Wednesday, December 24, 2014

Tokoh-tokoh Yang Berperan Dalam Pengembangan Hadits dan Ilmu Hadits



A.  Pendahuluan
Sebagai sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an, hadits memiliki fungsi strategis dalam kajian-kajian keislaman. Namun karena pembukuan hadits baru dilakukan dalam rentan waktu yang cukup lama sejak meninggalnya Nabi saw, ditambah kenyataan sejarah bahwa hadits pernah dipalsukan, maka orisinalitas hadits yang beredar di kalangan umat Islam patut diteliti. Di sisi lain, kenyataan sejarah tersebut juga sering dijadikan celah oleh musuh-musuh Islam untuk merongrong akidah umat agar berpaling dari hadits. Terlebih diketahui bahwa lingkungan hidup Nabi saw saat itu kurang akrab dengan budaya tulis-menulis. Untuk itu, keabsahan dan orisinalitas hadits yang ada memang harus diteliti.
Para ulama salaf, sejak masa-masa awal Islam telah menunjukkan dedikasi untuk melakukan penelitian dan seleksi ketat terhadap hadits Nabi. Hal itu dimaksudkan untuk melestarikan hadits Nabi sebagai sumber orisinal ajaran agama. Untuk tujuan itu, mereka menciptakan seperangkat kaidah, norma dan metode yang kemudian dibakukan oleh ulama khalaf. Tanpa pemahaman ‘paripurna’ terhadap kaidah, norma dan metode tersebut, sulit bagi seseorang untuk mengetahui orisinalitas dan keabsahan hadits Nabi.
Dalam makalah ini, penulis akan membahas tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pengembangan hadits dan ilmu hadits dari masa sahabat kecil sampai atba’u tabi’in. Kajian tersebut meliputi biografi tokoh, rihlah keilmuan, karya-karya yang dihasilkan, serta aspek lainnya. Meskipun begitu, kajian terhadap tokoh-tokoh hadits beserta karya-karyanya tidak mungkin dibahas semuanya secara mendetail dalam makalah ini, karena keterbatasan waktu. []




B.  Tokoh - Tokoh Hadits dan Ilmu Hadits
1.    Abu Hurairah (19 SH - 59 H)
Beliau bernama Abdullah bin Shakhr al-Dawsi al-Yamani. Namanya di masa jahiliyah adalah ‘Abd Syams, lalu Rasulullah saw menamainya ‘Abd al-Rahman yang lebih dikenal dengan nama panggilan (kunyah) Abu Hurairah. Ketika ditanya mengapa ia digelari Abu Hurairah, ia menjawab: “saya diberi gelar tersebut karena suatu ketika saya menemukan seekor kucing (hirrah), lalu saya membawanya di dalam pakaian saya, dan dari sanalah kemudian saya dipanggil Abu Hurairah”. Semasa kecil, Abu Hurairah menggembalakan kambing milik keluarganya dan bermain bersama kucingnya. Dikatakan bahwa sebenarnya ia tidak suka dipanggil dengan nama Abu Hurairah, karena Nabi sendiri memberinya gelar Abu Hirrin.[1]
