Oleh: Eed Hudaibillah, S.Th.I
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر x٩... الله اكبر كبيرا
والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا، لاإله إلا الله وحده صدق وعده ونصر
عبده وأعز جنده وحزم الأحزاب وحده، لاإله إلاالله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له
الدين ولو كره الكافرون، لاإله إلا الله الله اكبر، الله اكبر ولله الحمد...
الحمد لله الذي أمر رسوله بالنحر يوم عيد الأضحى، لترقية
الإيمان والتقوى إلى الله عز وجل، وهو مالك الدنيا الفناء. اصلى صلاة واسلم سلاما على
خير خلق الله المصطفى، محمد صلى الله عليه وآله وسلم وهو المبعوث الى آفاق الدنيا،
ليعلم الناس بأيات الله الحسنى. اما بعد:
فيا عباد الله السابقين الى الهدى! أوصيني وإياكم بالتقوى
الى معطى الهدى فقد فاز من اهتدى. أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم: وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى... (البقرة: 197)
وقال
رسول الله صلى الله عليه وسلم: إتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحوها
وخالق الناس بخلق حسن (الحديث)
صدق الله العظيم وصدق رسوله النبي الكريم ونحن على ذلك من
الشاهدين والحمد لله رب العالمين.
Alhamdulillah... Untaian puja dan
kalimat cinta nan mulia, marilah kita sanjungkan ke hadirat Allah ta’ala, atas karunia dan keluasan kasih sayang-Nya kita dapat berkumpul
di masjid ini untuk menunaikan shalat sunah Hari Raya ‘Iedul Adha berjamaah.
Rahmat dan keselamatan semoga tetap dilimpahkan kepada Pendiri Panji Agama Islam,
Sang Cahaya di atas Cahaya, dialah Nabi Muhammad saw, Sang manusia pilihan
yang sangat kita nanti-nanti syafa’atnya di akhirat kelak.
Khatib berwasiat khusus kepada diri
khatib sendiri dan umumnya seluruh jama’ah sekalian, marilah kita senantiasa
meningkatkan kualitas takwa kepada Allah ta’ala, takwa yang menurut Sang Hujjatul Islam, Imam Ghazali: imtitsaal
awaamirillaah wa ijtinaab nawaahih, yaitu sebuah ketundukkan dan ketaatan
terhadap perintah Allah swt dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Takwa inilah yang mampu membuka kenikmatan
surganya Allah swt.
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied
rahimakumullah!
Tidak terasa, lantunan takbir, tahmid,
tasbih dan tahlil dapat kita dengar dan kumandangkan kembali di tahun yang
penuh dengan nuansa kesenangan, kemenangan dan Kemahaagungan Allah swt. Oleh karena itu, kalimat syukur alhamdulillah,
selayaknya selalu kita dawamkan di setiap helaan nafas kita. Jangan
sampai ada satu tarikan nafas pun yang luput dari memuji dan berdzikir kepada
Allah swt. Akan tetapi, ungkapan pujian dan dzikir seakan tak berarti jika
substansi yang terkandung di dalamnya tidak bisa terrefleksikan dalam kehidupan
kita sehari-hari. Na’udzubillah…
Sebagaimana kita maklumi bersama,
bahwa ajaran Islam nan mulia ini memiliki dua perayaan keagamaan yang
disyari’atkan oleh Rasulullah saw, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Kedua perayaan tersebut merupakan dua puncak kemenangan dan kebahagiaan setelah
ditunaikannya dua bentuk kewajiban kepada Allah swt. Hari Raya Idul Fitri
adalah puncak dari serangkaian ibadah puasa dan ibadah sunah lainnya satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Adapun Hari Raya Idul
Adha merupakan puncak dari serangkaian ibadah haji dan ibadah sunah lainnya yang kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban bagi
mereka yang mampu secara finansial. Dalil pensyari’atan berkurban ini termaktub dalam Surat Al-Kautsar, yaitu:
إِنَّا
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ
هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS. Al-Kautsar: 1-3)
Berkaca
pada ayat di atas, ibadah kurban sebenarnya diwajibkan kepada Nabi Muhammad saw
dan umatnya, sebagaimana terlihat pada ayat kedua yang menggunakan kata kerja amar
(yaitu: wanhar) sebagai petanda dari kewajiban dilaksanakannya ibadah
tersebut. Hal demikian didasarkan pada kaidah ushul fikih, al-ashlu fil-amri
lil wujub, artinya: asal dari perintah adalah wajib sampai ada dalil
yang menghukumi akan ketidakwajibannya. Lalu, munculah hadis Nabi saw yang menghukumi
menjadi ibadah sunah bagi umat Islam dan wajib hanya pada diri Nabi saw saja, sebagaimana sabda beliau saw:
أمرت بالنحر وهو سنة لكم. (رواه الترمذي)
Aku diperintahkan untuk
menyembelih kurban, sedang kurban bagi kamu adalah sunah. (HR. tirmidzi)
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied
rahimakumullah!
