Monday, December 1, 2014

Sejarah Filsafat Yunani dan Pengaruhnya Bagi Filsafat Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manusia diciptakan Tuhan memang ditakdirkan untuk membentuk sebuah peradaban (baca: kebudayaan). Kebudayaan, bagaimanapun, tidak lahir dari ruang hampa, tetapi ia merupakan hasil dialektika antara manusia dan pikirannya dengan fenomena kealaman. Clifford Geertz menyatakan, bahwa kebudayaan merupakan aspek mendasar yang melekat pada manusia, dan secara ontologis, kebudayaan ada disebabkan adanya manusia karena pada dasarnya kebudayaan berpusat pada alam pikiran dan hati manusia.[1] Dalam upaya membentuk sebuah kebudayaan ini, lalu Tuhan melengkapi manusia dengan akal pikiran. Akal pikiran manusia merupakan potensi gaib yang tidak dimiliki oleh makhluk lain yang mampu menuntun kepada pemahaman diri dan alam, serta melawan hawa nafsu.[2]
Dalam studi filsafat, kemampuan berpikir manusia disebut ‘berfilsafat’ atau berpikir secara filsafati. Menurut Richard, filsafat adalah upaya untuk memberikan penilaian tentang apa yang benar dan penting berdasarkan sebuah penilaian logis tentang fakta-fakta dan argumen-argumen dari cerita mitos, pernyataan-pernyataan semu dan ungkapan-ungkapan ambigu, serta adat istiadat setempat yang didasarkan pada prasangka.[3] Amin Abdullah menyatakan, sebagaimana dikutip Khudori Soleh, bahwa filsafat adalah sebuah metodologi berpikir, yakni berpikir secara kritis-analitis dan sistematis. Maka, filsafat di sini lebih menitikberatkan kepada “proses” berpikir, bukan sekedar “produk” pemikiran.[4] Hal demikian juga dipertegas oleh Fazkur Rahman yang mengatakan:
Bagaimanapun juga, filsafat merupakanalat intelektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu, ia harus boleh berkembang secara alamiah, baik untuk pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yang lain. Hal itu dapat dipahami, karena filsafat menanamkan kebiasaan dan melatih akal-pikiran untuk bersikap kritis analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang sangat dibutuhkan, sehingga dengan demikian, ia menjadi alat intelektual yang sangat penting untuk ilmu-ilmu yang lain, tidak terkecuali agama dan teologi. Karena itu, orang yang menjauhi filsafat dapat dipastikan akan mengalami kekurangan energi dan kelesuan darah —dalam arti kekurangan ide-ide segar— dan lebih dari itu, ia berarti telah melakukan bunuh diri intelektual.[5]

Kelesuan berpikir di kalangan umat Islam ini menjadi impak utama dari keengganan mereka memperhatikan filsafat. Terlebih sejak pertengahan abad ke 12 M, semua khazanah intelektual Islam hampir dipastikan selalu menyerang dan mendiskreditkan filsafat, baik ia diposisikan sebagai pendekatan, metodologi maupun sebagai sebuah disiplin keilmuan.[6] Dalam mempelajari filsafat, tidak akan lepas dari bahasan bagaimana asal mula kemunculan filsafat. Untuk itu, kita perlu mempelajari sejarahnya. Berbicara tentang sejarah filsafat, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan yang muncul pada masa peradaban Yunani kuno. Dalam sejarah filsafat, filsafat Yunani diposisikan sebagai pangkal dari sejarah barat (Eropa Barat), karena alam pikiran mereka berpangkal pada pemikiran Yunani.
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang masuk ke dalam kancah pemikiran Islam melalui penerjemahan, diakui oleh banyak kalangan telah mendorong pada pesatnya perkembangan filsafat Islam. Namun begitu, sebagaimana dikatakan Oliver Leaman,[7] adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani, atau hanya nukilan dari filsafat Aristoteles seperti dituduhkan Renan, ataupun bersumber dari filsafat Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem.[8]
Terlepas dari perdebatan mengenai orisinalitas Filsafat Islam, entah ia bersumber dari filsafat Yunani ataupun bukan, yang jelas dunia Islam harus mengakui bahwa filsafat Yunani sedikit-banyak telah memberikan corak dan nuansa berpikir yang dinamis dan progresif, sehingga peradaban Islam bisa mencapai era keemasannya (golden age), tentunya dengan tanpa menafikan peran dan kreativitas para filosof dari dunia Islam sendiri. Dalam makalah ini penulis tidak hanya membahas tentang sejarah filsafat Yunani, namun juga pengaruhnya terhadap filsafat Islam. Selain itu, penulis juga akan membahas filsafat emanasi dengan aspek-aspek yang melingkupinya dan filsafat kejiwaan dari dua tokoh filosof Islam ternama, yakni al-Farabi dan Ibnu Sina.