Abu Hurairah hijrah dari Yaman ke Madinah pada malam penaklukkan Khaibar, yaitu tahun 7 H. Ia telah masuk Islam di Yaman di bawah bimbingan Thufail bin ‘Amru. Sesampainya di Madinah, ia shalat shubuh di belakang Siba’ bin ‘Arqathah yang oleh Rasulullah saw dijadikan sebagai gubernur Madinah selama Perang Khaibar.[2] Beliau adalah seorang yang paling kuat hafalannya dalam meriwayatkan suatu hadits, meskipun intensitas kebersamaan beliau dengan Nabi saw amat sedikit, ini dikatakan Imam Syafi’i dan yang lainnya. Hal demikian terjadi karena beberapa faktor, yaitu:[3]
(1)   Ketekunan Abu Hurairah sendiri dalam menghadiri setiap majelis Nabi saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dan yang lainnya, Abu Hurairah berkata: “Kalian beranggapan bahwa Abu Hurairah (maksudnya dirinya sendiri) banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan Allah sajalah yang memberi janji, aku adalah seorang miskin yang selalu menyertai Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dengan perut cukup berisi makanan pokok saja, kaum muhajirin selalu disibukkan oleh perdagangan di pasar-pasar sedang orang anshar disibukan oleh pengelolaan hartanya, maka suatu hari kusaksikan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: 'Siapa yang mau membentangkan kainnya hingga aku menuntaskan ucapanku kemudian ia menggenggamnya dan tidak akan pernah lupa terhadap sesuatu yang ia dengarkan dariku? Spontan aku hamparkan kain yang ada padaku, Demi Dzat yang mengutusnya dengan kebenaran, aku tak pernah lagi melupakan suatupun yang aku dengar darinya.”[4]
(2)   Hasrat yang amat besar yang dimiliki Abu Hurairah dalam mencari ilmu sehingga memperoleh do’a dari Nabi saw agar ia (Abu Hurairah) tidak pernah lupa akan ilmunya. Ia pun melampaui teman-teman semasanya dalam memperoleh hadits Nabi saw, padahal ia hanya menemani Nabi selama 3 tahun (pendapat lain mengatakan 4 tahun).[5]
(3)   Abu Hurairah mendekati para sahabat senior (kibar al-shahabah) dan menimba dari mereka berbagai hal tentang hadits, sehingga sempurnalah ilmunya dan wawasannya dalam hadits pun makin meluas.
(4)   Sepanjang hidupnya ia gunakan untuk menyebarkan hadits Nabi kepada seluruh umat, tanpa mengaharapkan kedudukan dan penghormatan.
Berkaca pada beberapa faktor di atas, disimpulkan bahwa Abu Hurairah merupakan sahabat yang paling banyak menghafal hadits hingga menggungguli mereka dalam hal menerima (al-tahammul) dan meriwayatkan (al-ada`) hadits secara bersamaan. Bahkan dikatakan bahwas setiap hadits yang ia riwayatkan memberikan pengaruh tersendiri pada  semua sahabat. Oleh karena itu, mereka selalu merujuk sebuah hadits kepada Abu Hurairah, serta menyandarkan pada periwayatannya, sehingga Ibnu ‘Umar berdo’a di hadapan jenazahnya setelah ia wafat: “Dia (Abu Hurairah) selalu menjaga hadits Nabi saw kepada kaum muslimin”. Imam Bukhari mengaatakan bahwa lebih dari 800 orang periwayat yang meriwayatkan hadits darinya, termasuk di dalamnya para sahabat, tabi’in dan lainnya.[6] Dari sinilah terlihat peran penting beliau dalam memelihara dan mengembangkan hadits.
