BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam merupakan agama monoteis yang paling
benar dan terjamin keasliannya, sehingga dapat tersebar ke seluruh pelosok
dunia. Proses penyebaran ajaran Islam tersebut berjalan melalui serangkaian
proses yang sangat panjang. Sejarah mencatat bahwasanya perluasan wilayah atau ekspansi
Islam terjadi dalam dua gelombang. Ekspansi gelombang pertama dimulai pada masa
Nabi Muhammad saw, yang kemudian diteruskan oleh para sahabat Khulafa’ Rasyidin,
sepeninggalnya Nabi saw pada tanggal 8 Juni 632 M.[1] Pada
periode ini, hampir seluruh
Jazirah Arab dapat ditaklukkan di bawah kekuasaan Islam, dan pada periode ini
pula ekspansi ke luar Jazirah Arab baru dimulai.
Adapun
ekspansi gelombang kedua, dilakukan pada masa Dinasti Umayyah (661-750 M) setelah
berakhirnya masa Khulafa’ Rasyidin. Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebagai pendiri sekaligus
khalifah pertama dinasti ini, melanjutkan ekspansi Islam ke luar Jazirah Arab yang
sempat terhenti selama bertahun-tahun pada akhir kekuasaan khalifah Utsman bin
Affan hingga tumbangnya kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib.
Pada paper ini, penulis akan membahas ekspansi
Islam pada gelombang kedua, yakni pada masa Dinasti Umayyah. Selain membahas
bagaimana proses atau kronologi terjadinya ekspansi ke berbagai wilayah di luar
Jazirah Arab, penulis juga akan mencoba menganalisis faktor-faktor apa yang melatarbelakangi
kesuksesan berbagai ekspansi yang dilakukan oleh Dinasti Umayyah. []
B. Rumusan Masalah
Dari paparan singkat latar belakang masalah di
atas, dapat ditarik dua rumusan masalah, yaitu:
1.
Bagaimana proses ekspansi Dinasti Umayyah ke
luar Jazirah Arab?
2.
Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi
kesuksesan ekspansi tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN
Sebagaimana
disinggung pada latar belakang masalah di atas, bahwa proses ekspansi Islam
terbagi kepada dua gelombang. Ekspansi gelombang pertama, dimulai pada masa
Nabi saw yang lalu diteruskan oleh khalifah Abu Bakar Shiddiq. Setelah Abu
Bakar wafat pada tahun 13 H karena sakit,[2]
ekspansi tetap dilanjutkan oleh khalifah berikutnya, yakni Umar bin Khattab.
Pada masa khalifah Umar ini gelombang ekspansi pertama lebih mendapat perhatian.
Wilayah demi wilayah di luar jazirah dapat ditaklukkan. Pada tahun 14 H, Abu Ubaidah
bin al-Jarrah bersama Khalid bin Walid dengan pasukan mereka berhasil
menaklukkan kota Damaskus dari tangan kekuasaan Bizantium.[3] Kemudian,
dengan menggunakan kota Suriah sebagai basis pangkalan militer, ekspansi
diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin al-Ash.[4]
Sedangkan ke wilayah Irak, Umar bin Khattab mengutus Sa’ad bin Abi Waqqash
untuk menjadi gubernur di sana.[5]
Di masa
gelombang ekspansi pertama ini, al-Qadisiyah, sebuah kota yang terletak dekat al-Hirah
di Irak, dapat dikuasai oleh imperium Islam pada tahun 15 H.[6]
Dari kota itulah, ekspansi Islam berlanjut ke al-Madain (Ctesiphon), hingga
ibukota Persia ini dapat dikuasai. Karena al-Madain telah jatuh ke tangan
pasukan Islam, Raja Sasan Yazdagrid III akhirnya menyelamatkan diri ke sebelah
Utara.[7] Pada
tahun 20 H, kota Mosul yang notabene masih dalam wilayah Irak juga dapat
diduduki.[8]
Gelombang
ekspansi pertama di masa Umar bin Khattab menjadikan Islam sebagai sebuah
imperium yang tidak hanya menguasai Jazirah Arab, tapi juga Palestina, Suriah,
Irak, Persia, dan Mesir. Saat pemerintahan Umar bin Khattab berakhir karena
wafat terbunuh pada tahun 23 H,[9] Utsman
bin Affan sebagai khalifah ketiga tetap meneruskan kebijakan ekspansi ke
berbagai wilayah di luar jazirah Arab. Meski pada zaman Umar bin Khattab telah
dikirim balatentara ke Azerbaijan dan Armenia, pada masa Utsman bin Affanlah,
kedua wilayah itu baru berhasil dikuasai saat ekspansi dipimpin oleh al-Walid
bin Uqbah.[10]
Ketika Utsman
bin Affan menghadapi turbulensi politik di dalam negeri sehingga akhirnya ia
terbunuh pada tahun 35 H,[11]
Ali bin Abi Thalib pun naik ke tampuk kekuasaan sebagai khalifah keempat. Namun,
suhu politik di pusat kekuasaan Islam semakin tinggi sehingga terjadi beberapa
pemberontakan, seperti yang dipimpin oleh Aisyah dalam Perang Jamal,[12]
tahun 36 H. Khalifah Ali bin Thalib mau tak mau harus menumpas pemberontakan
tersebut. Akan tetapi, hal itu menguras kekuatan militer Islam sehingga
akhirnya gelombang pertama ekspansi ke luar jazirah Arab pun berhenti. Dengan
demikian, gelombang ekspansi kedua ini dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah yang
akan dibahas selanjutnya.
