahli Kitab).[9]

B.  Sejarah Singkat Kemunculan Isra`iliyyat
Menurut Malik Madani, mengutip pendapatnya al-Husaini, bahwa masuknya riwayat Isra`iliyyat  ke dalam penafsiran al-Qur’an didahului oleh pengetahuan tentang Isra`iliyyat  itu sendiri ke dalam wilayah pengetahuan Arab jahiliyyah. Sebagaimana diketahui, sejumlah orang-orang Ahli Kitab yang mayoritasnya adalah bangsa Yahudi, sejak dahulu telah melakukan imigrasi besar-besaran ke Jazirah Arabia dalam rangka menghindari penekanan dan penyiksaan dari Titus, Panglima Romawi, tahun 70 M.[10]
Begitupun orang-orang Arab jahiliyyah banyak melakukan perjalanan, seperti yang tertera dalam al-Qur’an bahwa bangsa Quraisy melakukan dua perjalanan, yaitu musim dingin ke negeri Yaman dan musim panas ke negeri Syam, di mana pada kedua negeri itu terdapat kaum Ahli Kitab yang kebanyakan dari kalangan Yahudi. Dari seringnya pertemuan dan interaksi antara kedua bangsa itu (Arab dan Yahudi) menjadi faktor penting bagi masuknya pengetahuan Yahudi ke tengah-tengah bangsa Arab. Akan tetapi, pengetahuan yang didapat masih sangat terbatas.
Setelah kedatangan Islam yang kemudian berkembang pasca hijrahnya Rasul ke Madinah, interaksi semacam itu tetap berlangsung, karena di sekitar Madinah banyak berdiam pula kelompok-kelompok Yahudi, seperti Bani Qinaqa’, Bani Quraidzah, Bani Nadzir, yang tentunya tidak terhindar dari adanya pertukaran informasi antara mereka dengan kaum muslimin. Dikisahkan pula bahwa dalam rangka mengkaji pengetahuan keagamaan yang mereka warisi secara turun-temurun, baik yang berasal dari kitab-kitab agama mereka maupun dari para pendeta, maka diadakanlah beberapa kajian yang disebut midras. Bahkan sebagian sahabat ada yang menghadiri kajian-kajian tersebut guna mendengarkan apa yang dibahas di dalamnya.[11]
Lebih dari itu, ada hal yang lebih penting lagi bahwa sejumlah pemuka Yahudi memeluk Islam, seperti: Abdullah bin Salam, Abdullah ibn Shuriya, Ka’ab al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, Ahmad bin Salam, Tamim al-Dariy (Nashrani), dan lain-lain yang mana mereka memiliki wawasan luas tentang ajaran agama mereka, sehingga mendapat kedudukan yang cukup terpandang di kalangan umat Muslimin.[12]
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa masuknya Isra`iliyyat dalam bidang-bidang Keislaman sudah terjadi sejak masa sahabat. Hal demikian mengingat adanya kesesuaian antara al-Qur’an dengan Taurat dan Injil dalam mengetengahkan beberapa persoalan, meskipun memang perlu ditekankan ada perbedaan antara keduanya dalam metode penyempaian.