Pada saat Rasulullah saw masih hidup, beliau mengutus Abu Hurairah ke Bahrain untuk menyebarkan Islam, memberi pemehaman kepada umat muslim, dan mengajarkan mereka tentang urusan-urusan keagamaan, menyampaikan hadits Rasulullah saw, serta menetapkan fatwa. Pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khattab, ia dijadikan sebagai gubernur Bahrain. Lalu, ‘Umar menyerahkan 10 ribu dinar sambil mengatakan: “apakah kamu berkuasa penuh terhadap harta ini, wahai musuh Allah dan kitab-Nya?” Abu Hurairah pun menjawab: “saya bukanlah musuh Allah dan kitab-Nya, tetapi saya musuh bagi orang yang berpaling dari keduanya.” ‘Umar bertanya lagi: “lalu dari mana engkau mendapatkannya?” Ia menjawab: “ini hasil dari kuda peliharaan dan budakku, serta hadiah yang diberikan orang.[7]
Meskipun Abu Hurairah merupakan sahabat yang paling banyak meriwa-yatkan hadits, namun ia juga menerima riwayat dari para sahabat yang menjadi gurunya, di samping Rasulullah saw. Di antara guru-gurunya dari kalangan sahabat adalah: Abu Bakar, ‘Umar bin Khattab, Fadl bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, Ubayy bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, A’isyah Ummul Mukminin, Bashrah bin Abi Bashrah, serta dari seorang tabi’in, Ka’ab al-Hibr.[8]
Di samping itu, Abu Hurairah memiliki murid dari kalangan sahabat, yaitu: Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik, Watsilah bin al-Asqa’, Jabir bin Abdullah al-Anshari dan Abu Ayyub al-Anshari. Adapun dari kalangan tabi'in, antara lain: Basyir bin Nahyak, al-Hasan al-Bashri, Zaid bin Aslam, Zaid bin Abi ‘Itab, Sa’id bin Yasar, Sa’id bin al-Musayyab, ‘Abdul Aziz bin Marwan, ‘Atha` bin Yassar, Muhammad bin Muslim al-Zuhri, Marwan bin al-Hakam, Hammam bin Munabbih (ia menulis shahifah masyhurah, sejenis buku autobiografi tentang Abu Hurairah), dan lain sebagainya.[9]
Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu wafatnya Abu Hurairah. Hisyam bin ‘Urwah mengatakan bahwa Abu Hurairah beserta istri Nabi saw, A’isyah meninggal pada tahun 57 H. Pendapat ini dianut juga oleh al-Mada’ini dan Ibn al-Madini. Berbeda dengan Abu Ma’syar, ia mengatakan bahwa Abu Hurairah wafat pada tahun 58 H. Sedangkan menurut al-Waqidi, ia wafat pada tahun 59 H, pada usia 78 tahun.[10]

2.    Anas bin Malik (10 SH – 93 H)
Nama lengkapnya adalah Anas bin Malik bin Nadhr bin Dhamdham al-Anshari al-Khazraji al-Najjari, pembantu Rasulullah dan penduduk Bashrah.[11] Ibunya bernama Ummu Sulaim binti Mulhan, ia menghadap kepada Rasulullah saw di Madinah dengan membawa anaknya, dan berkata: “wahai Rasulullah, anak ini akan melayanimu.” Rasulullah saw pun menerima anak tersebut yang tak lain Anas bin Malik, dan beliau saw sangat menyukainya.[12]
Anas bin Malik banyak meriwayatkan hadits selain dari Rasulullah saw, juga dari para sahabat seperti Abu bakar, Umar, Utsman, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Rawahah, Fathimah Zahra`, Abdurrahman bin ‘Auf dan sahabat lainnya. Adapun yang mengambil riwayat darinya yakni: al-Hasan, Sulaiman al-Taimi, Abu Qilabah, Abu Majlaz, Abdul Aziz bin Shuhaib, Ishaq bin Abi Thalhah, Abu Bakar bin Abdullah, Qatadah, Tsabit al-Banani, Muhammad bin Sirin, Anas bin Sirin, Ibnu Syihab al-Zuhri, Rabi’ah bin Abdurrahman, Yahya bin Sa’id al-Anshari, dan lain sebagainya.[13]
Beliau adalah seorang ahli ibadah dan sedikit bicara. Abu Hurairah pun berpendapat tentang beliau: “aku tidak pernah melihat seorang yang shalatnya menyerupai shalat Nabi saw, selain Ibnu Ummi Sulaim (Anas bin malik)”. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, ia diutus ke Bahrain untuk mengurus zakat dari masyarakat di sana. Kemudian ia menetap di Bashrah setelah terlebih dulu melawat ke Madinah. Hadits yang diriwayatkan darinya sejumlah 2286 hadits, 318 hadits diriwayatkan oleh Syaikhani, namun yang disepakati oleh keduanya hanya 168 hadits. Adapun yang hanya disepakati oleh al-Bukhari sebanyak 80 hadits, dan oleh Muslim sebanyak 70 hadits.[14]