A. Ekspansi di Masa Dinasti Umayyah
Sebagai
pendiri sekaligus khalifah pertama Dinasti Umayyah, Muawiyah dinobatkan sebagai
khalifah di Iliya’ (Yerussalem), tahun 40 H/ 660 M. Dengan penobatannya itu,
ibu kota provinsi Suriah, yaitu Damaskus, berubah menjadi ibu kota kerajaan
Islam. Meskipun telah resmi dinobatkan sebagai khalifah, Muawiyah memiliki kekuasaan
yang terbatas karena beberapa wilayah tidak mengakui kekhalifahannya. Selama
proses tahkim berlangsung, ‘Amr bin al-‘Ash, tangan kanan Muawiyah,
telah merebut Mesir dari tangan pendukung ‘Ali. Meskipun demikian, para
penduduk di wilayah Irak mengangkat al-Hasan, putra tertua ‘Ali, sebagai
penerus ‘Ali yang sah, sedangkan penduduk di Mekkah dan Madinah tidak memiliki loyalitas
yang kokoh kepada penguasa dari keturunan Sufyan, karena mereka baru mengakui
kenabian Muhammad pada saat penaklukan Mekkah. Selain itu, pengakuan keislaman
mereka lebih merupakan upaya menyelamatkan kehormatan, bukan didasari keyakinan
yang jujur.[13]
Seiring
berjalannya waktu, Muawiyah berhasil meredam perlawanan dari kaum yang menolaknya.
Pemerintahan Muawiyah ini tidak hanya ditandai dengan terciptanya konsolidasi
internal, tetapi juga perluasan wilayah Islam. Pada masa pemerintahannya, peta
kekuasaan Islam melebar ke arah Timur sampai Kabul, Kandahar, Ghazni, Balakh,
bahkan sampai kota Bukhara. Selain itu, Kota Samarkand dan Tirmiz menjadi
wilayah kekuasaannya. Di Selatan tentaranya sampai ke tepi sungai Sindus.
Sementara itu, di front Barat panglima Uqbah ibn Nafi’ berhasil menaklukkan
Carthage (Kartagona), ibu kota Bizantium di Ifriqiyah.[14]
Mengenai
ekspansi pada masa Dinasti Umayyah, Ahmad Syalabi mengatakan dalam kitabnya, Mausu’at
al-Tarikh al-Islami, bahwa ekspansi yang dilakukan pada masa Dinasti Umayyah
meliputi tiga front penting, yaitu:[15]
1)
Front pertempuran melawan bangsa Romawi di Asia
Kecil. Di masa pemerintahan Bani Umayyah, pertempuran di front ini telah meluas
sampai kepada pengepungan terhadap kota Konstantinopel dan penyerangan terhadap
beberapa pulau di sekitar Laut Tengah.
2)
Front Afrika Utara. Front ini meluas sampai ke
pantai Atlantik dan kemudian menyeberangi selat Jabal Thariq (Gibraltar) sampai
ke Spanyol (Andalusia).
3)
Front Timur. Front ini meluas mulai dari Irak
menuju timur yang kemudian terbagi kepada dua cabang, yang satu menuju ke
utara, ke daerah-daerah di seberang sungai Jihun, serta yang kedua menuju ke
selatan, meliputi daerah Sind, wilayah India di bagian Barat.
1.