C.  Sumber dan Macam-macam Isra`iliyyat
Kisah-kisah Isra`iliyyat, sebagaimana telah dikemukakan, muncul bersamaan dengan masuknya sejumlah Ahli Kitab memeluk Islam, di mana sebelumnya didahului oleh interaksi dan asimilasi antara keduanya dalam hal pengetahuan dan kebudayaan. Hal itu sudah terjadi pada masa Nabi saw dan sahabat. Dengan demikian, sumber utama riwayat-riwayat Isra`iliyyat tentunya adalah para Ahli Kitab yang memeluk Islam, baik dari kalangan sahabat maupun tabiin. Sahabat yang pada awalnya menjadi pemuka Ahli Kitab antara lain: Abdullah bin Salam dan Tamim al-Dari. Adapun dari kalangan tabiin adalah Ka’ab al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih.[13]
Terkait dengan macam-macam Isra`iliyyat, Dr. Ramzi Na’na’ah dalam kitab al-Isra`iliyyat wa Atsaruha fi Kutub al-Tafsir, membaginya kepada:[14]
1.    Dari segi sanad.
a.     Shahih secara sanad dan matan, seperti hadits riwayat al-Bukhari:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah Telah menceritakan kepada kami Abdul 'Aziz bin Abu Salamah dari Hilal bin Abu Hilal dari 'Atha bin Yasar dari Abdullah bin Amru bin Al 'Ash radliallahu 'anhuma bahwa ayat yang di dalam Al Qur'an ini: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.., " (Al Fathu: 8). Sama dengan ayat yang ada di dalam Taurat berbunyi: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan pelindung bagi orang-orang `Arab, kamu adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku, dan Aku menamaimu Al Mutawakkil (orang yang bertawakkal tinggi). Engkau bukan orang yang berperangai buruk, juga bukan berwatak keras dan bukan sakhkhob (orang yang cerewet, berteriak keras-keras) di pasar." Dan beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan serupa akan tetapi beliau mema'afkan dan mengampuninya, dan Allah tidak akan mewafatkan beliau sampai beliau meluruskan Millah (dien) Nya yang bengkok, hingga manusia mengucapkan Laa Ilaaha IllAllah, sehingga dengannya beliau dapat membukakan mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang lalai."[15]
b.    Dha’if secara sanad dan matan, seperti hadits riwayat Ibnu Jarir:
Telah menceritakan kepada kami al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan pada kami al-Husain, ia berkata: telah menceritakan pada kami hajjaj bin Ibn Juraij, dari Wahb bin Sulaiman, dari Syu’aib al-Jubba’I, ia berkata: di dalam al-Qur’an (Kitabullah) terdapat malaikat penyangga ‘arasy, masing-masing memiliki rupa seperti wajah manusia, sapi jantan dan singa. Jika mereka menggerakkan sayap mereka, muncullah kilat.
c.     Maudhu’ (palsu).

2.    Dari segi tema atau substansi kisah.
a.    Berkaitan dengan akidah, seperti riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud:
Seorang rahib datang kepada Nabi saw, lalu dia berkata; 'Ya Muhammad, Kami mendapatkan bahwa Allah Ta'ala memegang langit, bumi, pohon-pohon, air, binatang-binatang, dan seluruh makhluk dengan jari-Nya seraya berkata; 'Akulah Raja (Penguasa)! 'Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun tertawa hingga nampak gigi serinya sebagai pembenaran terhadap perkataan rahib tersebut. Kemudian beliau membaca ayat: 'Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.'[16]
b.    Berkaitan dengan hukum, seperti riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Umar:
Bahwa orang-orang Yahudi menemui Nabi saw dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berzina. Lalu Nabi saw bertanya kepada mereka: 'Apa yang kalian lakukan kepada orang yang berzina? Mereka menjawab; 'Kami mencoret-coret wajah keduanya dengan warna hitam dan memukulnya. Nabi saw bersabda: 'Apakah kalian tidak menemukan hukuman rajam di dalam Taurat? Mereka menjawab; 'Kami tidak mendapatkannya sedikit pun. Maka Abdullah bin Salam berkata kepada mereka; 'Kalian telah berdusta, datangkanlah Taurat kalian dan bacalah jika kalian orang-orang yang jujur.' Maka mereka pun meletakan kitab yang mereka pelajari dan di antara mereka ada yang menutupinya dengan tangan pada ayat rajam, dengan cepat dia membaca apa yang ada disamping kanan kirinya tanpa membaca ayat rajam. Abdullah Salam pun segera menyingkirkan tangannya, seraya berkata; 'Apa ini? ' Tatkala mereka melihat hal itu, mereka menjawab; 'ini adalah ayat rajam.' Maka Rasulullah saw menyuruh untuk merajam keduanya di dekat kuburan samping masjid. Kata Abdullah; 'Aku melihat lelakinya melindungi dan menutupi wanitanya dari lemparan batu dengan cara membungkukkan badannya.'[17]
c.    Berkaitan dengan nasehat-nasehat dan perincian atas sebagian yang partikular dari sesuatu yang tidak berhubungan dengan kedua poin sebelumnya.

3.    Dari segi kesesuaian (tawaquf) dan ketidaksesuaian (tanaqudl) dengan syariat.
a.    Sesuai dengan syariat Islam, seperti riwayat Muslim dari Fathimah binti Qais —salah seorang wanita yang ikut dalam hijrah pertama—ia berkata, Rasulullah bersabda:
"Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkanmu karena harapan atau rasa takut, tapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim al-Dari dulunya orang Nasrani lalu ia datang, berbai’at lalu masuk Islam." Ia menceritakan suatu hadits padaku, sama seperti hadits yang aku ceritakan kepada kalian tentang Masih Dajjal.”[18]
b.    Menyalahi syari’at Islam.
c.    Kisah tersebut tidak terhitung banyaknya dan juga tidak ada yang menguatkan ataupun menolaknya dalam syariat Islam.