B.  Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penulis akan menspesifikasikan pembahasan untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana Kemunculan Filsafat Yunani dan Pengaruhnya terhadap Filsafat Islam?
2.    Bagaimana konsep Filsafat Emanasi dan sejarah kelahirannya?
3.    Bagaimana konsep Filsafat Kejiwaan al-Farabi dan Ibnu Sina?
BAB II
SEJARAH FILSAFAT YUNANI DAN PENGARUHNYA TERHADAP
FILSAFAT ISLAM
A.  Kemunculan Filsafat Yunani
Menurut W.T. Stace, filsafat Yunani lahir pada abad ke 6 SM. Kemunculannya bermula ketika bangsa Yunani mulai mencoba untuk berpikir secara ilmiah mengenai alam semesta, “Apa yang dimaksud dengan alam semesta?[9] Mengapa alam semesta ini begitu teratur, terus menerus berubah tetapi perubahan itu tetap menjaga keteraturannya? Sejak kapan alam ini ada, dan siapa yang menciptakan dan mengaturnya? Akan dibawa kemana alam ini yang terus menerus berubah namun teratur? Ada siang, ada malam, ada kelahiran, ada kematian, ada musim yang silih berganti, dan sebagainya.[10]
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mungkin membuat bangsa Yunani gelisah dan berpikir keras untuk mencari jawabannya, namun tidak pernah bisa mereka jawab. Merekapun menyerah pada dongeng-dongeng, takhayul, mitos dengan mengatakan, “Semua itu yang menciptakan adalah para dewa, yang mengatur juga para dewa, dan sebagainya.” Sehingga filsafat pada waktu itu menampilkan diri sebagai cerita-cerita tentang peranan dewa, takhayul, mitos, tentang terjadinya alam semesta dan sebagainya. Jadi, filsafat pada awal kelahirannya muncul dalam bentuk novel-novel, sajak-sajak, nyanyian-nyanyian yang menggambarkan peranan para dewa dan asal-usul terjadinya alam semesta, yang mana berlangsung selama tiga abad.
Ketika mereka (bangsa Yunani) tidak lagi merasa puas atas jawaban dari dongeng-dongeng tersebut, mereka lalu mencoba mencari jawaban melalui akal pikiran (logos). Dari sinilah filsafat mulai lari dari mitos ke logos, dari takhayul ke pikir, yang selanjutnya melahirkan para filosof yang ingin mencari jawaban tentang apa arche (asal mula) dari sesuatu yang “ada” itu? Pertanyaan tersebut seakan melakukan demitologi, yakni muncul sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan atas jawaban-jawaban mitologi yang tidak masuk akal.[11]
Mohammad Hatta menyatakan, bahwa dalam mengkaji filsafat Yunani akan ditemukan tiga periode pemikiran.[12] Pertama, periode pemikiran yang mencoba untuk mencari prinsip kehidupan alam semesta (macro cosmos), seperti Thales yang menyatakan bahwa air adalah prinsip pokok dalam kehidupan.[13] Sebelum Thales, pemikiran Yunani dikuasai oleh cara berpikir mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan segala gejala-gejala yang ada di dalamnya tidak bersandar pada mitos, melainkan pada rasio manusia. Thales mengajukan pertanyaan yang amat mendasar, yaitu “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini? Thales berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari dari alam adalah air.[14] Selain Thales, ada Anaximandros yang berpendapat bahwa udara adalah prinsip pokok kehidupan, dan juga Empedokles yang menyatakan bahwa ada empat unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam realitas kehidupan alam semesta, yaitu api, udara, tanah dan air.[15]
Kedua, periode pemikiran yang telah bergeser dari usaha mencari prinsip kehidupan alam besar (macro cosmos) kepada usaha untuk memahami hakekat kehidupan alam kecil (micro cosmos), yaitu manusia. Dalam kaitan ini, Socrates telah berjasa dalam mengalihkan perhatian pemikiran pada zamannya dari alam besar ke alam kecil. Ketiga, periode pemikiran etik dan religi yang berusaha untuk mencari hidup yang baik, sehingga filsafat menjadi sebuah ajaran martabat hidup yang kemudian berkembang dalam pemikiran keagamaan. Dalam periode ini, Epicuros menyatakan bahwa filosofi harus merintis jalan ke arah mencapai kesenangan hidup.[16]
Singkatnya, puncak pemikiran Yunani berkembang pesat pada masa Plato dan Aristoteles yang mana pemikiran keduanya bersifat dualistik. Keduanya menyatakan bahwa kenyataan itu ada dua. Bagi Plato, dua kenyataan itu adalah kenyataan idea yang bersifat mutlak, dan kenyataan inderawi yang bersifat semu. Sedangkan bagi Aristoteles, kenyataan itu adalah kenyataan matter (bahan) yang bersifat potensial, dan kenyataan form (bentuk) yang bersifat aktual.[17] Adapun tokoh-tokoh pada masa Yunani Kuno, yaitu: Thales (625-545 SM), Anaxagoras (± 499-20 SM), Democritos (460-370 SM), Pythagoras (± 572-497 SM), Xenophanes (570-? SM), Heraclitos (535-475 SM), Parmenides (540-475 SM, Empledoces (490-435 SM), Anaximandros (640-546 SM) dan Zeno (490-430 SM).