Pertempuran
Pasukan Muslim
melawan Imperium Romawi di Asia Kecil dan sekitar Konstantinopel
Tidak
diragukan lagi bahwa front ini menjadi front ekspansi terpenting bagi Dinasti
Umayyah, di mana kota Damaskus dijadikan sebagai ibu kota Daulah Islamiyyah.
Secara geografis, kota Damaskus berdekatan pada batas-batas kota Bizantium,
yang mana saat itu Muawiyah menjadi gubernur Suriah sejak masa kekhalifahan
Umar bin Khattab. Sejak saat itu, ia merasa bertanggungjawab atas keamanan dan
ketentraman penduduk Suriah. Maka tak heran, jika Umayyah (Muawiyah)
berkewajiban untuk mempertahankan wilayahnya sekaligus menghalau para musuh agar
menjauh darinya.
Selama
terjadinya fitnah sebelum eranya Muawiyah, yang mana mencakup beberapa tahun
terakhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan juga kekhalifahan Ali bin Abi
Thalib, berbuah positif bagi bangsa Romawi, yang kemudian mereka mendapatkan
kembali sebagian wilayah dari Armenia yang sebelumnya telah ditaklukkan tentara
Islam. Ketika Muawiyah melihat kesiapan tentara Romawi untuk menyerang—masih
pada saat terjadinya fitnah yang menyebabkan terbunuhnya Utsman—Muawiyah
terpaksa sebelum menghadapi tentaranya Ali bin Abi Thalib, ia melakukan
gencatan senjata dengan Kerajaan Romawi dan sekutunya dari Jarajimah,
dengan syarat membayar upeti demi menjamin keselamatan negaranya.[16]
Selanjutnya,
ketika fitnah tersebut menghilang, Muawiyah lalu bergegas untuk lebih
meningkatkan kekuatan pertahanan tentaranya. Sehingga jumlah angkatan lautnya
mencapai 1700 buah perahu yang dilengkapi dengan senjata dan keahlian
individual para tentaranya. Ia lalu melancarkan serangan ke bagian timur Laut
Mediterania (Mediterranean
Sea),
sehingga berhasil merebut kota Rhodes (53 H) dan Crete (54 H), sebagaimana mereka telah
menyerang pulau Sicilia dan pulau kecil bernama Arwad, dekat Konstantinopel, selanjutnya
pulau Cyprus yang telah
Muawiyah taklukkan pada masa khalifah Utsman. Adapun pimpinan pasukan yang
berperan dalam penyerbuan tersebut adalah Janadah bin Abi Umayyah.[17]
Setelah
Muawiyah dan pasukannya berhasil menguasai daratan di Konstantinopel, mereka
pun bergegas menuju wilayah perairan dengan maksud untuk menaklukkannya juga.
Muawiyah lalu mempersiapkan sekitar 100 buah kapal perang yang memuat berbagai
senjata lengkap dengan pasukannya, tujuannya adalah untuk mengepung sebuah kota
dekat dengan Konstantinopel. Kemudian, pasukan Muslimin pun berlayar menuju
laut Marmarah (Sea of Marmara) dengan mendapatkan banyak kemenangan yang
gemilang. Pada ekspansi kali ini, pasukan Muslimin dipimpin oleh Yazid bin
Muawiyah, yang juga didampingi oleh beberapa pejuang muslim lainnya,
seperti: Abu Ayyub al-Anshari, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar dan Ibnu
Abbas. Peperangan ini terjadi selama hampir 7 tahun yang mengakibatkan
terbunuhnya sahabat Abu Ayyub al-Anshari, jenazahnya lalu dimakamkan di sekitar
dinding pertahanan kota Konstantinopel.[18]
Selanjutnya,
pasukan Muslimin mengalami masa-masa kemunduran. Sebuah riwayat menyatakan
bahwa kemunduran tersebut terjadi pada akhir masa kekhalifahan Muawiyah atau
permulaan dari kekhalifahan Yazid bin Muawiyyah. Hal ini penting untuk
dicermati bahwa masa transisi dari peralihan kekuasaan tersebut secara tidak
langsung berpengaruh kepada stabilitas kebijakan perpolitikan (khususnya
politik ekspansi) yang sedang berjalan.