D.  Hukum Periwayatan Isra`iliyyat
Pembahasan tentang hukum periwayatan Isra`iliyyat, para ulama membaginya kepada tiga, yaitu: dalil-dalil yang melarang, dalil-dalil yang membolehkan dan dalil-dalil yang mencoba untuk mengintegrasikan antara keduanya. Berikut ini penjelasannya dari kitab al-Isra`iliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadits karangan al-Dzahabi.[19]
1.    Dalil yang melarang (adillat al-man’i)
a.    Beberapa ayat al-Qur’an menjelaskan bahwasanya umat Yahudi dan Nashrani telah mengubah dan memalsukan kitab suci mereka, serta membuang sebagian besar isinya yang memuat sisi orisinalitasnya. Untuk itu, al-Qur’an mengecam pemalsuan dan penyelewengan yang mereka lakukan.
b.    Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah, ia berkata:
"Orang-orang Ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada orang-orang Islam dengan bahasa arab. Melihat hal itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian mempercayai ahlu kitab dan jangan pula mendustakannya. Tetapi ucapkanlah; "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah diturunkan kepada kami. (Al Baqarah; 136).”[20]
c.    Riwayat Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abi Syaibah dan Bazzar, dari Jabir bin Abdullah: ia berkata:
'Umar bin Khattab menemui Nabi saw dengan membawa tulisan yang ia dapatkan dari Ahli Kitab. Nabi saw terus membacanya dan marah seraya bersabda: "Bukankah isinya hanya orang-orang yang bodoh Wahai Ibnu Khottob?. Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya datang kepada kalian dengan membawa cahaya yang terang. Janganlah kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu! Bagaimana jika mereka mengabari kalian kebenaran lalu kalian mendustakannya atau mereka (menyampaikan) kebatilan lalu kalian membenarkannya?. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihissalam hidup maka tidak ada jalan lain selain dia mengikutiku." [21]
d.    dan riwayat-riwayat lainnya

2.    Dalil yang membolehkan (adillat al-jawaz)
a.    Ada ayat al-Qur’an yang menunjukkan kebolehan untuk merujuk dan bertanya kepada Ahli Kitab tentang ajaran mereka. Misalnya ayat berikut:
فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ.
Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. Yunus: 94)
Selain itu, lihat juga Surat Ali Imran ayat 93, al-Ra’du ayat 43, al-Ahqaf ayat 10, dan ayat-ayat lainnya. Ayat-ayat tersebut menandakan sisi kebolehan untuk menjadikan Ahli Kitab sebagai sumber rujukan.
b.    Riwayat al-Bukhari, ia berkata: bahwa Nabi saw bersabda:
"Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka".[22]
c.    Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Nabi saw pernah mendengarkan seorang Yahudi yang sedang membacakan Taurat. Lalu, Nabi saw bersabda:
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengutus NabiNya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memasukkan seseorang ke dalam surga. Lalu beliau masuk ke gereja dan di dalamnya mendapati umat Yahudi dan seorang lelaki Yahudi sedang membacakan Taurat kepada mereka hingga sampai pada sifat-sifat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam mereka tidak membacanya, namun ada seorang lelaki yang sakit di pojok gereja, lantas Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bertanya: kenapa kalian berhenti dan tidak membacanya? Lelaki yang sakit itu berkata: Karena mereka sampai pada sifat-sifat seorang Nabi, kemudian lelaki itu merangkak hingga dapat mengambil Taurat lalu membacanya hingga sampai pada sifat-sifat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan ummatnya dia berkata: ini adalah sifat-sifat engkau dan sifat ummatmu, aku bersaksi tidak ada ilah kecuali Allah dan engkau adalah Rosulullah kemudian lelaki itu meninggal, lantas Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkata kepada para shahabatnya: bantulah saudara kalian.[23]
d.    dan riwayat lainnya.