B.  Pengaruh Filsafat Yunani terhadap Filsafat Islam
Helenisme (atau pertemuan antara budaya Yunani-Roma dengan Arab-Islam), menurut Watt[18] terjadi dalam dua gelombang. Pertama, pertemuan dalam bentuk pemikiran, yakni pemikiran filsafat Yunani masuk dan berpengaruh pada pemikiran Arab-Islam yang dimulai lewat penerjemahan (750-950 M). Kedua, pertemuan dalam bentuk kontak senjata, yakni dalam perang Salib yang disusul dengan serangan tentara Hulagu Khan ke Baghdad yang menutup sejarah panjang Bani Abbas (1095-1258 M).
Dalam helenisme gelombang pertama ini, banyak hal baru yang diperoleh dan mengubah pemikiran Arab-Islam. Hal itu bukan berarti pemikiran rasional Arab-Islam bersumber pada filsafat Yunani. Menurut beberapa penulis, seperti Leaman, Gardet, Qadir dan al-Jabiri,[19] bahwa pemikiran rasional Arab-Islam tidak bersumber atau diimport dari -filsafat- Yunani, tetapi benar-benar berdasarkan pada ajaran pokok Islam sendiri, yaitu al-Qur’an dan hadis. Meski demikian diakui, bahwa rasionalisme itu lebih berkembang pesat setelah bertemu dengan logika Yunani lewat penerjemahan. Nurcholish Madjid menambahkan, bahwa gelombang ini merupakan hasil dari kegiatan penerjemahan karya-karya Yunani Kuno ke dalam bahasa Arab. Kegiatan ini telah dirintis sejak zaman Bani Umayyah di Damaskus, dibuktikan dengan Khalid bin Yazid yang klaim kekhalifahannya ditolak karena lebih mencurahkan perhatiannya pada pengkajian filsafat.[20]
Semangat keagamaan yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, terekspresi pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah, khususnya pada masa al-Ma’mun (813-833 M). Penerjemahan buku-buku non-Arab ke dalam bahasa Arab terjadi secara besar-besaran dari awal abad kedua hingga akhir abad keempat hijriyah.[21] Perpustakaan besar Bait al-Hikmah didirikan oleh al-Ma’mun di Baghdad yang kemudian menjadi pusat penerjemahan dan intelektual.[22] Para penerjemah yang pada umumnya adalah kaum Nasrani dan Yahudi  bahkan penyembah bintang digaji dengan harga yang sangat tinggi.
Buku-buku yang diterjemahkan terdiri dari berbagai bahasa, mulai dari bahasa Yunani, Suryani, Persia, Ibrani, India, Qibti, Nibti dan Latin.[23] Keberagaman sumber pengetahuan dan kebudayaan inilah yang kemudian membentuk corak filsafat Islam.  Perlu diakui bahwa, di antara banyak pengetahuan dan kebudayaan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, karya-karya klasik Yunani adalah yang paling banyak menyita perhatian. Khususnya karya-karya filosof besar Yunani, seperti Plato dan Aristoteles. Beberapa karya dari kebudayaan Persia dan India hanya meliputi masalah-masalah astronomi, kedokteran dan sedikit tentang ajaran-ajaran agama.[24]
Menurut Jamil Shaliba, filsafat Islam mengalami dua tahap pembentukan,[25] yaitu tahap penerjemahan dan tahap produksi pengetahuan atau pemikiran. Setelah melewati tahap penerjemahan, maka mulailah bermunculan filosof-filosof Islam yang mengambil jalur metode filsafat Yunani, seperti yang dimulai dari al-Kindi hingga Ibnu Khaldun.[26] Menurut Fazlur Rahman, filsafat Islam dalam hubungannya dengan filsafat Yunani harus dilihat dalam konteks hubungan “bentuk-materi.” Jadi, filsafat Islam sebenarnya adalah filsafat Yunani secara material, namun diaktualkan dalam bentuk sistem bermerk Islam.[27] Sehingga dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa filsafat Islam hanya merupakan carbon copy dari filsafat Yunani. Shaliba menambahkan bahwa salah satu perbedaan filsafat Islam dengan Yunani ada pada maksud dan tujuannya. Menurutnya, tujuan dari filsafat Yunani lebih dilatarbelakangi nilai estetis, sementara filsafat Islam karena dorongan ajaran agama.[28]
Adapun pengaruh dari proses penerjemahan ini dapat kita lihat pada perkembangan dunia kedokteran, astronomi, matematika, hukum (qiyas dalam ilmu fiqih), politik dan filsafat itu sendiri. Dalam kedokteran, kita mengenal Ibnu Sina, politik pada al-Farabi, matematika pada al-Biruni, astronomi pada al-Khawarizmi, sejarah peradaban pada Ibnu Khaldun dan masih banyak lagi para sarjana muslim klasik yang telah menorehkan tinta emasnya bagi peradaban Islam karena bersentuhan dengan karya-karya kebudayaan pra-Islam yang sudah diterjemahkan. Dalam proses penerjemahan itu juga terjadi penyerapan bahasa Yunani yang kemudian menjadi bahasa Arab, seperti kata al-falsafah, al-musiqy, al-kimya, al-jugrafiyah dan lainnya.[29]
Perpaduan antara semangat umat Islam dengan kebudayaan pra-Islam (Yunani) melahirkan sebuah sintesa yang tidak sederhana. Sintesa yang dihasilkan bukan hanya sekedar penjiplakan pengetahuan sebelumnya yang kemudian diberi label Islam karena telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Lebih dari itu, sintesa ini juga meliputi proses reproduksi yang giat dilakukan oleh para ilmuwan muslim. Karya-karya filsafat yang diterjemahkan dari bahasa Yunani tidak berhenti pada hasil terjemahan, namun telah merangsang para intelektual muslim untuk mengomentari atau sekedar memberikan sebuah penafsiran atas karya-karya filosof Yunani itu.





