BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama yang datang setelah dua agama
samawi sebelumnya, Yahudi dan Nasrani, amat sulit untuk melepaskan diri dari
pengaruh riwayat yang bersumber dari kedua agama tersebut. Pada dasarnya,
memang tak mungkin untuk membuang seluruh riwayat atau informasi yang berasal
dari keduanya, karena sekalipun ada penyelewengan dan penyimpangan dalam
kitab-kitab suci kedua agama tersebut, masih didapati hal-hal yang sejalan
dengan ajaran Islam dan mendukung sebagian kandungan al-Qur’an. Al-Qur’an
sendiri memerintahkan umatnya untuk menghormati dan mengimani seluruh nabi-nabi
Allah yang diakui keberadaannya dalam Islam, serta tidak membedakan antara
mereka. Namun, keimanan kepada kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul-Nya
adalah keimanan kepada kitab-kitab yang masih diyakini keotentikannya. Maka
dari itu, al-Qur’an diturunkan sebagai mushaddiq, untuk membenarkan
sekaligus mengoreksi penyimpangan dari kitab-kitab sebelumnya, seperti Taurat
dan Injil yang telah berevolusi menjadi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.[1]
Al-Qur’an banyak bercerita tentang nabi-nabi yang
juga diakui Yahudi dan Nasrani. Selain itu, al-Qur’an juga menggambarkan
bagaimana proses penciptaan alam raya dan masalah-masalah gaib di masa lalu dan
akhirat, yang juga didapati dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Inilah yang
kemudian membuat para sahabat Nabi dan tabiin untuk mencari tambahan penjelasan
bagi cerita-cerita al-Qur’an yang bersifat ringkas dan global, dari kisah-kisah
yang dibawa oleh Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Setelah penyusunan kitab-kitab
tafsir di masa tabiin dan generasi sesudahnya, informasi yang berasal dari Ahli
Kitab, khususnya dari orang Yahudi keturunan Bani Israil, banyak dikutip oleh
para mufasir untuk menafsirkan sejumlah ayat-ayat al-Qur’an. Informasi inilah
yang diistilahkan oleh para ulama dengan nama Isra`iliyyat .[2]
Menurut Malik Madani, masuknya kisah-kisah Isra`iliyyat
dalam penafsiran al-Qur’an dengan
berbagai bentuk manifestasinya, sudah sejak abad-abad pertama Islam menjadi
bahan perbincangan di kalangan para ulama Islam sendiri, di mana banyak di
antara mereka mensinyalir di dalamnya terdapat unsur-unsur yang dapat membahayakan
kemurnian ajaran Islam.[3]
Ketika sinyalemen tersebut benar adanya, maka sikap kita sebagai akademisi
tidak boleh serta-merta untuk menolak keberadaan Isra`iliyyat . Sebab,
di antara kisah-kisah Isra`iliyyat terdapat riwayat yang secara kualitas
keshahihannya dapat dipertanggungjawabkan.
Sebenarnya, sebelum kisah-kisah Isra`iliyyat masuk
ke dalam penafsiran al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam, ia terlebih
dulu memasuki riwayat-riwayat dalam bentuk periwayatan hadits, sebagai sumber
kedua. Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan membahas kisah-kisah Isra`iliyyat
dalam hadits.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, dapat disimpulkan
bahwa makalah ini akan membahas permasalahan terkait kisah-kisah Isra`iliyyat
dalam hadits, meliputi:
1.
Apa definisi Isra`iliyyat
?
2.
Bagaimana sejarah dan
faktor yang munculnya Isra`iliyyat ?
3.
Apa sumber-sumber dan
macam-macam Isra`iliyyat ?
4.