Kemunduran
ekspansi pada masa ini terjadi akibat tersebarnya fitnah dan serangan dari
dalam yang menyebabkan terbunuhnya khalifah Muawiyyah. Kemunduran itu berlanjut
sampai masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan. Bangsa Romawi pun
menyadari hal itu dan tidak menyianyiakan kesempatan tersebut. Mereka kemudian
melakukan serangan hingga berhasil menguasai sebagian besar wilayah taklukkan
pasukan Muslimin. Di antara kota-kota yang berpindah ke tangan mereka, yaitu:
Armenia, Suriah, ‘Asqalan, Lebanon dan Acre. Demi menjaga keselamatan jiwa, kaum Muslimin terpaksa harus
membayar upeti kepada mereka. Melihat kondisi tersebut, khalifah Abdul Malik lalu
melakukan konsiliasi dengan Kaisar Romawi, bahwa setiap hari Jum’at ia akan
memberikan uang 1000 dinar kepada kekaisaran Romawi, sebagai ganti dari
penarikan upeti terhadap umat Muslimin.[19]
Ketika
stabilitas perpolitikan di wilayah kekhalifahan Islam kembali normal, khalifah
Abdul Malik kembali melakukan serangan balasan terhadap kekaisaran Romawi,
sehingga ia berhasil mengambil kembali beberapa wilayah yang pernah ditaklukkan
pasukan Romawi, semisal kota Armenia. Pada tahun 84 H, khalifah Abdul Malik
mengirim pasukan ke Romawi di bawah komando Abdullah bin Abdul Malik dan
berhasil menaklukkan kota Mashishah.[20]
Kemudian
masuk pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik yang dikenal dengan ‘ahd
al-zafr al-wasi’ (era kemenangan yang gemilang). Akan tetapi, pada masa
Walid wilayah Romawi kurang mendapat perhatian hingga tidak mengalami perluasan
sedikitpun. Namun di sisi lain, Walid beserta pasukannya berencana untuk
menaklukkan kota-kota yang berada di wilayah Asia Kecil, dan berhasil mendobrak
benteng-benteng pertahanan musuh. Seiring waktu, khalifah Walid pun meninggal
dunia sebelum sempat mengirim pasukannya ke Romawi, karena lebih sibuk untuk
menaklukkan wilayah-wilayah lain.
Setelah
kematian Walid, tampuk kekhalifahan diteruskan oleh Sulaiman bin Abdul Malik
yang melakukan penyerangan ke wilayah kekaisaran Bizantium. Kemudian, serangan
secara besar-besaran di darat dan perairan pun dilakukan di bawah komando Maslamah
bin Abdul Malik. Berbagai kemenangan pun berhasil diraihnya sampai kemudian
melakukan pengepungan kembali atas Konstantinopel. Namun pengepungan tersebut
tidak membuahkan hasil, hingga Konstantinopel gagal untuk ditaklukkan.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 717 M. Akhirnya pada tahun 1543 H, pasukan
Muslimin berhasil menaklukkan ibu kota Bizantium tersebut di bawah pimpinan Muhammad
al-Fatih.[21]
2.
Peperangan
Pasukan Muslimin di Wilayah Afrika Utara dan Andalusia
a)
Afrika
Utara
Wilayah
pesisir Afrika Utara adalah wilayah yang tunduk di bawah kekuasaan Kekaisaran
Romawi, yang mana diperintah oleh bangsa Romania. Di samping wilayah pesisir
itu, wilayah Kekasisaran Romawi mencakup hutan belantara dan persawahan di
bagian selatan sampai ke negara Sudan.
Sebagaimana sejarah mencatat, bahwa ekspansi Islam pada masa khalifah
Utsman membentang sampai ke Burqah dan Tripoli. Sebenarnya, tujuan utama dari
penaklukkan kota Burqah dan Tripoli adalah untuk menguasai Mesir. Bangsa Romawipun
mulai memperbarui benteng-benteng pertahanan mereka di pesisir laut dan
mengirim bala tentara untuk berjaga-jaga. Penyerangan ini dibebankan oleh khalifah
Utsman kepada Muawiyah. Dalam hal ini, Muawiyyah mempercayakan kepada Uqbah
bin Nafi al-Fahri yang tinggal di Burqah pasca ditaklukkan pasukan Islam.