BAB III
FILSAFAT EMANASI DAN FILSAFAT KEJIWAAN
A.  Filsafat Emanasi
1.    Asal Usul Faham Emanasi
Kata emanasi, berasal dari bahasa Inggris, emanation, yaitu proses munculnya sesuatu dari pemancaran, artinya bahwa substansi yang dipancarkan sama dengan yang memancarkan. Sedangkan dalam filsafat, emanasi adalah proses terjadinya wujud yang beraneka ragam, baik langsung atau tidak langsung, bersifat jiwa atau materi, berasal dari wujud yang menjadi sumber dari segala sesuatu, yakni Tuhan, yang menjadi sebab dari segala yang ada, karenanya setiap wujud ini merupakan bagian dari Tuhan.[30] Pengertian ini mengisyaratkan adanya realitas tertinggi yang menjadi sumber segala sesuatu, yaitu Tuhan, yang kemudian muncul dalam realitas lain dalam sumber itu dengan jalan melimpah atau memancar.
Tidak begitu jelas kapan istilah emanasi ini berubah menjadi faham emanasi, di mana istilah emanasi dimulai oleh filsafat Plotinus (284-269 SM) yang lahir di Lykopolis (Mesir).[31] Secara ringkas, Plotinus adalah filosof pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta,[32] yang kemudian muncul istilah emanasi. Dalam teori penciptaan alamnya, Plotinus nampaknya mendapat pengaruh dari Plato. Bagi Plato, idea bukanlah gagasan yang dibuat manusia atau yang ditemukan manusia, sebab idea bersifat objektif. Artinya, berdiri sendiri, lepas daripada yang berpikir, tidak tergantung kepada pemikiran manusia, akan tetapi justru sebaliknya, idealah yang memimpin pikiran manusia. Dengan demikian, idea yang berdiri sendiri itu dikatakan Yang Pertama (yang asal), dan setelah itu baru muncul idea-idea yang berikutnya yang berasal dari idea yang mutlak (Yang Pertama). Dengan kata lain, idea yang ada pertama kali adalah penyebab dari idea-idea yang ada sampai saat ini, yang kemudian menjadi inspirasi bagi Plotinus pada teori penciptaan alam semesta. Untuk itu, istilah emanasi muncul pertama kali dari filsafat Plotinus.
Plato juga menjelaskan bahwa, jika ada sejumlah individu memiliki nama yang sama, mereka tentunya memiliki satu “idea” bersama. Sebagai contoh, meskipun terdapat banyak kursi, sebetulnya hanya ada satu “idea” kursi. Sebagaimana bayangan pada cermin hanyalah penampakan dan tidak “riil”, demikian juga berbagai kursi pun tidak “riil”, dan hanya tiruan dari “idea” yang merupakan satu-satunya kursi yang “riil” yang diciptakan oleh Tuhan.[33] Melalui kursi yang diciptakan Tuhan, kita bisa memperoleh pengetahuan. Tetapi mengenai berbagai kursi yang dibuat tukang kayu, yang kita bisa peroleh hanyalah opini. Dengan begitu seorang filosof hanya akan tertarik pada kursi ideal yang hanya satu itu, bukan pada beraneka kursi yang terdapat dalam dunia inderawi.
Sebelum Plato, ada filosof yang bernama Heraklitos (540-475 SM), ia hidup di Ephesos di Asia Kecil, dan terkenal dengan doktrinnya tentang aliran dan perubahan. Ia mengakui bahwa tidak ada dunia inderawi yang riil, sebab segala sesuatu selalu berubah, yang mana perubahan itu disebabkan oleh logos yang Imanen. Filsafat Heraklitos adalah filsafat tentang “menjadi”,[34] yang memberikan pengertian tentang emanasi, di mana “logos” yang Imanen merupakan penyebab dunia inderawi yang riil menjadi selalu berubah. Bisa jadi, ini adalah kemunculan untuk pertama kali tentang istilah emanasi, tetapi belum sempat diredaksikan oleh Heraklitos sendiri.

B.  Filsafat Kejiwaan
Pembahasan tentang jiwa menjadi agenda penting dalam studi filsafat, tak terkecuali filsafat Islam. Hal demikian karena jiwa merupakan unsur atau inti utama dari manusia.[35] Para filosof muslim memakai kata jiwa (al-nafs) pada apa yang diistilahkan al-Qurán dan hadis dengan al-ruh. Al-Qurán dan hadis tidak menjelaskan secara detail tentang roh atau jiwa, bahkan al-Qurán menegaskan bahwa manusia tidak dapat mengetahui hakikat roh karena ia adalah urusan Allah, bukan urusan manusia.[36] Namun para filosof muslim membahas jiwa dengan mendasarkannya pada filsafat jiwa yang dikemukakan oleh para filosof Yunani. Dalam bagian ini akan dibahas bagaimana konsep filsafat kejiwaan al-Farabi dan Ibnu Sina.