Bagaimana hukum periwayatan
dan pengamalan riwayat Isra`iliyyat ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Isra`iliyyat
Secara etimologi, Isra`iliyyat adalah bentuk
jamak dari kata Isra`iliyyah, yaitu isim yang dinisbahkan kepada kata Israil
yang berasal dari bahasa Ibrani, artinya hamba Tuhan.[4]
Dalam hubungannya dengan kisah-kisah Isra`iliyyat, yang dimaksud dengan Israil
adalah Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Hal ini didasarkan kepada riwayat Abu
Dawud al-Thayalisiy dari Abdullah bin Abbas yang menyatakan: “Sekelompok
orang-orang Yahudi telah mendatangi Nabi saw, lalu beliau bertanya pada mereka:
Tahukah anda sekalian bahwa sesungguhnya Israil itu adalah Nabi Ya’qub? Mereka
menjawab: Betul. Nabi saw lalu berdo’a: wahai Tuhanku, saksikanlah pengakuan
mereka ini!” [5]
Begitupun dalam al-Qur’an, Israil digunakan sebagai
nama dari Nabi Ya’qub:
كُلُّ
الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ
عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا
بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ.
Semua makanan adalah halal bagi Bani
Israel melainkan makanan yang diharamkan oleh Israel (Yakub) untuk dirinya
sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada
makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu
bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar". (QS. Ali Imran: 93)
Adapun
secara terminologis, Isra`iliyyat adalah
kisah-kisah dan berita-berita yang
berasal dari orang-orang Yahudi,
baik yang berhubungan
dengan agama mereka ataupun tidak. Sumber beritanya, ada kalanya dari Taurat
yang diberikan kepada Nabi Musa dan dipandang sudah menyimpang dari aslinya, serta
dari penjelasan-penjelasan yang ditulis pemuka-pemuka Yahudi yang terdapat
dalam kitab Talmud.[6]
Pengertian ini sesuai dengan penggunaan kata yang
dinisbahkan kepada Bani Israil yang juga disebut orang-orang Yahudi, karena
orang-orang Yahudi pada zaman permulaan Islam tinggal bertetangga dengan umat
Islam di Madinah. Dari orang-orang
Yahudi Madinah inilah asal mula penyebaran kisah-kisah dan berita-berita yang disebut
Isra`iliyyat. Namun dalam perkembangan selanjutnya, Isra`iliyyat bermakna lebih
luas dari lafaznya, tidak hanya pada kisah dan berita yang berasal dari Bani
Israil atau orang-orang Yahudi, tapi juga dari riwayat-riwayat, cerita-cerita
yang berkaitan dengan umat Nashrani dan Ahli Kitab secara umum.[7]
Adapun
Muhammad Husain al-Dzahabi mendefinisikan Isra`iliyyat kepada dua pengertian,
yaitu:[8]
1)
Kisah dan dongeng kuno yang menyusup ke dalam
tafsir dan hadits, yang asal periwayatannya dinisbahkan kepada Yahudi, Nashrani
atau yang lain.
2)
Sebagian ahli tafsir dan hadits lebih memperluas
pengertian Isra`iliyyat, yang mana mencakup juga segala sesuatu yang
diselundupkan oleh musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits, yang tidak dijumpai
dasarnya pada sumber-sumber lama (Taurat - Injil).
Dari
beberapa definisi yang disuguhkan oleh para ulama di atas, penulis lebih setuju
dengan pendapat Ahmad Khalil, bahwa Isra`iliyyat adalah riwayat-riwayat atau
kisah-kisah yang berasal dari Ahli
Kitab, baik itu berkaitan dengan ajaran mereka maupun tidak, yang penting kisah-kisah
itu diriwayatkan dari mereka
(Ahli Kitab).[9]
B.