Uqbah bin Nafi ini sangat berjasa
dalam mengajak kaum Barbar untuk memeluk Islam.[22]
Ahmad
Syalabi menyatakan, bahwa ekspansi Islam di bawah Dinasti Umayyah ini
mendapatkan perlawanan sengit, yang mana berlangsung sekitar 60 tahun sejak
takluknya kota Burqah sampai tunduknya bangsa Romawi pada tahun 83 H. Pada masa
peperangan di wilayah Afrika Utara dan Maroko, Muawiyah bin Abi Sufyan
mengganti gubernur Mesir saat itu, Muawiyah bin Khudaiz, dengan Maslamah
bin Makhlad al-Anshari pada tahun 50 H. Menurut al-Thabari, peran Maslamah
sangat penting dalam mempersatukan antara wilayah Maroko, Mesir, Burqah, Afrika
dan Tripoli. Akan tetapi, pada masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah tampuk
kepemimpinan Mesir diserahkankan kepada Uqbah bin Nafi, yang mana ia
berhasil menguasai Samudera Atlantik.[23]
Kesadaran
politik Dinasti
Umayyah kembali muncul
pada masa Abdul Malik, yang mana ia mengirim pasukan dengan jumlah besar
di bawah panglima Hassan bin Nu’man. Pasukan tersebut berhasil
menaklukkan tentara Romawi dan mengusir mereka keluar dari Afrika Utara.
Selanjutnya, Musa bin Nushair pun didaulat
untuk menggantikan Hassan bin Nu’man sebagai gubernur Afrika Utara dan Maroko.
Pengangkatan tersebut terjadi pada akhir kekhalifahan Abdul Malik atau permulaan kekhalifahan Walid. Pada masa kepemimpinannya,
Musa bin Nushair berhasil menaklukkan kota Tangier yang
sebelumnya belum pernah ditaklukkan, lalu kota Sabtah yang terletak di
pesisir pantai Afrika. Kota Sabtah merupakan pengikut dari kerajaan
Ghotic.[24]
b)
Andalusia[25]
Andalusia (kawasan Spanyol dan Portugis sekarang) mulai
ditaklukan oleh umat Islam pada masa
khalifah al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), di mana tentara Islam
sebelumnya telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi
dari dinasti Bani Umayyah. Proses penaklukan ini dimulai dengan kemenangan
pertama yang dicapai Thariq bin Ziyad
dengan cara membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi.
Kemudian pasukan Islam di bawah pimpinan Musa bin Nushair juga berhasil
menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville dan Merida, serta mengalahkan
kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, yang kemudian ia
bergabung dengan Thariq di Toledo.
Keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol termasuk bagian
utaranya, mulai dari Zaragoza
sampai Navarre.
Gelombang perluasan
wilayah berikutnya dilanjutkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin
Abdul Aziz, tahun 99 H/ 717 M, di mana sasarannya ditujukan untuk
menguasai daerah sekitar pegunungan Pirenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan
kepada al-Samah, tetapi usahanya itu gagal sehingga ia terbunuh pada
tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman bin
Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordeaux, Poitiers dan dari sini ia
mencoba menyerang kota Tours. Pertempuran
ini dikenal dengan nama Pertempuran Tours. Di kota inilah al-Ghafiqi
ditahan oleh Charles Martel. Ia pun meninggal, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara
muslim ditarik mundur kembali ke Spanyol.
Pada masa penaklukkan Spanyol oleh pasukan Islam, kondisi sosial, politik, dan
ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah
Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil.
Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran
agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, terlebih kepada
penganut agama lain seperti Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar
dari penduduk Spanyol, dipaksa untuk dibaptis menurut agama Kristen. Adapun yang tidak bersedia,
disiksa dan dibunuh
Buruknya kondisi
sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan
politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderic, Raja Gothic terakhir yang dikalahkan
pasukan Muslimin. Awal
kehancuran kerajaan Visigoth
adalah ketika Roderic memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo. Sementara Witiza, yang saat itu menjadi
penguasa wilayah Toledo diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah
dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit
menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderic. Mereka pergi ke Afrika Utara dan
bergabung dengan kaum Muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Raja
Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung
dengan kaum muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol.
Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif,
Thariq dan Musa.
Hal yang menguntungkan
tentara Islam lainnya adalah
bahwa tentara Roderic yang
terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain
itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan
memberikan bantuan kepada pasukan Muslimin. Sewaktu penaklukan itu, para
pemimpin penaklukan tersebut terdiri dari tokoh-tokoh yang kuat dan mempunyai
tentara yang kompak serta penuh percaya diri. Yang tak kalah pentingnya adalah
ajaran Islam yang ditunjukkan
para tentara Islam, yaitu: toleransi, persaudaraan dan tolong menolong. Sikap
toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum Muslimin itu menyebabkan
penduduk Spanyol menyambut
kehadiran Islam di sana.
3.