1.    Filsafat Kejiwaan Al-Farabi
a)   Biografi Singkat
Al-Farabi bernama lengkap Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Auzalagh al-Farabi. Beliau termasuk filosof muslim ternama yang tidak ada tandingannya dalam hal keilmuan. Bahkan Ibnu Sina sekalipun—seorang filosof muslim kenamaan— juga berguru pada al-Farabi, sehingga dalam beberapa karyanya banyak mengutip pendapat al-Farabi.[37] Ayahnya bernama Muhammad bin Auzalagh bin Tarkhan,[38] seorang pejabat tinggi militer pada Dinasti Samaniyah yang menguasai wilayah Transoxiana, wilayah otonom kekhalifahan Bani Abbas. Al-Farabi lahir di kota Farab, provinsi Transoxiana, Turkestan, tahun 257 H/ 870 M.[39] Pendidikan dasarnya ditempuh di kota Farab,[40] yang mana penduduknya bermadzhab Syafi’i, kemudian pindah ke Bukhara.[41]
Setelah itu al-Farabi hijrah ke Baghdad untuk lebih mendalami filsafat, tahun 922 M. Ia belajar tentang ilmu logika kepada Matta ibn Yunus (w. 939 M) dan –terutama– Ibn Hailan (w. 932 M), tokoh filsafat aliran Aleksandria yang sekaligus mengajak al-Farabi pergi ke Konstantinopel untuk mendalami filsafat. Sekembalinya dari Konstantinopel, al-Farabi mencurahkan hidupnya untuk belajar-mengajar serta menulis filsafat. Ia mencoba menahan diri untuk tidak ikut campur dalam perpolitikan dan konflik-konflik keagamaan dan sektarian yang menimpa Baghdad saat itu.[42]
Pada saat kondisi perpolitikan di Baghdad semakin memburuk (942 M), al-Farabi pindah ke Damaskus yang sedang dikuasai oleh Dinasti Ikhsidiyah.[43] Tak lama kemudian, ia pun rihlah kembali menuju Mesir karena terjadi konflik politik antara Dinasti Ikhsidiyah dan Hamdaniyah, di mana Kota Aleppo dan Damaskus dikuasai oleh Dinasti Hamdaniyah. Beberapa tahun di Mesir, al-Farabi kembali ke Damaskus, lalu ke Aleppo untuk memenuhi undangan Saif al-Daulah, Putera Mahkota Dinasti Hamdaniyah, untuk mengikuti diskusi antara kalangan orang-orang terpelajar.[44] Al-Farabi wafat pada Rajab 339 H/ Desember 950 M di Damaskus, dan dimakamkan di al-bab al-shagir kota bagian selatan.[45]
Al-Farabi adalah seorang filosof yang produktif. Di antara karyanya yaitu: Maqalah fi Aghradhi ma Ba’da al-Thabi’ah, Ihsha’ al-Ulum, Kitab Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kitab Tahshil al-Sa’adah, ‘U’yun al-Masa’il, Risalah fi al-Aql, Kitab al-Jami’ bain Ra’y al-Hakimain: al-Aflatun wa Aristhu, Risalah fi Masail Mutafariqah, al-Ta’liqat, Risalah fi Itsbat al-Mufaraqat, dll.[46]

b)   Filsafat Kejiwaan[47]
Jiwa manusia beserta materi asalnya memancar dari Akal Kesepuluh. Jiwa adalah jauhar rohani sebagai form bagi jasad. Kesatuan keduanya merupakan kesatuan secara aksiden, artinya masing-masing memiliki substansi berbeda, dan binasanya jasad tidak menyebabkan binasanya jiwa. Sebab jiwa manusia berasal dari alam Ilahi, sedangkan jasad manusia berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad telah siap menerimanya. Menurut al-Farabi, jiwa manusia memiliki tiga daya sebagai berikut:
(1)     Daya gerak (al-mutaharrikat), daya ini mendorong untuk makan, memelihara dan berkembang.
(2)     Daya mengetahui (al-mudrikat), daya ini mendorong untuk merasa dan berimajinasi.
(3)     Daya berpikir (al-nathiqat), daya ini mendorong untuk berpikir secara praktis dan teoritis.
Daya teoritis terdiri dari tiga tingkatan, yakni:
(1)     Akal Potensial (al-áql al-hayulani), ialah akal yang baru memiliki potensi berpikir, dalam arti melepaskan arti-arti atau bentuk-bentuk dari materinya.
(2)     Akal Aktual (al-áql bi al-fi`l), yaitu akal yang telah dapat melepaskan arti-arti dari materinya, dan arti-arti itu telah memiliki wujud dalam akal dengan sebenarnya, bukan lagi dalam bentuk potensial, tetapi sudah dalam bentuk aktual.
(3)     Akal Mustafad (al-áql al-mustafad), ialah akal yang telah dapat menangkap bentuk semata-mata yang tidak dikaitkan dengan materi dan mempunyai kesanggupan untuk mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh.