Anas bin Malik adalah sahabat ketiga yang banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah dan Abdullan bin ‘Umar.[15] Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Bashrah, tahun 93 H, lalu dimakamkan di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Qashr Anas.[16] Anas bin Malik adalah sahabat terakhir yang meninggal di kota ini.[17]

3.    Ibnu Syihab al-Zuhri (50 H - 124 H)
a)    Biografi Singkat
Beliau bernama Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin Harits bin Zuhrah al-Qurasy al-Zuhri al-Madani. Beliau tinggal di Syam. Orang-orang kadang memanggilnya dengan nama al-Zuhri atau Ibnu Syihab yang dinisbahkan kepada kakek buyutnya. Ia termasuk kepada golongan tabi’in kecil (shighar al-tabi’in).[18]
Al-Zuhri dilahirkan pada tahun 50 H pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Diriwayatkan bahwa ia diutus Mu’awiyah kepada Marwan bin Hakam, tahun 64 H. Beliau adalah seorang pemuda yang penuh dengan mimpi. Sepanjang hidup, ayahnya mendukung Abdullah bin Zubair dalam melakukan pemberontakan terhadap Abdul Malik bin Marwan. Kemudian al-Zuhri diutus kepada Abdul Malik setelah kematian ayahnya. Ini terjadi pada tahun 82 H.[19]

b)   Rihlah Keilmuan
Al-Zuhri menyelesaikan hafalan al-Qur’a dalam 80 hari. Ia mulai belajar hadits pada akhir-akhir masa sahabat dengan menghabiskan waktu lebih dari 20 tahun. Al-Zuhri banyak meriwayatkan hadits dari para sahabat, misalnya dari Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Sahal bin Sa’d, Abu Thufail, Miswar bin Mukhramah, dan lainnya. Adapun dari kalangan tabi’in senior, ia meriwayatkan dari Abu Idris al-Khaulani, Abdullah bin Harits bin Naufal, Hasan dan Abdullah (anak dari Muhammad bin Hanafiyah), Harmalah budak Usamah bin Zaid, Ubaidullah – Abdullah dan Salim (anak dari Ibnu Umar), Abdul Aziz bin Marwan, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, Sa’id bin Musayyab, dan lainnya.[20]
Al-Zuhri adalah seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam belajar, ia menanyakan tentang apa-apa yang ingin ia ketahui. Bahkan khalifah Abdul Malik pernah menyuruhnya untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Abdul Malik berkata: Carilah ilmu dan jangan menyibukkan suatu apapun selain darinya. Sungguh saya melihat kamu memiliki dua mata yang selalu terjaga dan hati yang cerdas. Maka datangilah kaum Anshar di rumah-rumah mereka.
Diceritakan bahwa al-Zuhri selalu mencatat sebuah hadits saat hendak menghafalnya. Setelah hafal betul, lalu ia menghapusnya. Ia termasuk pemuda yang rajin dalam mendalam hadits dan sering mengikuti berbagai halaqah para ulama hadits. Dalam hal ini Abu Zinad mengatakan: “kami mencatat yang halal dan yang haram, namun al-Zuhri mencatat setiap apa yang ia dengar, dan saat saya meminta hujjah padanya, saya baru tahu bahwa ia sepintar-pintarnya manusia.[21]

c)    Al-Zuhri dan Peranannya dalam Hadits[22]
·      Al-Zuhri adalah orang pertama yang menerima perintah dari khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk membukukan hadits.[23] Ia mengumpulkan hadits-hadits dalam berbagai buku catatan. Khalifah lalu membagikan masing-masing satu catatan ke setiap wilayah di bawah kekuasaannya. Para ulama sepakat bahwa orang pertama yang mengumpulkan hadits secara resmi adalah al-Zuhri.
·      Dedikasi al-Zuhri dalam mengumpulkan hadits, bisa dikatakan bahwa tanpa beliau hadits-hadits akan hilang. Al-Laits bin Sa’id berkata: Sa’id bin Abdurrahman telah meriwayatkan padaku: “wahai bapaknya Harits, kalau bukan karena Ibnu Syihab, sunah-sunah Nabi saw akan musnah.