Sejarah Singkat Kemunculan
Isra`iliyyat
Menurut Malik Madani, mengutip pendapatnya
al-Husaini, bahwa masuknya riwayat Isra`iliyyat ke dalam penafsiran al-Qur’an didahului oleh
pengetahuan tentang Isra`iliyyat itu
sendiri ke dalam wilayah pengetahuan Arab jahiliyyah. Sebagaimana diketahui,
sejumlah orang-orang Ahli Kitab yang mayoritasnya adalah bangsa Yahudi, sejak
dahulu telah melakukan imigrasi besar-besaran ke Jazirah Arabia dalam rangka
menghindari penekanan dan penyiksaan dari Titus, Panglima Romawi, tahun 70 M.[10]
Begitupun orang-orang Arab jahiliyyah banyak
melakukan perjalanan, seperti yang tertera dalam al-Qur’an bahwa bangsa Quraisy
melakukan dua perjalanan, yaitu musim dingin ke negeri Yaman dan musim panas ke
negeri Syam, di mana pada kedua negeri itu terdapat kaum Ahli Kitab yang
kebanyakan dari kalangan Yahudi. Dari seringnya pertemuan dan interaksi antara
kedua bangsa itu (Arab dan Yahudi) menjadi faktor penting bagi masuknya
pengetahuan Yahudi ke tengah-tengah bangsa Arab. Akan tetapi, pengetahuan yang
didapat masih sangat terbatas.
Setelah kedatangan Islam yang kemudian berkembang
pasca hijrahnya Rasul ke Madinah, interaksi semacam itu tetap berlangsung,
karena di sekitar Madinah banyak berdiam pula kelompok-kelompok Yahudi, seperti
Bani Qinaqa’, Bani Quraidzah, Bani Nadzir, yang tentunya tidak terhindar dari
adanya pertukaran informasi antara mereka dengan kaum muslimin. Dikisahkan pula
bahwa dalam rangka mengkaji pengetahuan keagamaan yang mereka warisi secara
turun-temurun, baik yang berasal dari kitab-kitab agama mereka maupun dari para
pendeta, maka diadakanlah beberapa kajian yang disebut midras. Bahkan
sebagian sahabat ada yang menghadiri kajian-kajian tersebut guna mendengarkan apa
yang dibahas di dalamnya.[11]
Lebih dari itu, ada hal yang lebih penting lagi bahwa
sejumlah pemuka Yahudi memeluk Islam, seperti: Abdullah bin Salam, Abdullah ibn
Shuriya, Ka’ab al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, Ahmad bin Salam, Tamim al-Dariy
(Nashrani), dan lain-lain yang mana mereka memiliki wawasan luas tentang ajaran
agama mereka, sehingga mendapat kedudukan yang cukup terpandang di kalangan
umat Muslimin.[12]
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa masuknya Isra`iliyyat
dalam bidang-bidang Keislaman sudah terjadi sejak masa sahabat. Hal
demikian mengingat adanya kesesuaian antara al-Qur’an dengan Taurat dan Injil
dalam mengetengahkan beberapa persoalan, meskipun memang perlu ditekankan ada perbedaan antara
keduanya dalam metode
penyempaian.
C.
Sumber dan Macam-macam Isra`iliyyat
Kisah-kisah Isra`iliyyat, sebagaimana telah dikemukakan,
muncul bersamaan dengan masuknya sejumlah Ahli Kitab memeluk Islam, di mana
sebelumnya didahului oleh interaksi dan asimilasi antara keduanya dalam hal
pengetahuan dan kebudayaan. Hal itu sudah terjadi pada masa Nabi saw dan sahabat. Dengan demikian, sumber
utama riwayat-riwayat Isra`iliyyat tentunya adalah para Ahli Kitab yang memeluk
Islam, baik dari kalangan sahabat maupun tabiin. Sahabat yang pada awalnya menjadi
pemuka Ahli Kitab antara lain: Abdullah bin Salam dan Tamim al-Dari. Adapun
dari kalangan tabiin adalah Ka’ab al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih.[13]
Terkait dengan macam-macam Isra`iliyyat, Dr. Ramzi
Na’na’ah dalam kitab al-Isra`iliyyat wa Atsaruha fi Kutub al-Tafsir, membaginya
kepada:[14]
1.
Dari segi sanad.
a.
Shahih secara sanad
dan matan, seperti hadits riwayat al-Bukhari:
Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah Telah menceritakan kepada kami
Abdul 'Aziz bin Abu Salamah dari Hilal bin Abu Hilal dari 'Atha bin Yasar dari
Abdullah bin Amru bin Al 'Ash radliallahu 'anhuma bahwa ayat yang di dalam Al
Qur'an ini: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.., " (Al Fathu: 8). Sama
dengan ayat yang ada di dalam Taurat berbunyi: "Hai Nabi, sesungguhnya
Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan dan pelindung bagi orang-orang `Arab, kamu adalah hamba-Ku dan
Rasul-Ku, dan Aku menamaimu Al Mutawakkil (orang yang bertawakkal tinggi).
Engkau bukan orang yang berperangai buruk, juga bukan berwatak keras dan bukan
sakhkhob (orang yang cerewet, berteriak keras-keras) di pasar." Dan beliau
tidak membalas kejahatan dengan kejahatan serupa akan tetapi beliau mema'afkan
dan mengampuninya, dan Allah tidak akan mewafatkan beliau sampai beliau
meluruskan Millah (dien) Nya yang bengkok, hingga manusia mengucapkan Laa
Ilaaha IllAllah, sehingga dengannya beliau dapat membukakan mata yang buta,
telinga yang tuli dan hati yang lalai."[15]
b.
Dha’if secara sanad dan matan, seperti hadits riwayat Ibnu Jarir:
Telah
menceritakan kepada kami al-Qasim, ia berkata: telah menceritakan pada kami
al-Husain, ia berkata: telah menceritakan pada kami hajjaj bin Ibn Juraij, dari
Wahb bin Sulaiman, dari Syu’aib al-Jubba’I, ia berkata: di dalam al-Qur’an
(Kitabullah) terdapat malaikat penyangga ‘arasy, masing-masing memiliki rupa
seperti wajah manusia, sapi jantan dan singa. Jika mereka menggerakkan sayap
mereka, muncullah kilat.
c.
Maudhu’ (palsu).
2.
Dari segi tema atau
substansi kisah.
a.
Berkaitan dengan akidah, seperti
riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud:
Seorang
rahib datang kepada Nabi saw, lalu dia berkata; 'Ya Muhammad, Kami mendapatkan
bahwa Allah Ta'ala memegang langit, bumi, pohon-pohon, air, binatang-binatang,
dan seluruh makhluk dengan jari-Nya seraya berkata; 'Akulah Raja (Penguasa)!
'Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun tertawa hingga nampak gigi
serinya sebagai pembenaran terhadap perkataan rahib tersebut. Kemudian beliau
membaca ayat: 'Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang
semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan
langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia
dari apa yang mereka persekutukan.'[16]
b.
Berkaitan dengan hukum,
seperti riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Umar:
Bahwa orang-orang
Yahudi menemui Nabi saw
dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berzina. Lalu
Nabi saw bertanya
kepada mereka: 'Apa yang kalian lakukan kepada orang yang berzina? Mereka
menjawab; 'Kami mencoret-coret wajah keduanya dengan warna hitam dan
memukulnya. Nabi saw
bersabda: 'Apakah kalian tidak menemukan hukuman rajam di dalam Taurat? Mereka
menjawab; 'Kami tidak mendapatkannya sedikit pun. Maka Abdullah bin Salam
berkata kepada mereka; 'Kalian telah berdusta, datangkanlah Taurat kalian dan
bacalah jika kalian orang-orang yang jujur.' Maka mereka pun meletakan kitab
yang mereka pelajari dan di antara mereka ada yang menutupinya dengan tangan pada
ayat rajam, dengan cepat dia membaca apa yang ada disamping kanan kirinya tanpa
membaca ayat rajam. Abdullah Salam pun segera menyingkirkan tangannya, seraya
berkata; 'Apa ini? ' Tatkala mereka melihat hal itu, mereka menjawab; 'ini
adalah ayat rajam.' Maka Rasulullah saw menyuruh untuk merajam keduanya di dekat kuburan samping
masjid. Kata Abdullah; 'Aku melihat lelakinya melindungi dan menutupi wanitanya
dari lemparan batu dengan cara membungkukkan badannya.'[17]
c.