Peperangan
Pasukan Muslimin di Transoxiana dan Sungai Sind
a)
Transoxiana
Negara Transoxiana
(ma wara’a al-nahr) adalah negara yang terletak di antara Sungai Jihun
dan Sungai Syr-Darya. Di antara kerajaan yang pernah berjaya di wilayah ini adalah:[26]
1)
Kerajaan Tukhristan, di samping Sungai Jihun dan ibu kotanya
adalah Balkh.
2)
Kerajaan Shafaniyan, sebelah utara Sungai
Jihun dan ibu kotanya, Schumann.
3)
Kerajaan Shind, dari Sungai Jihun sampai Sungai Sihun dan ibu
kotanya adalah Samarkand, dengan Bukhara sebagai salah satu kota pentingnya.
4)
Kerajaan Farghanah, di sebelah Sungai Sihun dan
ibu kotanya adalah Kasyan.
5)
Kerajaan Khawarizm, di dataran paling atas Sungai
Sihun dan ibu kotanya adalah Jurjaniyah.
6)
Kerajaan Asyrusinah, sebelah timur kerajaan Farghanah,
dll.
Peperangan
melawan negara-negara ini dimulai sejak masa khalifah Muawiyah di bawah
panglima perang Qais ibn al-Haitsam yang ketika itu menjabat sebagai
gubernur Khurasan. Diceritakan bahwa penduduk
Badghis, Hirrah dan Balkh, telah merusak suasana perdamaian dengan saling
berperang. Qais pun pergi ke Balkh untuk menghancurkan kuil mereka, hingga
penduduk Balkh pun meminta perdamaian, dan itu disetujui oleh Qais. Saat
penduduk Badghis dan Hirrah tahu apa yang terjadi kepada penduduk Balkh, kedua
kota tersebut akhirnya meminta perdamaian lebih dulu sebelum diserang dengan
syarat-syarat tertentu.
Selanjutnya, Muawiyah mengutus Ziyad bin Abihi menuju
Irak, yang kemudian digantikan oleh anaknya, Ubaidullah. Di bawah
pimpinan Ubaidullah, serangan pasukan Muslimin sampai ke Bukhara dan Samarkand.
Serangan pasukan Muslimin pun berhenti di sini disebabkan oleh banyaknya
pemberontakan di dunia Islam. Saat itu, wilayah Irak dan Khurasan telah
disandarkan kepada Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj pun lalu mempersiapkan para
pemimpin untuk menyerang kota-kota ini, di antaranya: Mahlab bin Abi Shafrah,
Yazid bin Mahlab (anaknya Mahlab), al-Mufadhal (saudara Hajjaj),
dan Qutaibah.[27]
Peperangan yang dipimpin Qutaibah terjadi pada
permulaan masa khalifah Walid bin Abdul Malik sampai masa khalifah Sulaiman. Di
bawah kepemimpinan Qutaibah inilah pasukan Muslimin berhasil menguasai
kota-kota yang berada di wilayah Nahrain (dua Sungai: Sungai
Jihun dan Sungai Syr-Darya). Qutaibah tidak hanya
menaklukkan kota-kota tersebut, namun juga mengajak penduduknya memeluk Islam
dan meninggalkan dari menyembah berhala.
Setelah berakhir peperangan di Nahrain yang
berdekatan dengan China, Qutaibah pun berencana untuk menaklukkan negara tersebut.
Kalau bukan karena kematian Walid dan munculnya perselisihan antara Sulaiman
dengan Qutaibah, mungkin sejarah Islam di China akan berubah. Al-Thabari
menceritakan bahwa Qutaibah mengirim surat kepada raja Negara China yang
berisikan 3 pilihan: masuk Islam, membayar Jizyah atau berperang. Pada awalnya,
sang raja menolaknya. Namun setelah tahu akan kebesaran dan kekuatan pasukan
yang dibawa Qutaibah, sang raja memberikan hadiah kepada Qutaibah beberapa
wilayah. Jikalau pada saat itu kekhalifahan tidak dipimpin oleh Sulaiman, maka
ia akan terus menyerang Negara China. Selain beberapa tokoh penting yang telah
disebutkan sebelumnya, ada dua orang tokoh lagi, yaitu Asad bin Abdullah
dan Nashr bin Sayyar, keduanya menjabat sebagai gubernur Khurasan pada
masa Hisyam bin Abdul Malik. Keduanya dikenal telah banyak melakukan
penyerbuan di Negara ini.[28]
b) Wilayah Sind
Negara Sind adalah negara yang dikelilingi oleh Sungai
Sindus, memanjang dari arah barat mulai dari Iran sampai gunung Himalaya di
sebelah timur laut, berbatasan dengan benua Amerika di sebelah selatan. Negara
Sind merupakan bagian dari Negara India sebelum penaklukkan Islam. Adapun
Negara India terdiri dari beberapa kerajaan, baik yang kuat maupun yang lemah.