2.    Filsafat Kejiwaan Ibnu Sina
1.    Biografi Singkat
Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husain Ibn Abdillah Ibn Sina.[48] Ia dilahirkan pada bulan Safar 370 H/ Agustus 980 M di Afshanah, dekat kota Kharmaitan, Kabupaten Balkh, wilayah Afganistan Provinsi Bukhara (sekarang masuk daerah Rusia), dan wafat pada bulan Ramadhan 428 H/ Juli 1037 M pada usia 57 tahun, dimakamkan di Hamadan.[49] Ia mendapat bimbingan dari Abu Abdellah Natili mengenai ilmu logika. Setelah gurunya pindah, Ibn Sina lalu mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama ajaran Plato dan Aristoteles. Pada usia 16 tahun, dia telah mendalami ilmu kedokteran dan menimba ilmu dari berbagai buku yang tersedia, sehingga kehadirannya menambah satu dokter tingkat universiter.[50]
Ibnu Sina seorang filosof yang produktif. Ia memiliki karya tulis sekitar 276 buah, di antaranya, yaitu: (a) al-Syifa (The Book of Recovery or The Book of Remedy). Buku ini memuat 4 bagian, yaitu: logika, fisika, metafisika dan matematika; (b) al-Qanun fi al-Thibb, adalah buku tentang ilmu kedokteran yang dijadikan buku pokok di Universitas Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia); (c) al-Najah, buku tentang jiwa; (d) al-Isyarat wa al-Tanbihat, buku ini lebih banyak membicarakan ttg dalil-dalil dan peringatan mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan; (e) Sadidiyya; (f) Danesh Nameh dan (g) Uyun al-Hikmah. Tiga buku terakhir ini membahas seputar filsafat.[51]

2.    Filsafat Kejiwaan
Ibnu Sina memberikan perhatian khusus terhadap bahasan kejiwaan, sebagaimana terlihat dari bukunya yang khusus membahas tentang kejiwaan (seperti kitab al-Najah). Teori kejiwaan Ibnu Sina banyak dipengaruhi oleh pemikiran para filosof Yunani, seperti Galius atau Plotinus dan terutama Aristoteles. Namun, hal itu bukan berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai kepribadian atau hanya membebek semata, namun ia mereformulasi teori yang telah dipelajari. Pemikiran Ibnu Sina dalam filsafat kejiwaan sangat berpengaruh, baik bagi dunia pemikiran Arab sejak abad ke 10 M sampai akhir abad ke 19 M, terutama pada Gundisallinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon dan Dun Scot.[52]
Perlu diketahui bahwa keistimewaan filsafat Ibnu Sina terletak pada filsafat jiwanya. Kata jiwa dalam al-Qurán dan hadis diistilahkan dengan al-nafs atau al-ruh, sebagaimana termaktub dalam QS. Shad: 71-72, QS. al-Isra`: 85 dan QS. al-Fajr: 27-30. Jiwa manusia, sebagaimana jiwa-jiwa yang lain dan segala yang ada di bawah bulan, memancar dari Akal Kesepuluh.[53]
Secara garis besar, filsafat kejiwaan Ibnu Sina dapat dibagi menjadi dua, yaitu: [54]
1.    Fisika, yang membicarakan tentang macam-macam jiwa.
a)    Jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah) memiliki 3 daya: makan, tumbuh dan berkembang biak.
b)   Jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah) memiliki 2 daya: gerak (al-mutaharrikah) dan menangkap (al-mudrikah), yaitu: menangkap dari luar dengan panca indera dan menangkap dari dalam dengan indera-indera batin. Indera batin terdiri atas 5 indera: indera bersama, indera al-khayyal, imajinasi, indera estimasi dan indera pemeliharaan (rekoleksi).
c)    Jiwa manusia (al-nafs al-nathiqah) yang memiliki dua daya, praktis (al-ámilat) dan teoritis (al-álimat). Daya praktis hubungannya dengan jasad, sedangkan daya teoritis hubungannya dengan hal-hal abstrak. Daya teoritis ini mempunyai empat tingkatan, yaitu: (a) Akal Materiil, yang mempunyai potensi untuk berpikir; (b) Akal al-malakat, yang telah mulai dilatih untuk berpikir tentang hal-hal abstrak; (c) Akal Aktuil, yang telah dapat berpikir tentang hal-hal abstrak; dan (d) Akal Mustafad, yang telah sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak dengan tanpa perlu daya upaya, sudah terlatih begitu rupa. Akal inilah yang sanggup menerima ilmu pengetahuan dari Akal Kesepuluh.[55]

2.    Metafisika, membahas tentang hal-hal berikut:[56]
a)    Wujud jiwa
b)   Hakikat jiwa
c)    Hubungan jiwa dengan jasad
d)   Kekekalan jiwa





BAB IV
PENUTUP
Tuhan menciptakan akal pikiran agar manusia berpikir, berpikir tentang berbagai dimensi kehidupan, baik dimensi ilahi, dimensi duniawi, dimensi ukhrawi atau dimensi-dimensi lainnya. Dalam Islam, akal diposisikan sebagai pembenar teks ilahi, yakni wahyu. Maka dari itu, wahyu harus ditempatkan di atas akal manusia. Begitupun dalam ranah filsafat Islam, wahyulah yang memegang otoritas utama. Berbeda dengan kalangan para filosof di luar Islam, semisal filosof Yunani, mereka menempatkan akal di atas segalanya. Jika wahyu atau teks keagmaan mereka bertentangan dengan akal, maka wahyu harus ditolak.
Filsafat Yunani, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, harus diakui telah memberi nuansa berpikir yang dinamis dan progresif bagi para ilmuwan Muslim, yakni melalui gerakan penerjemahan secara besar-besaran. Namun perlu ditegaskan, bahwa para filosof muslim tidak semata mengadopsi pemikiran Yunani, namun lebih dari itu mereka mereformulasi konsep-konsep yang baru daripada guru-guru mereka, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina yang merupakan murid Aristoteles, dan pemikiran keduanya terdapat perbedaan dengan sang guru. Hal demikian disebabkan oleh kondisi dan lingkungan di mana seorang filosof itu tinggal. Dengan kata lain, bahwa lingkungan sangat berperan dalam mengkonstruk sebuah pemikiran. Wallahu álam...













DAFTAR PUSTAKA
·      Asy’ari, Musa. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992.
·      Geertz, Clifford. The Interpretation of Culture. New York: Basic Book, Inc., 1973.
·      Muttahari, Murtadla. The Human Being in The Qur’an. Teheran: Islamic Propagation Organization, 1984.
·      Popkin, Richard H. “Origins of Western Philosophic Thinking: Introduction” dalam The Columbia History of Western Philosophy, ed. Richard H. Popkin. New York: Columbia University Press, 1893.
·      Soleh, Khudori. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
·      Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: The University of Chicago Press, 1982.
·      Jabiri, M. Abid al-. Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyyah Naqdiyyah li al-Nudzum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-Islamiyyah. Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1990.
·      Leaman, Oliver. Pengantar Filsafat Islam, terj. Amin Abdullah. Jakarta: Rajawali Press, 1988.
·      Madkur, Ibrahim. Filsafat Islam, terj. Yudian Wahyudi. Jakarta: Rajawali Press, 1996.
·      Stace, W.T. Tarikh al-Falsafat al-Yunaniyyah, terj. Mujahid Abdul Mun’im Mujahid. Kairo: Dar al-Tsaqafah li al-Nasyr wa al-Tauzi`, 1984.
·      Sudarto. Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002.
·      Hatta, Mohammad. Alam Pikiran Junani. Jakarta: Tinta Mas, 1966.
·      Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981.
·      Watt,  W. Montgomery. Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, terj. Umar Basalim. Jakarta: P3M, 1987.
·      Madjid, Nurcholish. (ed). Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
·      Shaliba, Jamil. al-Falsafah al-‘Arabiyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani, 1973.
·      Nasution, Harun. Islam Ditinjau Dari Bebabagi Aspeknya. Jakarta: UI Press, 1985.
·      Rahman, Fazlur. Islam. Jakarta: Pustaka, 1997.
·      Hodgson, Marshall G. S. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia. Jakarta: Paramadina, 2002.
·      Mundiri. “Menumbuhkan Inovasi dan Kreasi Ilmiah, dalam Jurnal Walisongo, Edisi 36, Juli 1992.
·      Penyusun, Tim. Ensiklopedi Indonesia 2. Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoevo dan Elsevier Publising Project, 1980.
·      Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat 1. Yogyakarta: Kanisius, 1980.
·      Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum: Akal dan Hati Dari Thales Sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.
·      Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
·      Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
·      Khalkan, Ibn. Wafayat al-A’yan, Jilid 5. Beirut: Dar Shadir, 1994.
·      Jam’ah, Muhammad Luthfi. Tarikh Falasifat al-Islam. Kairo: Mu`assasat Handawi li al-Ta’lim wa al-Tsaqafah, 2013.
·      Usaibi`ah, Ibn Abi. ‘Uyun al-Anba` fi Thabaqat al-Atibba’. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
·      Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat Islami. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
·      Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: Rajawali Press, 2012.
·      Iraqy, Muhammad `Atthif al-. al-Falsafah al-Thabi`ah Ibn Sina. Mesir: Dar al-Ma`arif, 1969.
·      Dasoeki, Thawil Akhyar. Sebuah Kompilasi Filsafat Islam. Semarang: DIMAS, 1993.
·      Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.