Berkaitan dengan
nasehat-nasehat dan perincian atas
sebagian yang partikular dari sesuatu yang tidak berhubungan dengan kedua poin sebelumnya.
3.
Dari segi kesesuaian (tawaquf)
dan ketidaksesuaian (tanaqudl) dengan syariat.
a.
Sesuai dengan syariat
Islam, seperti riwayat Muslim dari Fathimah binti Qais —salah seorang wanita
yang ikut dalam hijrah pertama—ia berkata, Rasulullah bersabda:
"Demi
Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkanmu karena harapan atau rasa takut,
tapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim al-Dari dulunya orang Nasrani lalu ia
datang, berbai’at lalu masuk Islam." Ia menceritakan suatu hadits padaku,
sama seperti hadits yang aku ceritakan kepada kalian tentang Masih Dajjal.”[18]
b.
Menyalahi syari’at Islam.
c.
Kisah tersebut tidak
terhitung banyaknya dan juga tidak ada yang menguatkan ataupun menolaknya dalam
syariat Islam.
D.
Hukum Periwayatan Isra`iliyyat
Pembahasan tentang hukum periwayatan Isra`iliyyat,
para ulama membaginya kepada tiga, yaitu: dalil-dalil yang melarang, dalil-dalil yang membolehkan dan
dalil-dalil yang
mencoba untuk mengintegrasikan antara
keduanya. Berikut ini penjelasannya dari kitab al-Isra`iliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadits
karangan al-Dzahabi.[19]
1.
Dalil yang melarang (adillat
al-man’i)
a.
Beberapa ayat al-Qur’an
menjelaskan bahwasanya umat Yahudi dan Nashrani telah mengubah dan memalsukan
kitab suci mereka, serta membuang sebagian besar isinya yang memuat sisi
orisinalitasnya. Untuk itu, al-Qur’an mengecam pemalsuan dan penyelewengan yang
mereka lakukan.
b.
Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah, ia berkata:
"Orang-orang
Ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada
orang-orang Islam dengan bahasa arab. Melihat hal itu Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian mempercayai ahlu kitab dan jangan
pula mendustakannya. Tetapi ucapkanlah; "Kami beriman kepada Allah dan
kepada apa yang telah diturunkan kepada kami. (Al Baqarah; 136).”[20]
c.
Riwayat Ahmad bin Hanbal,
Ibnu Abi Syaibah dan Bazzar, dari Jabir bin Abdullah: ia berkata:
'Umar bin
Khattab menemui Nabi saw dengan membawa tulisan yang ia dapatkan dari Ahli
Kitab. Nabi saw terus membacanya dan marah seraya bersabda: "Bukankah
isinya hanya orang-orang yang bodoh Wahai Ibnu Khottob?. Demi dzat yang jiwaku
berada di tangan-Nya, saya datang kepada kalian dengan membawa cahaya yang
terang. Janganlah kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu! Bagaimana jika
mereka mengabari kalian kebenaran lalu kalian mendustakannya atau mereka
(menyampaikan) kebatilan lalu kalian membenarkannya?. Demi yang jiwaku berada
di tangan-Nya, seandainya Musa alaihissalam hidup maka tidak ada jalan lain
selain dia mengikutiku." [21]
d.
dan riwayat-riwayat lainnya
2.
Dalil yang membolehkan (adillat
al-jawaz)
a.
Ada ayat al-Qur’an yang
menunjukkan kebolehan untuk merujuk dan bertanya kepada Ahli Kitab tentang
ajaran mereka. Misalnya ayat berikut:
فَإِنْ كُنْتَ فِي
شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ
مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ
الْمُمْتَرِينَ.
Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan
tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang
yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu
dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang
ragu-ragu. (QS. Yunus: 94)
Selain itu, lihat juga
Surat Ali Imran ayat 93, al-Ra’du ayat 43, al-Ahqaf ayat 10, dan ayat-ayat
lainnya. Ayat-ayat tersebut menandakan sisi kebolehan untuk menjadikan Ahli
Kitab sebagai sumber rujukan.
b.
Riwayat al-Bukhari, ia berkata: bahwa
Nabi saw bersabda:
"Sampaikan dariku sekalipun
satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu
tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka
bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka".[22]
c.
Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Mas’ud,
bahwasanya Nabi saw pernah mendengarkan seorang Yahudi yang sedang membacakan
Taurat. Lalu, Nabi saw bersabda:
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
mengutus NabiNya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memasukkan seseorang ke
dalam surga. Lalu beliau masuk ke gereja dan di dalamnya mendapati umat Yahudi
dan seorang lelaki Yahudi sedang membacakan Taurat kepada mereka hingga sampai
pada sifat-sifat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam mereka tidak membacanya,
namun ada seorang lelaki yang sakit di pojok gereja, lantas Nabi shallallaahu
'alaihi wasallam bertanya: kenapa kalian berhenti dan tidak membacanya? Lelaki
yang sakit itu berkata: Karena mereka sampai pada sifat-sifat seorang Nabi,
kemudian lelaki itu merangkak hingga dapat mengambil Taurat lalu membacanya
hingga sampai pada sifat-sifat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan ummatnya
dia berkata: ini adalah sifat-sifat engkau dan sifat ummatmu, aku bersaksi
tidak ada ilah kecuali Allah dan engkau adalah Rosulullah kemudian lelaki itu
meninggal, lantas Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkata kepada para
shahabatnya: bantulah saudara kalian.[23]
d.
dan riwayat lainnya.
3.
Mengintegrasikan (taufiq) antara
keduanya.
a.
Sebuah kebenaran mutlak bahwa agama Islam
adalah agama pengetahuan yang luas. Pengetahuan-pengetahuan tersebut tidak
terbatas sebagaimana terbatasnya ilmu manusia mengenai syarita-syariat (Islam)
yang bersifat partikular. Adapun fenomena-fenomena yang terjadi memiliki
hubungan dengan sejarah hidup dan perjuangan mereka yang amat panjang. Untuk
itu, pengetahuan mereka sangat bergantung pada pengetahuan umat-umat dan
agama-agama sebelumnya.
b.
Al-Qur’an banyak menceritakan kisah tentang
pendeta-pendeta Bani Israil dan umat-umat sebelumnya. Misalnya kisah tentang
pembunuhan (penyembelihan) sapi ‘terlarang’ yang dilakukan oleh umat Nabi Musa
pada Surat al-Baqarah ayat 67-73; atau kisah tentang Nabi Musa yang menyuruh
umatnya untuk memasuki tanah suci (Palestina) pada Surat al-Ma’idah
ayat 21.
c.
Setiap
apa yang telah Allah swt perintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk bertanya
kepada Ahli Kitab, mengindikasikan adanya kebolehan untuk merujuk tentang
sesuatu hal pada mereka, namun hanya dalam beberapa aspek tertentu yang tidak
berkaitan dengan wilayah Ketuhanan.
d.
Apa yang terdapat pada
kitab-kitab Ahli Kitab setelah terjadinya pengubahan dan penyelewengan, serta
apa yang dibicarakan oleh rahib-rahib mereka— ada kalanya mereka salah atau
benar, dan ada kalanya mereka dusta atau jujur— tidak dapat menipu Nabi saw,
yang mana mereka mungkin bisa menipu umat Muslimin. Untuk itu, tidak diperbolehkan seorang muslim
untuk membenarkan semua apa yang dikatakan oleh mereka secara mutlak, begitupun
sebaliknya. Namun terimalah dari mereka sesuatu yang sesuai dengan al-Qur’an
dan hadits karena kesesuaian ini mengindikasikan bahwa kitab mereka selamat
daripada pengubahan dan penyelewengan.
e.
Sebagaimana para sahabat seperti Abu Hurairah
dan Ibnu Abbas, mereka juga merujuk informasi-informasi daripada Ahli Kitab
yang memeluk Islam tentang isi kitab mereka.
f.
dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP
Isra’iliyyat,
bagaimanapun juga, harus diakui bahwa di samping memiliki sisi negatif yang
dapat membahayakan ajaran Islam, juga memberikan (sedikit atau banyak)
sumbangsih yang berguna dalam penafsiran al-Qur’an. Hal demikian bukan berarti
sumber penafsiran al-Qur’an tidak sempurna, sehingga membutuhkan sumber dari
luar Islam, namun itu dilakukan hanya sekedar melengkapi informasi yang dalam
al-Qur’an banyak informasi-informasi yang disampaikan secara global dan ringkas.
Penyampaian
informasi secara global dan ringkas tersebut, karena al-Qur’an lebih menekankan
pada substansi dan suri tauladan yang dapat dipetik dari setiap ayat, bukan
kepada lengkapnya sebuah informasi atau cerita. Demikianlah makalah ini dibuat,
semoga pembahasan di dalamnya bisa lebih menambah keimanan kepada al-Qur’an
sebagai wahyu Allah swt, dan kepada hadits sebagai sunah-sunah Nabi saw yang
tertuliskan.
Wallahu
a’lam…
DAFTAR
PUSTAKA
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat Al Fath ayat 8,
Hadits Nomor 4461, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat Az Zumar 67,
Hadits Nomor 4437, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat Ali Imran ayat
93, Hadits Nomor 4190, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Surat al Baqarah ayat
136, Hadits Nomor 4125, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam
Hadist.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Bani
Israil, Hadits Nomor 3202, dalam Lidwa Pusaka i-Software -
Kitab 9 Imam Hadist.
Dahsy, ‘Abd al-Rahman bin Shalih bin Sulaiman al-. al-Aqwal al-Syadzdzah fi al-Tafsir. Riyadh: Jami’at al-Imam Muhammad bin
Sa’ud al-Islamiyah, 2004.
Dzahabi, Muhammad Husain al-. al-Isra`iliyyat
fi al-Tafsir wa al-hadits. Kairo: Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah,
1971.
Hanbal, Ahmad bin Muhamad bin. Musnad Ahmad, Bab Musnad Jabir bin Abdullah, Hadits Nomor 14623,
dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Hanbal, Ahmad bin Muhamad bin Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah
bin Mas'ud, Hadits Nomor 3755, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam
Hadist.
Husainiy, Khallaf Muhammad al-. al-Yahudiyyah bain al-Masihiyyah wa
al-Islam. Mesir: al-Mu’assasah al-Mishriyyah al-‘Ammah, 1964.
Khalid, M. Rusydi. “Mencermati Isra`iliyyat
Dalam Kitab-Kitab Tafsir”, dalam Jurnal AL-FIKR Volume 15 Nomor 2 Tahun
2011.
Khalil, Ahmad. Dirasat fi al-Qur’an. Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972.
Madaniy, Dr. A. Malik. “Masuknya Kisah-kisah Isra`iliyyat dalam Penafsiran
al-Qur’an dan Langkah-langkah Pengamanannya”, dalam Perpustakaan Digital UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.
Muslim, Muslim bin al Hajjaj bin. Shahih Muslim, Bab Kisah Jashshash, Hadits Nomor 5253, dalam Lidwa
Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Na’na’ah, Dr. Ramzi. al-Isra`iliyyat wa Atsaruha fi Kutub al-Tafsir. Beirut:
Dar al-Baidla`, 1970.
Rumi, Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-. Manhaj al-Madrasah al-‘Aqliyyah
al-Haditsah fi al-Tafsir. Riyadh: Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyah, 1983.
Syakir, Ahmad Muhammad. ‘Umdat al-Tafsir ‘an al-Hafidz Ibn Katsir I. Mesir: Dar al-Ma’arif, 1956.
[1] M.
Rusydi Khalid, “Mencermati Isra`iliyyat Dalam Kitab-Kitab Tafsir”, dalam
Jurnal AL-FIKR Volume 15 Nomor 2 Tahun 2011, hlm. 156.
[2] M.
Rusydi Khalid, “Mencermati Isra`iliyyat Dalam Kitab-Kitab Tafsir”...,
hlm. 157.
[3]
Dr. A. Malik Madaniy, “Masuknya Kisah-kisah Isra`iliyyat dalam
Penafsiran al-Qur’an dan Langkah-langkah Pengamanannya”, dalam Perpustakaan
Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008, hlm. 1.
[4]
Khallaf Muhammad al-Husainiy, al-Yahudiyyah bain al-Masihiyyah wa al-Islam
(Mesir: al-Mu’assasah al-Mishriyyah al-‘Ammah, 1964), hlm. 14.
[5]
Ahmad Muhammad Syakir, ‘Umdat al-Tafsir ‘an al-Hafidz Ibn Katsir I
(Mesir: Dar al-Ma’arif, 1956), hlm. 138.
[6] ’Abd
al-Rahman bin Shalih bin Sulaiman al-Dahsy, al-Aqwal al-Syadzdzah fi
al-Tafsir (Riyadh: Jami’at al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyah, 2004),
hlm. 325.
[7]
Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Manhaj al-Madrasah
al-‘Aqliyyah al-Haditsah fi al-Tafsir (Riyadh: Idarat al-Buhuts
al-‘Ilmiyah, 1983), hlm. 312.
[8]
Muhammad Husain
al-Dzahabi, al-Isra`iliyyat
fi al-Tafsir wa al-hadits (Kairo: Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1971), hlm. 20 dan 22.
[9]
Ahmad Khalil, Dirasat fi al-Qur’an (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972), hlm.
113.
[10]
Khallaf Muhammad al-Husainiy, al-Yahudiyyah bain al-Masihiyyah wa al-Islam
..., hlm. 53.
[11]
Ahmad Khalil, Dirasat fi al-Qur’an..., hlm. 113.
[12]
Dr. A. Malik Madaniy, “Masuknya Kisah-kisah Isra`iliyyat ..., hlm. 4.
[13] Baca
selengkapnya, Dr. Ramzi Na’na’ah, al-Isra`iliyyat wa Atsaruha fi Kutub
al-Tafsir (Beirut: Dar al-Baidla`, 1970), hlm. 159-164 dan 167-192.
[14]
Dr. Ramzi Na’na’ah, al-Isra`iliyyat wa Atsaruha…, hlm. 76-85. Bandingkan, Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Isra`iliyyat fi al-Tafsir wa
al-Hadits ..., hlm.
35-41.
[15] Muhammad
bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat Al
Fath ayat 8, Hadits Nomor 4461, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9
Imam Hadist. Hadits ini
disampaikan oleh Ibnu Katsir Jilid 2, halaman 253, beliau menjelaskan bahwa
hadits di atas bersumber dari Ka’ab al-Ahbar dan Abdullah bin Salam.
[16] Muhammad
bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat Az
Zumar 67, Hadits Nomor 4437, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam
Hadist.
[17] Muhammad
bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat
Ali Imran ayat 93, Hadits Nomor 4190, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab
9 Imam Hadist.
[18] Muslim
bin al Hajjaj bin Muslim, Shahih Muslim, Bab Kisah Jashshash,
Hadits Nomor 5253, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[19]
Muhammad Husain
al-Dzahabi, al-Isra`iliyyat
fi al-Tafsir wa al-Hadits ..., hlm. 41-51.
Lihat dan bandingkan dengan Dr. Ramzi Na’na’ah, al-Isra`iliyyat wa
Atsaruha …,
hlm. 76-85.
[20] Muhammad
bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Surat
al Baqarah ayat 136, Hadits Nomor 4125, dalam Lidwa Pusaka i-Software -
Kitab 9 Imam Hadist.
[21] Ahmad
bin Muhamad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Bab Musnad Jabir bin Abdullah,
Hadits Nomor 14623, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[22] Muhammad
bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Bani Israil, Hadits Nomor
3202, dalam Lidwa
Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[23]
Ahmad bin Muhamad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah bin
Mas'ud, Hadits Nomor 3755, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam
Hadist.
No comments:
Post a Comment