3.    Mengintegrasikan (taufiq) antara keduanya.
a.    Sebuah kebenaran mutlak bahwa agama Islam adalah agama pengetahuan yang luas. Pengetahuan-pengetahuan tersebut tidak terbatas sebagaimana terbatasnya ilmu manusia mengenai syarita-syariat (Islam) yang bersifat partikular. Adapun fenomena-fenomena yang terjadi memiliki hubungan dengan sejarah hidup dan perjuangan mereka yang amat panjang. Untuk itu, pengetahuan mereka sangat bergantung pada pengetahuan umat-umat dan agama-agama sebelumnya.
b.    Al-Qur’an banyak menceritakan kisah tentang pendeta-pendeta Bani Israil dan umat-umat sebelumnya. Misalnya kisah tentang pembunuhan (penyembelihan) sapi ‘terlarang’ yang dilakukan oleh umat Nabi Musa pada Surat al-Baqarah ayat 67-73; atau kisah tentang Nabi Musa yang menyuruh umatnya untuk memasuki tanah suci (Palestina) pada Surat al-Ma’idah ayat 21.
c.    Setiap apa yang telah Allah swt perintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk bertanya kepada Ahli Kitab, mengindikasikan adanya kebolehan untuk merujuk tentang sesuatu hal pada mereka, namun hanya dalam beberapa aspek tertentu yang tidak berkaitan dengan wilayah Ketuhanan.
d.    Apa yang terdapat pada kitab-kitab Ahli Kitab setelah terjadinya pengubahan dan penyelewengan, serta apa yang dibicarakan oleh rahib-rahib mereka— ada kalanya mereka salah atau benar, dan ada kalanya mereka dusta atau jujur— tidak dapat menipu Nabi saw, yang mana mereka mungkin bisa menipu umat Muslimin. Untuk itu, tidak diperbolehkan seorang muslim untuk membenarkan semua apa yang dikatakan oleh mereka secara mutlak, begitupun sebaliknya. Namun terimalah dari mereka sesuatu yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadits karena kesesuaian ini mengindikasikan bahwa kitab mereka selamat daripada pengubahan dan penyelewengan.
e.    Sebagaimana para sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, mereka juga merujuk informasi-informasi daripada Ahli Kitab yang memeluk Islam tentang isi kitab mereka.
f.      dan lain sebagainya.





BAB III
PENUTUP

Isra’iliyyat, bagaimanapun juga, harus diakui bahwa di samping memiliki sisi negatif yang dapat membahayakan ajaran Islam, juga memberikan (sedikit atau banyak) sumbangsih yang berguna dalam penafsiran al-Qur’an. Hal demikian bukan berarti sumber penafsiran al-Qur’an tidak sempurna, sehingga membutuhkan sumber dari luar Islam, namun itu dilakukan hanya sekedar melengkapi informasi yang dalam al-Qur’an banyak informasi-informasi yang disampaikan secara global dan ringkas.
Penyampaian informasi secara global dan ringkas tersebut, karena al-Qur’an lebih menekankan pada substansi dan suri tauladan yang dapat dipetik dari setiap ayat, bukan kepada lengkapnya sebuah informasi atau cerita. Demikianlah makalah ini dibuat, semoga pembahasan di dalamnya bisa lebih menambah keimanan kepada al-Qur’an sebagai wahyu Allah swt, dan kepada hadits sebagai sunah-sunah Nabi saw yang tertuliskan.
Wallahu a’lam…














DAFTAR PUSTAKA

Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat Al Fath ayat 8, Hadits Nomor 4461, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat Az Zumar 67, Hadits Nomor 4437, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat Ali Imran ayat 93, Hadits Nomor 4190, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat al Baqarah ayat 136, Hadits Nomor 4125, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Bani Israil, Hadits Nomor 3202, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Dahsy,Abd al-Rahman bin Shalih bin Sulaiman al-. al-Aqwal al-Syadzdzah fi al-Tafsir. Riyadh: Jami’at al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyah, 2004.
Dzahabi, Muhammad Husain al-. al-Isra`iliyyat fi al-Tafsir wa al-hadits. Kairo: Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1971.
Hanbal, Ahmad bin Muhamad bin. Musnad Ahmad, Bab Musnad Jabir bin Abdullah, Hadits Nomor 14623, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Hanbal, Ahmad bin Muhamad bin Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah bin Mas'ud, Hadits Nomor 3755, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Husainiy, Khallaf Muhammad al-. al-Yahudiyyah bain al-Masihiyyah wa al-Islam. Mesir: al-Mu’assasah al-Mishriyyah al-‘Ammah, 1964.
Khalid, M. Rusydi. “Mencermati Isra`iliyyat Dalam Kitab-Kitab Tafsir”, dalam Jurnal AL-FIKR Volume 15 Nomor 2 Tahun 2011.
Khalil, Ahmad. Dirasat fi al-Qur’an. Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972.
Madaniy, Dr. A. Malik. “Masuknya Kisah-kisah Isra`iliyyat dalam Penafsiran al-Qur’an dan Langkah-langkah Pengamanannya”, dalam Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.
Muslim, Muslim bin al Hajjaj bin. Shahih Muslim, Bab Kisah Jashshash, Hadits Nomor 5253, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Na’na’ah, Dr. Ramzi. al-Isra`iliyyat wa Atsaruha fi Kutub al-Tafsir. Beirut: Dar al-Baidla`, 1970.
Rumi, Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-. Manhaj al-Madrasah al-‘Aqliyyah al-Haditsah fi al-Tafsir. Riyadh: Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyah, 1983.
Syakir, Ahmad Muhammad. ‘Umdat al-Tafsir ‘an al-Hafidz Ibn Katsir I. Mesir: Dar al-Ma’arif, 1956.