[1] Musa Asy’ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992), hlm. 94. Lihat buku aslinya Clifford Geertz, The Interpretation of Culture (New York: Basic Book, Inc., 1973), hlm. 11.
[2] Murtadla Muttahari, The Human Being in The Qur’an (Teheran: Islamic Propagation Organization, 1984).
[3] Richard H. Popkin, “Origins of Western Philosophic Thinking: Introduction” dalam The Columbia History of Western Philosophy (ed. Richard H. Popkin) (New York: Columbia University Press, 1893), hlm. 1.
[4] Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. viii.
[5] Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: The University of Chicago Press, 1982), hlm. 157-159.
[6] M. Abid al-Jabiri, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyyah Naqdiyyah li al-Nudzum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-Islamiyyah (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1990), hlm. 497-498.
[7] Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam, terj. Amin Abdullah (Jakarta: Rajawali Press, 1988), hlm. 8.
[8] Ibrahim Madkur, Filsafat Islam, terj. Yudian Wahyudi (Jakarta: Rajawali Press, 1996), hlm. 11.
[9] W.T. Stace, Tarikh al-Falsafat al-Yunaniyyah, terj. Mujahid Abdul Mun’im Mujahid (Kairo: Dar al-Tsaqafah li al-Nasyr wa al-Tauzi`, 1984), hlm. 26.
[10] Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 10.
[11] Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat...., hlm. 11.
[12] Mohammad Hatta, Alam Pikiran Junani (Jakarta: Tinta Mas, 1966), hlm. 5.
[13] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 28.
[14] I.R.Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, hlm.19.
[15] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani ....., hlm. 31 dan 54-55.
[16] Mohammad Hatta, Alam Pikiran Junani…, hlm. 5 dan 34.
[17] Musa Asy’ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan..., hlm. 2.
[18] W. Montgomery Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, terj. Umar Basalim (Jakarta: P3M, 1987), hlm. 54 dan 114.
[19] Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam...., hlm. 3.
[20] Nurcholish Madjid (ed), Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 23.
[21] Jamil Shaliba, al-Falsafah al-‘Arabiyah (Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani, 1973), hlm. 96.
[22] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Bebabagi Aspeknya (Jakarta: UI Press, 1985), hlm. 68.
[23] Jamil Shaliba, al-Falsafah al-‘Arabiyah..., hlm. 98.
[24] Oliver Leaman,  Pengantar Filsafat Islam, terj. Amin Abdullah (Jakarta: Rajawali Press, 1988), hlm. 10-11.
[25] Dalam bukunya, Jamil Shaliba tidak menyebut filsafat Islam melainkan filsafat Arab karena beberapa alasan. Pertama, karena karya-karya yang ditulis oleh para filosof ini ditulis dalam bahasa Arab; kedua, karena terbentuknya karya filsafat ini bukan hanya jerih payah orang Islam saja, namun juga ada jasa besar para penerjemah yang bukan beragama Islam; dan ketiga, kalau hendak menyebut filsafat Islam maka ada keharusan untuk memasukkan filosof- filosof Islam yang tidak menggunakan bahasa Arab. Akan tetapi diakhir argumentasinya ini, Shaliba mengatakan bahwa antara filsafat Arab dan filsafat Islam sebenarnya sama.
[26] Jamil Shaliba, al-Falsafah al-‘Arabiyah..., hlm. 129.
[27] Fazlur Rahman, Islam (Jakarta: Pustaka, 1997), hlm. 167.
[28] Jamil Shaliba, al-Falsafah al-‘Arabiyah..., hlm. 124-125.
[29] Jamil Shaliba, al-Falsafah al-‘Arabiyah..., hlm. 112.
[30] Mundiri, Menumbuhkan Inovasi dan Kreasi Ilmiah, dalam Jurnal Walisongo, Edisi 36, Juli 1992, hlm. 42.
[31] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 66.
[32] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Dari Thales Sampai Capra (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 66.
[33] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko dkk. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 165-166.
[34] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat..., hlm. 21.
[35] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 13.
[36] QS. Al-Isra`: 85.
[37] Ibn Khalkan, Wafayat al-A’yan, Jilid 5 (Beirut: Dar Shadir, 1994), hlm. 153.
[38] Muhammad Luthfi Jam’ah, Tarikh Falasifat al-Islam (Kairo: Mu`assasat Handawi li al-Ta’lim wa al-Tsaqafah, 2013), hlm. 33.
[39] Ibn Abi Usaibi`ah, ‘Uyun al-Anba` fi Thabaqat al-Atibba’ (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), hlm. 603.
[40] Ibn Khalkan, Wafayat al-A’yan..., hlm. 153.
[41] Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam...., hlm. 60.
[42] Osman Bakar, Hierarki Ilmu..., hlm. 32-35.
[43] Ibn Khalkan, Wafayat al-A’yan..., hlm. 155.
[44] Osman Bakar, Hierarki Ilmu..., hlm. 36.
[45] Ibn Khalkan, Wafayat al-A’yan..., hlm. 156.
[46] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islami (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 28.
[47] Disarikan dari bukunya Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: Rajawali Press, 2012), hlm. 87-88.
[48] Muhammad Luthfi Jam’ah, Tarikh Falasifat al-Islam ..., hlm. 72.
[49] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam..., hlm. 66-68.
[50] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam (Semarang: DIMAS, 1993), hlm. 34.
[51] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat ..., hlm. 37.
[52] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 125-126.
[53] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof..., hlm. 104.
[54] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme..., hlm. 34-35.
[55] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme..., hlm. 36-37.
[56] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof ..., hlm. 104-112.

No comments:

Post a Comment