Teramat besar
hikmah keteladanan yang terkandung dan dapat dipelajari dalam pensyari’atan
ibadah kurban ini. Sejarah Islam mencatat, bahwa ibadah kurban merupakan tapak
tilas dari ketaatan seorang hamba yang mulia, Nabi Ibrahim AS, kepada Rabb-nya.
Tidak semata dari Nabi Ibrahim AS kita dapat menimba keteladanan yang berharga,
namun dari Nabi Ismail AS beserta Siti Hajar pun kita dapat pelajaran yang
harus diteladani sebagai seorang anak dan istri. Maka tak heran jika Allah swt
memberi penghargaan pada keluarga Ibrahim AS sebagai keluarga teladan menurut
versi al-Qur’an, sebagaimana terabadikan dalam firman-Nya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ
مَعَهُ...
Sesungguhnya telah ada suri
teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia… (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Pertama:
Keteguhan Iman Nabi Ibrahim AS dari Pra-Pasca diangkat menjadi Rasulullah
Kita tahu bahwasanya Ibrahim muda
dilahirkan dan tumbuh di lingkungan masyarakat yang sangat mencintai dan menghargai
seni pahat atau seni membuat patung. Bahkan sang ayah Ibrahim sendiri, yakni
Azar, adalah salah satu pembuat patung terkemuka di masanya. Alhasil, karena kecintaan mereka terhadap seni tersebut, sehingga Tuhan pun
dipersonifikasikan dengan benda yang mereka ciptakan sendiri, yakni berhala sebagai sesembahan mereka.
Di tengah budaya seperti itu, Ibrahim
muda dengan fitrah insaniyahnya yang masih lurus dan akal yang sehat pun
bangkit menggugat dan melakukan peninjauan ulang. Dengan mengamati fenomena alam,
Ibrahim melakukan dialog untuk mencari kebenaran sejati. Dari pengamatan terhadap
fenomena alam yang terjadi, Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan bukanlah seperti apa
yang dipersonifikasikan dalam bentuk benda-benda, semisal berhala yang dibuat
oleh umatnya, ataupun bulan, bintang dan matahari sekalipun, ia yakini bukan
Tuhan yang sebenarnya.
Allah swt berfirman:
وَكَذَلِكَ
نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ
الْمُوقِنِينَ (75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ
هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76) فَلَمَّا رَأَى
الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ
يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ
بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ
إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي
فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Dan demikianlah Kami perlihatkan
kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi,
dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata:
"Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
"Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat
bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu
terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk
kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala
dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih
besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai
kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan
bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang2
yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-An’am: 75-79)
Begitupun,
saat Nabi Ibrahim AS diangkat menjadi nabi dan rasul untuk menyeru kepada umatnya,
ia tak hentinya diuji oleh Allah swt, yang pada saat itu ia diperintah melalui
mimpi untuk menyembelih putera sematawayangnya, yakni Ismail AS. Ayah mana yang tega dan berani menyembelih anaknya
sendiri dalam keadaan hidup?! Namun, di sinilah letak keteguhan iman sang
Ibrahim AS sehingga kemudian ia diberi gelari Khalilullah, Kekasih
Allah. Setelah mimpi itu disampaikan pada sang anak, tanpa keraguan sedikit pun
mereka berdua hendak menjalankan titah Allah tersebut.
Pertanyaan yang muncul,
mampukah kita mengorbankan harta yang kita miliki atau bahkan keluarga yang
kita cintai demi ketaatan kepada Allah swt? Ironisnya, jangankan untuk mengorbankan
anak dan keluarga, terkadang untuk mengisi kotak infaq pun kita enggan.
Na’udzubillah!
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied
rahimakumullah!
Kedua: Ketaatan Seorang Siti Hajar
dalam Menaati Perintah Suami
Banyak riwayat dan
kitab-kitab sejarah yang mengabadikan sosok mulia dari seorang Siti Hajar
sebagai istri Ibrahim sang Khalilullah, bahkan al-Qur’an pun merekam suatu masa
tatkala ia ditinggalkan oleh sang suami,
Nabi Ibrahim AS, di sebuah lembah berbatu dan tidak mempunyai tanam-tanaman. Tak hanya itu, lembah tersebut
tak ubahnya bagaikan padang pasir tanpa pasokan air sedikit pun. Namun, atas
ijin Allah swt dan dengan kegigihan iman Siti Hajar, ia bolak-balik di antara
bukit shafa dan marwah untuk mencari sumber air, sehingga
akhirnya proses itu dijadikan sebagai rukun dari ibadah haji.
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي
زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ
أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ
لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku
telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai
tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami
(yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati
sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari
buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)
Dengan penuh kepercayaan,
Siti Hajar mengiringi kepergian suaminya itu seraya berkata: Ya Ibrahim,
aina tadzhab? (Wahai Ibrahim, kemana engkau pergi?) Namun Nabi Ibrahim
tidak menoleh kepadanya. Kemudian, Siti Hajar berkata lagi: allahulladzi
amaraka bi hadza? (Apakah Allah yang memerintahkan ini?) Nabi Ibrahim
menjawab: na’am (Iya). Maka, dengan senyuman merekah Siti Hajar berucap:
Jika demikian, Allah swt pasti tidak akan menyia-nyiakan kami. Inilah
bukti keshalehahan seorang istri Nabi yang taat kepada Tuhannya.
Pertanyaan yang muncul,
sudahkah kita mendidik dan membekali istri-istri kita dengan keimanan dan
ketakwaan yang kokoh pada Allah swt? atau bahkan, kita sendiri tidak memiliki dua point itu? Jadikanlah petanyaan ini sebagai motivator kita
untuk berupaya lebih keras dalam mendidik akhlak istri kita agar patuh dan menerima terhadap ketentuan yang telah Allah
swt berikan.
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied
rahimakumullah!
Ketiga: Keshalehan Seorang Ismail
AS dengan Kebaktiannya kepada Orang Tua dan Tuhannya
Pendidikan tauhid yang
Nabi Ibrahim AS ajarkan pada anaknya, Ismail AS, tidak sia-sia. Terbukti saat
Ismail AS diberitahukan perihal mimpi sang ayah untuk menyembelih dirinya, ia
tidak menampik sedikit pun. Ismail AS pun berkata pada ayahnya, sebagaimana
termaktub dalam al-Qur’an:
قَالَ
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ
Ia menjawab: "Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat: 102)
Subhanallah! Betapa
taatnya Nabi Ismail AS kepada perintah Allah swt sebagai Rabb-nya, sehingga ia rela disembelih hidup-hidup tanpa
kekhawatiran sedikit pun. Oleh karena itu, atas keikhlasannya dalam menaati
perintah-Nya, Allah swt pun mengganti
Ismail AS dengan seekor hewan
kurban. Nabi Ismail AS pun selamat dan lulus dari ujian itu. Semoga Allah swt
menganugerahkan kepada kita keturunan yang shaleh. Amin Ya Rabb!
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah
kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Ash-Shaffat: 100)
Allahu Akbar 3x wa lillahilhamd…
Hadirin, Jama’ah Shalat Ied
rahimakumullah!
Marilah kita bermunajat kepada Allah
swt agar kita selalu dibimbing untuk meneladani keluarga Ibrahim AS. Mari kita angkat tangan kita, tundukkan
kepala kita, pejamkan mata kita dan khusyu’kan hati kita. Yakinilah bahwa Allah
swt semata yang mampu memberikan kemaslahatan pada kita, dan hanya Allah jualah
yang mampu memberikan madharat dalam hidup dan mati kita. Hilangkan rasa iri,
dengki, hasud, sombong dan penyakit hati lainnya. Kita hanyalah makhluk tiada
daya dan upaya melainkan atas kehendak-Nya.
أعوذ بالله من الشيطان
الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات
والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضي
الحاجات. اللهم اغفر لنا ذنوبنا وذنوب والدينا وارحمهم كما ربونا صغارا. اللهم
اجعل جمعنا هذا جمعا مرحوما، واجعل تفرقنا من بعده تفرقا معصوما، ولا تدع فينا ولا
معنا شقيا ولا محروما. اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى، ونعوذبك من
جهل البلاء ودرك الشقاء وسوء القضاء وشماتة الأعداء. اللهم انصر الإسلام والمسلمين
واهلك الكفرة والمشركين ودمر أعداءك أعداء الدين. ربنا تقبل منا انك انت السميع
العليم. وتب علينا انك انت التواب الرحيم. وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي
وعلى آله وصحبه وبارك وسلم. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين
والحمد لله رب العالمين. الفاتحة........
No comments:
Post a Comment