Namun, masing-masing kerajaan memiliki kewajiban dalam menghalau serangan dari
luar, khususnya dari Iran, Turki, China yang dekat dengan benua Amerika. Sejak
penaklukkan pasukan Muslimin terhadap Persia, mereka lalu melanjutkan ekspansi
menuju Khurasan sampai ke negeri Sind.[29]
B. Faktor-Faktor Kesuksesan Ekspansi Dinasti
Umayyah
Di antara faktor-faktor yang
melatarbelakangi ekspansi Islam ke luar Jazirah Arabia demikian cepat dan
sukses adalah sebagai berikut:[30]
1)
Ajaran Islam untuk selalu berdakwah. Hal tersebut
banyak diungkapkan dalam al-Qur’an dan hadits, bahwa mereka akan mendapatkan
pahala melimpah.
2)
Ajaran Islam untuk berjihad di ajalan Allah. Dengan tujuan berjihad dalam
membela agama Allah, para pasukan Islam menjadi tidak takut akan mati karena
jika matipun mereka mati dengan syahid.
3)
Negara-negara yang menjadi target ekspansi Islam telah mengalami kelemahan,
hingga memudahkan pasukan Islam untuk mengalahkan mereka.
4)
Kebijakan Kerajaan Bizantium yang memaksakan
aliran keagamaan membuat rakyat merasa kehilangan kemerdekaan untuk beragama.
5)
Rakyat dibebani dengan pajak yang tinggi
guna menutupi anggaran perang Kerajaan Bizantium dengan Kerajaan Persia.
6)
Kondisi rakyat yang tertindas memudahkan Islam untuk diterima sebagai
agama dan penguasa alternatif yang diharapkan mampu membebaskan mereka.
7)
Tradisi bangsa Arab yang gemar berperang yang lalu dijadikan mata
pencaharian.
8)
Islam tidak memaksakan agama kepada siapapun.
9)
Tidak ada sikap fanatisme baik di kalangan pejabat tinggi Negara maupun di
antara masyarakatnya.
10) Sistem kemiliteran
pasukan Islam sudah semakin lengkap dan maju, terlebih orang-orang Barbar
banyak yang masuk Islam.
11) Antara satu
khalifah dengan khalifah lain tidak ada perselisihan yang menyebabkan
terjadinya kudeta kekuasaan.
12) Bantuan militer
dari luar Islam yang mana mereka memiliki tujuan yang sama untuk menaklukkan
suatu Negara.
13) Harta hasil
peperangan (ghanimah) digunakan untuk kepentingan pasukan Muslimin dan
melengkapi persenjataan.
BAB III
PENUTUP
Dinasti Umayyah merupakan dinasti yang sarat
dengan berbagai kemajuan di berbagai bidangnya tanpa menafikan adanya
kekurangan yang dimiliki, termasuk bidang perpolitikan luar negeri, seperti
ekspansi. Bagaimanapun, ekspansi ini tidak mencirikan bahwasanya agama Islam
tersebar dengan menggunakan peperangan ataupun pedang, sebagaimana tuduhan
umat-umat di luar Islam. Adapun pada masa Dinasti Umayyah ini, kegiatan
ekspansi didasarkan pada kewajiban agama untuk mendakwahkan ajaran Ilahi ke
seluruh penjuru dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Haekal, Muhammad Husain. Sejarah
Hidup Nabi Muhammad, terj.
Ali Audah.
Jakarta: Litera Antar Nusa, 2006.
Suyuthi, Abdur Rahman bin Abu Bakar al-. Tarikh al-Khulafa`. Mesir: Mathba’ah al-Sa’adah, 1952.
Khayyath, Khalifah bin. Tarikh Khalifah bin Khayyath. Damaskus: Dar al-Qalam, 1397 H.
Thabari, Muhammad bin Jarir al-. Tarikh al-Umam wa al-Mulk. Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, 1407 H.
Fida, Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi Abu
al-. al-Bidayah
wa al-Nihayah, Juz VII. Beirut:
Maktabah al-Ma’arif, tt.
Khaldun, Abd al-Rahman bin. Tarikh
ibn Khaldun, Juz II. Beirut:
Dar al-Fikr, 2000.