[1] M. Rusydi Khalid, “Mencermati Isra`iliyyat Dalam Kitab-Kitab Tafsir”, dalam Jurnal AL-FIKR Volume 15 Nomor 2 Tahun 2011, hlm. 156.
[2] M. Rusydi Khalid, “Mencermati Isra`iliyyat Dalam Kitab-Kitab Tafsir”..., hlm. 157.
[3] Dr. A. Malik Madaniy, “Masuknya Kisah-kisah Isra`iliyyat dalam Penafsiran al-Qur’an dan Langkah-langkah Pengamanannya”, dalam Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008, hlm. 1.
[4] Khallaf Muhammad al-Husainiy, al-Yahudiyyah bain al-Masihiyyah wa al-Islam (Mesir: al-Mu’assasah al-Mishriyyah al-‘Ammah, 1964), hlm. 14.
[5] Ahmad Muhammad Syakir, ‘Umdat al-Tafsir ‘an al-Hafidz Ibn Katsir I (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1956), hlm. 138.
[6] ’Abd al-Rahman bin Shalih bin Sulaiman al-Dahsy, al-Aqwal al-Syadzdzah fi al-Tafsir (Riyadh: Jami’at al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyah, 2004), hlm. 325.
[7] Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Manhaj al-Madrasah al-‘Aqliyyah al-Haditsah fi al-Tafsir (Riyadh: Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyah, 1983), hlm. 312.
[8] Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Isra`iliyyat fi al-Tafsir wa al-hadits (Kairo: Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1971), hlm. 20 dan 22.
[9] Ahmad Khalil, Dirasat fi al-Qur’an (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972), hlm. 113.
[10] Khallaf Muhammad al-Husainiy, al-Yahudiyyah bain al-Masihiyyah wa al-Islam ..., hlm. 53.
[11] Ahmad Khalil, Dirasat fi al-Qur’an..., hlm. 113.
[12] Dr. A. Malik Madaniy, “Masuknya Kisah-kisah Isra`iliyyat ..., hlm. 4.
[13] Baca selengkapnya, Dr. Ramzi Na’na’ah, al-Isra`iliyyat wa Atsaruha fi Kutub al-Tafsir (Beirut: Dar al-Baidla`, 1970), hlm. 159-164 dan 167-192.
[14] Dr. Ramzi Na’na’ah, al-Isra`iliyyat wa Atsaruha…, hlm. 76-85. Bandingkan, Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Isra`iliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadits ..., hlm. 35-41.
[15] Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat Al Fath ayat 8, Hadits Nomor 4461, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist. Hadits ini disampaikan oleh Ibnu Katsir Jilid 2, halaman 253, beliau menjelaskan bahwa hadits di atas bersumber dari Ka’ab al-Ahbar dan Abdullah bin Salam.
[16] Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat Az Zumar 67, Hadits Nomor 4437, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[17] Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat Ali Imran ayat 93, Hadits Nomor 4190, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[18] Muslim bin al Hajjaj bin Muslim, Shahih Muslim, Bab Kisah Jashshash, Hadits Nomor 5253, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[19] Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Isra`iliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadits ..., hlm. 41-51. Lihat dan bandingkan dengan Dr. Ramzi Na’na’ah, al-Isra`iliyyat wa Atsaruha , hlm. 76-85.
[20] Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat al Baqarah ayat 136, Hadits Nomor 4125, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[21] Ahmad bin Muhamad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Bab Musnad Jabir bin Abdullah, Hadits Nomor 14623, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[22] Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Bani Israil, Hadits Nomor 3202, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[23] Ahmad bin Muhamad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah bin Mas'ud, Hadits Nomor 3755, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.

No comments:

Post a Comment