·      Al-Zuhri adalah orang yang sangat serius dan teliti dalam menyebutkan sebuah isnad, bahkan ia menganjurkan pada para ulama dan pencari ilmu untuk bisa membiasakannya.
·      Al-Zuhri menganjurkan para pencari ilmu untuk mempelajari hadits lalu mengajarkannya kepada sesama.
Al-Zuhri wafat pada malam Selasa (yakni malam ke-19 setelah berakhir-nya bulan Ramadhan) tahun 124 H, di Desa Adamiy. Ia mewasiatkan agar jenazahnya dimakamkan di pinggir jalan agar setiap ada orang yang lewat bisa mendo’akannya.[24]


4.    Imam Bukhari (194 H - 256 H)
Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ja’fi al-Bukhari. Ia dilahirkan pada hari Jum’at 13 Syawwal 194 H, di Bukhara. Ayahnya seorang ulama besar yang banyak meriwayatkan hadits, namun ia meninggal saat al-Bukhari masih kanak-kanak. Pada tahun 210 H, ia bersama ibu dan saudaranya pergi ke Hijaz (Makkah) untuk menunaikan ibadah haji. Ia menetap di Madinah untuk menulis kitab sejarah di samping kuburan Nabi saw yang dinamai al-Tarikh al-Kabir.[25]
Al-Bukhari termasuk orang yang cerdas dan memiliki hafalan yang sangat kuat. Ia menghafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih. Dia pergi mencari hadits kepada imam-imam hadits di berbagai negeri, seperti Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Syam, Hims, ‘Asqalan dan Mesir. Berkat kesabaran, kecerdasan dan kecintaannya terhadap ilmu, ia mencapai derajat tertinggi dalam hadits dengan gelar Imam al-Mu’minin fi al-Hadits atau Amir al-Mu’minin fi al-Hadits.[26]
Di antara guru-guru al-Bukhari yaitu: Abū 'Aṣim al-Nabīl,  Makkī bin Ibrahīm, Muḥammād bin 'Īsā, ‘Ubaidullāh bin Mūsā,  Muḥammād bin Salām, Aḥmād bin Ḥanbāl, Isḥāq bin Manṣūr, ‘Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma’in, Ibnu Rahawaih, dan lainnya.[27] Guru-guru yang diriwayatkan dalam kitabnya sebanyak 289 orang.[28] Adapun murid-murid al-Bukhari diperkirakan tidak kurang dari 90.000 orang. Di antara mereka yang terkenal adalah Muslim bin al-Hajjaj, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Abu Dawud, Ibrahim bin Ma’qal, Hammad bin Syakir, Manshur bin Muhammad, dan lainya.[29]
Al-Bukhari termasuk ulama yang sangat produktif. Di antara kitab yang ditulisnya adalah: Ṣaḥīh Bukhāri, al-Adāb al-Mufrād, al-Tarīkh al-Ṣagīr, al-Tarīkh al-Awsaṭ, al-Tarīkh al-Kabīr, al-Tafsīr al-Kabīr, al-Musnād al-Kabīr, Kitāb al-'Ilāl, Raf'ūl Yadain fī al-Ṣalāḥ, Birru al-Wālidain, Kitāb al-Asyribah, al-Qirā`ah Khalfa al-Imām, Kitāb al-Ḍu'āfa, Usami al-Ṣaḥābah, Kitāb al-Kuna, al-Ḥibbah, al-Wiḥdān, al-Fawa`id,  Qaḍāya al-Ṣaḥābah wa al-Tabī'in dan Masyīkhah.[30] Ia wafat di desa Khartank, dekat Samarkand, pada tanggal 30 Ramadhan 256 H (31 Agustus 870 M).[31]

5.    Imam Muslim (204 H – 261 H)
Nama lengkapnya Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi. Al-Qusyairi adalah nisbat kepada sebuah kabilah arab yang cukup di kenal, yakni Bani Qusyair.[32] Sedangkan al-Naisaburi dinisbahkan pada tempat kelahirannya, yaitu kota Naisabur, bagian dari Persia yang sekarang manjadi bagian dari Rusia.[33]
Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat mengenai waktu lahir dan wafat Imam Muslim. Ibnu Hajar dalam Taqrib al-Tahdzib dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah mengatakan bahwa Imam Muslim dilahirkan tahun 204 H dan wafat tahun 261 H.[34] Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa ia dilahirkan tahun 206 H dan wafat tahun 261 H, di Naisabur. Hal ini dikatakan oleh Abu Abdillah al-Hakim al-Naisaburi dalam kitab Ulama’ al-Amshar, yang juga disetujui al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Imam Muslim mulai belajar hadits sejak usia 12 tahun. Sejak saat itu banyak sekali perjalanan yang telah beliau lakukan. Beliau belajar hadits ke Khurasan dan mendengar hadits dari Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawih dan lain-lain. Belaiu juga pernah di Ray dan mendengar hadits dari Muhammad bin Mahran, Abu Ghassan dan lainnya. Di Hijaz beliau mendengar hadits dari Sa’id bin Manshur, Abu Mash’ab dan lainnya. Di Iraq mendengar hadits dari Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Di Mesir beliau mendengar hadits dari Amr bin Sawad, Hamalah bin Yahya dan beberapa orang lainnya.[35] Sedangkan periwayat yang menerima riwayatnya yaitu: al-Tirmidzi, Abu Hatim al-Razi, Ahmad bin Salamah, Musa bin Harun, Yahya bin Sa’id, Abu ‘Awanah Ya’kub bin Ishaq, Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra’, Ali bin al-Husain bin Sufyan, dan lainnya.[36]
Imam Muslim dikenal memiliki tingkat hafalan yang tinggi. Ia juga menulis banyak karya yang dijadikan pegangan para ulama sesudahnya. Di antara karya-karyanya yang terkenal adalah al-Jami’ al-Shahih, Musnad al-Kabir, al-Jami’ al-Kabir, Kitab al-‘Ilal wa Kitab Auham al-Muhadditsin, Kitab al-Tamyiz dan Kitab al-Muhadlramin. Dari karya-karyanya ini, yang paling terkenal adalah kitab al-Jami’ al-Shahih atau dikenal dengan Shahih Muslim.[37]

C.  Penutup
Hadits, bagaimanapun, telah mengalami proses kesejarahan yang cukup panjang, dimulai sejak era Kenabian yang masih berada di bawah bimbingan dan pengawasan Nabi saw sendiri, kemudian dilanjutkan oleh generasi sahabat, tabi’in sehingga bisa sampai kepada kita saat ini. Demi menjaga orisinalitas hadits tersebut, para ulama, bahkan sudah dipelopori oleh para sahabat sendiri, mereka di samping menghafal hadits-hadits, juga mencatatnya walau hanya untuk diri sendiri.
Pada perkembangan selanjutnya, hadits Nabi saw baru pertama kali dibukukan pada masa tabi’in, yakni oleh Ibnu Syihab al-Zuhri atas perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Bukan bermaksud menafi’kan peran tokoh-tokoh ulama hadits lainnya, namun di sini saya lebih mengapresiasi peran dari keduanya (al-Zuhri-Abdul Aziz) atas jasa mereka dalam membukukan hadits sehingga dapat menginspirasi para ulama hadits berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Khathib, Muhammad ‘Ajjaj al-. al-Sunnah Qabla al-Tadwin. Kairo: Maktabah Wahbah, 1988.
Khathib, Muhammad ‘Ajjaj al-. ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu. Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
Zahw, Muhammad Muhammad Abu. al-Hadits wa al-Muhadditsun. Riyadh: al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Su’udiyah, 1984.
Shalih, Subhi As-. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002.