Hitti, Philip K. History of the Arabs,
terj. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006.
Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara, 2012.
Syalabi, Ahmad. Mausu’at al-Tarikh al-Islami
wa al-Hadlarah al-Islamiyyah, Jilid 2. Kairo:
Maktabah al-Nahdlah al-Mishriyyah, 1984.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan
Arab. Jakarta: Logos, 1997.
Zaid, ‘Ula Abdul Aziz Abu. al-Daulah
al-Umawiyyah: Daulat al-Futuhat. Kairo:
al-Ma’had al-‘Alimi li al-Fikr al-Islami, 1996.
Syahin, Hamdi. al-Daulah al-Umawiyyah al-Muftara ‘alaiha:
Dirasat al-Syubhat wa Radd al-Muftarayat. Kairo:
Dar al-Qahirah li al-Kutub, 2001.
Atsir, Ibn al-. al-Kamil
fi al-Tarikh, Juz II. Beirut:
Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1987.
Hodgson, Marshall
G. S. The Venture Of Islam: Iman dan Sejarah
dalam Peradaban Dunia. Jakarta: PARAMADINA, 1999.
Nasution, Harun. Islam
Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press, 2001.
[1]
Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Nabi Muhammad, terj. Ali Audah
(Jakarta: Litera Antar Nusa, 2006), hlm. 583.
[2] Abdur
Rahman bin Abu Bakar al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa` (Mesir: Mathba’ah
al-Sa’adah, 1952), hlm. 74.
[3]
Khalifah bin Khayyath, Tarikh Khalifah bin Khayyath (Damaskus: Dar al-Qalam, 1397 H), hlm.
22-23.
[4]
Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk (Beirut: Dar
al-Kitab al-Ilmiyyah, 1407 H), hlm. 511-512.
[5] Ismail
bin Umar bin Katsir al-Qarsyi Abu al-Fida, al-Bidayah wa al-Nihayah, Juz VII
(Beirut: Maktabah al-Ma’arif, tt.), hlm. 30.
[6] Ismail
bin Umar bin Katsir al-Qarsyi Abu al-Fida, al-Bidayah wa al-Nihayah...,
hlm. 47.
[7] Abd al-Rahman
bin Khaldun, Tarikh ibn Khaldun, Juz II (Beirut: Dar al-Fikr, 2000),
hlm. 536.
[8] Abd
al-Rahman bin Khaldun, Tarikh ibn Khaldun..., hlm. 543.
[9]
Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk..., hlm. 587.
[10]
Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk..., hlm. 591.
[11] Ismail
bin Umar bin Katsir al-Qarsyi Abu al-Fida, al-Bidayah wa al-Nihayah...,
hlm. 170.
[12] Ismail
bin Umar bin Katsir al-Qarsyi Abu al-Fida, al-Bidayah wa al-Nihayah...,
hlm. 229-230.
[13] Philip
K. Hitti, History of the Arabs, terj. (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta,
2006), hlm. 236.
[14] M.
Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta:
Bagaskara, 2012), hlm. 114.
[15] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami wa al-Hadlarah al-Islamiyyah,
Jilid 2 (Kairo: Maktabah al-Nahdlah al-Mishriyyah, 1984), hlm. 112-113.
Bandingkan dengan, Ali Mufrodi,
Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos, 1997), hlm. 80; ‘Ula Abdul
Aziz Abu Zaid, al-Daulah al-Umawiyyah: Daulat al-Futuhat (Kairo:
al-Ma’had al-‘Alimi li al-Fikr al-Islami, 1996), hlm. 21-45; Hamdi Syahin, al-Daulah
al-Umawiyyah al-Muftara ‘alaiha: Dirasat al-Syubhat wa Radd al-Muftarayat
(Kairo: Dar al-Qahirah li al-Kutub, 2001), hlm. 18.
[16] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 113-114.
[17] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 114-115.
[18] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 116. Lihat juga, Ibn
al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, Juz II (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 1987), hlm. 228.
[19] Ahmad Syalabi,
Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 117-118.
[20] Muhammad
bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk..., hlm. 185.
[21] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 119.
[22] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 120-121.
[23] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 122.
[24] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 123.
[26] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 134-135.
[27] Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 136-137.
[28] Muhammad
bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam…, hlm. 269-270..
[29] Baca selengkapnya, Ahmad
Syalabi, Mausu’at al-Tarikh al-Islami ..., hlm. 139-141.
No comments:
Post a Comment