Bukhari, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-. Shahih al-Bukhari, Bab Bad`i al-Wahy, Hadits Nomor 6807, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Hajjaj, Muslim bin al-. Shahih Muslim, Bab Min Fadha`il Abi Hurairah al-Dawsi ra, Hadits Nomor 4549, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
Marzuki. “Kritik Terhadap Kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim” dalam Jurnal HUMANIKA Vol. 6 No. 1, Maret 2006.
Solahuddin, M. & Agus Suyadi. Ulumul Hadits. Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Syahbah, Muhammad Abu. Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shahhah al-Sittah. Kairo: al-Buhuts al-Islamiyyah, 1969.
Khon, Abdul Majid. Ulumul Hadits. Jakarta: Amzah, 2010.
Azami, M. Studies in Hadith Methodology and Literature. terj. Meth Kieraha. Jakarta: Lentera, 2003.
Asse, Ambo. Ilmu Hadits: Pengantar Memahami Hadits Nabi saw. Makassar: Alauddin Press, 2010.
Nurhaedi, Dadi. Shahih Muslim”, dalam M. Alfatih Suryadilaga (ed.). Studi Kitab Hadits. Yogyakarta: Teras, 2009.







[1] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin (Kairo: Maktabah Wahbah, 1988), hlm. 411.
[2] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 412.
[3] Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun (Riyadh: al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Su’udiyah, 1984), hlm. 132-134.
[4] Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab Bad`i al-Wahy, Hadits Nomor 6807, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist. Lihat juga, Muslim bin al Hajjaj, Shahih Muslim, Bab Min Fadha`il Abi Hurairah al-Dawsi ra, Hadits Nomor 4549, dalam Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
[5] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 412.
[6] Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 134.
[7] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 414.
[8] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 429.
[9] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 429-430.
[10] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 418-419. Abu Zahw berpendapat bahwa Abu Hurairah wafat di Madinah pada tahun 57 H, pada usia 78 tahun. Lihat, Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 134.
[11] Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 137.
[12] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 472.
[13] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 472.
[14] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 473. Data ini berbeda dengan Abu Zahw, ia mengatakan bahwa Anas bin Malik meriwayatkan hadits sebanyak 1286, disepakati oleh Syaikhani sebanyak 186 hadits, hadits yang hanya disepakati al-Bukhari sebanyak 83 hadits, dan hadits yang hanya disepakati Muslim sejumlah 71 hadits. Lihat, Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 137.
[15] Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 149.
[16] Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 137.
[17] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 473.
[18] Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 174.
[19] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 489.
[20] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 490.
[21] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 491.
[22] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 494-496.
[23] Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 175.
[24] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin..., hlm. 500. Abu Zahw berpendapat bahwa al-Zuhri dimakamkan di Syaghabda, salah satu nama desa di Syam. Lihat, Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun..., hlm. 175.
[25] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 310. Lihat juga, Marzuki, “Kritik Terhadap Kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim” dalam Jurnal HUMANIKA Vol. 6 No. 1, Maret 2006, hal. 26-38.
[26] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 310.
[27] M. Solahuddin & Agus Suyadi, Ulumul Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 231.
[28] Muhammad Abu Syahbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shahhah al-Sittah (Kairo: al-Buhuts al-Islamiyyah, 1969), hlm. 49.
[29] Muhammad Abu Syahbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub ..., hlm. 50. Lihat juga, Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 259.
[30] M. Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature, terj. Meth Kieraha (Jakarta: Lentera, 2003), hlm. 155.
[31] Ambo Asse, Ilmu Hadits: Pengantar Memahami Hadits Nabi saw (Makassar: Alauddin Press, 2010), hlm. 223-225.
[32] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), hlm. 366.
[33] Dadi Nurhaedi, “Shahih Muslim”, dalam M. Alfatih Suryadilaga (ed.), Studi Kitab Hadits (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 56.
[34] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 314. Lihat juga, Marzuki, “Kritik Terhadap Kitab ..., hal. 26-38.
[35] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits..., hlm. 367.
[36] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits..., hlm. 367.
[37] Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, ‘Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu..., hlm. 315.

1 comment: